Khutbah ‘Iedul Adha

Ikhwatal Islam

Idul Adha berkaitan dengan kisah perjuangan Nabi Ibrahim yang telah rela mengorbankan anaknya yang tercinta, dan ada  pelajaran yang agung di balik kisah tersebut bagi kaum muslimin, yaitu faktor yang mendorong muculnya ketaatan tersebut yaitu sifat penyerahan diri yang tulus hanya kepada Allah, menggantungkan asa dan harapan hanya kepada Allah, takut, patuh dan tunduk hanya kepada Allah, menyerahkan segala macam ketundukan dan ibadah hanya kepada Allah.

Inilah yang Allah juga perintahkan pada kita semua ummat Muhhammad. Allah berfriman:

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لاَ تُنْصَرُونَ

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (QS. Az-Zumar: 54).

Kembalilah dan berserahdirilah pada Allah wahai kaum muslimin, kaum yang menyerahkan dirinya kepada Allah.

Jangan gantungkan asa dan harapan kepada para penunggu gunung, jangan takut terhadap para penunggu lautan, penunggu tempat-tempat angker maupun keramat. Sehingga muncul penyembahan, sesajen maupun penyembelihan untuk mereka. Jangan bernadzar pada para makhluk walupun setinggi apapun kedudukan mereka di sisi Allah, karena yang mendatangkan manfaat dan kemudharatan hanya Allah.

Rasulullah bersabda:

وَاعْلَمْ : أنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبهُ اللهُ لَكَ ، وَإِن اجتَمَعُوا عَلَى أنْ يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

“Dan ketahuilah: seandainya seluruh ummat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberimu suatu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan padamu, mereka tidak akan bisa mencelakakanmu kecuali dengan seuatu yang telah Allah tulis atasmu. (HR. at-Tirmidzi).

Kaum Muslimin

Diantara fenomena ketidak sempurnaan penyerahan diri sebagain orang ditengah-tengah masyarakat kita, adanya sebagian orang yang masih percaya ramalan bintang, zodiak dan semisalnya. Padahal Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibnu Majah:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan mempercayai apa yang diucapkannya maka ia telah kufur (ingkar) terhadap wahyu yang diturunkan pada Muhammad.

Kaum muslimin

Marilah kita realisasikan sifat penyerahan diri yang sempurna sebagaimana gelar muslim yang menempel pada diri kita masing-masing, marilah kita mengikuti millah Nabi Ibrahim. Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 78:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia lah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.

Kaum Muslimin

Pada hari ini kita berkumpul bersama di satu tempat, menghidupkan salah satu syiar agama kita, berbaris bersama, shalat bersama, takbir bersama, agar kita semua merasakan semangat persatuan, semangat kebersamaan, agar kita tidak terpecah belah. Allah dalam surat Ali Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah.

Allah memerintahkan kita semua agar sama-sama berpegang pada tali agama Allah, bersatu di atas tali agama Allah. Imam Muslim meriwayat, bahwa Rasulullah bersabda:

كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ مَنِ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلاَلَةٍ

Kitabullah (al-Quran) adalah tali agama Allah, barang siapa yang mengikutinya maka ia akan berada di atas petunjuk dan barang siapa yang meninggalkannya maka ia di atas kesesatan.

Al-Quran telah diturunkan pada nabi kita Muhammad dan Allah juga lah yang telah menjelaskan pada beliau kandungan al-Quran tersebut. Allah berfirman dalam surat al-Qiyamah ayat 19:

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasan al-Quran itu.

Kemudian penjelasan tersebut Rasulullah tuangkan dalam bentuk ucapan maupun contoh praktek dari beliau sendiri maupun para sahabat beliau. Lalu diriwayatkan dalam bentuk hadits dan atsar yang shahih oleh para imam kaum muslimin.

Oleh karena itu al-Imam Asy-Syafi’I memberi contoh pada kita cara berpegang teguh pada al-Quran, tali agama Allah, beliau berkata:

آمنت بالله وبما جاء عن الله على مراد الله

Aku beriman pada Allah dan apa yang datang dari Allah sesuai dengan keinginan Allah.

Kaum Muslimin

Allah dalam firman-Nya

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

Melarang kita berpecah belah, bercerai berai. Rasulullah memberi kita beberapa resep agar kita tidak bercerai berai, beliau bersabda dalam wasiat perpisahan beliau, yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan ad-darimi dari sahabat al-Irbadh bin Sariyah, Rasulullah bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا ، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »

Aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa pada Allah, mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang hamba sahaya. Dan sesungguhnya siapa yang hidup lebih lama diantara kalian, akan melihat perselisiha yang banyak, maka hendaknya ia berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. Dan waspadalah kalian dari perkara-perkara yang baru karena setiap bid’ah itu sesat.

Wasiat ini adalah wasiat perpisahan yang tentunya sarat makna dan sangat penting.

Beliau mewasiatkan kita agar bertaqwa dan suka mendengar dan taat pada para penguasa, walaupun yang menjadi penguasa itu seorang budak yang tentu sama sekali tidak berhak dan tidak sah menjadi penguasa, walupun demikian beliau tetap memerintahkan kita agar taat dan mendengar perkataan mereka.

Lalu beliau mewanti-wanti bahwa sepeninggal beliau akan terjadi perselisihan yang banyak, namun beliau memberi jalan keuar dan cara untuk menghindarinya, cara untuk menjaga persatuan. Yaitu berpegang teguh pada sunnah Rasulullah pada petunjuk dan cara beragama Rasulullah dan cara bergamanya para khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk. Cara beragama para sahabat satu walaupun mereka berselisih dalam beberapa masalah yang bersifat cabang. Cara beragam Rasulullah dan para sahabat sama dan cara beragama seperti inilah kita diperintahkan untuk berpegang teguh, kita diperintahkan untuk menggigitnya dengan gigi geraham kita, agar tidak terlepas walaupun terjadi kekacauan yang menghilangkan anggota badan kita ataupun nyawa kita.

Kemudian Rasulullah mewanti-wanti kita agar waspada terhadap faktor utama yang menimbulkan perpecahan. Yaitu perkara-perkara baru dalam agama, cara-cara beribadah baru yang tidak pernah dipraktekkan oleh Rasulullah maupun para sahabatnya,  inilah yang disebut bid’ah. Bid’ah adalah faktor utama terjadinya perpecahan karena orang yang melakukan bid’ah merasa bahwa perbuatan mereka benar, lalu ia berusaha mengajak orang melakukan seperti apa yang ia lakukan dan timbulah kelompok baru yang beribadah dengan cara baru yang menyempal dari kelompok yang beribadah dengan caranya Rasulullah yaitu kelompok pertama dalam tubuh ummat Islam yang terdiri dari para sahabat, imam-imam kaum muslimin dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kaum muslimin

Inilah ciri dakwah yang mengajak pada persatuan yang sesungguhnya. Dakwah yang mengajak manusia agar memurnikan ibadah hanya untuk Allah, menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah, menggantungkan asa dan harapan hanya kepada Allah. Mewanti-wanti manusia dari perbuatan yang dapat menodai gelar mereka sebagai seorang muslim, yaitu perbuatan syirik. Dakwah yang mengajak manusia untuk mengikuti Rasulullah dalam beribadah dan mewanti-wanti mereka dari segala macam cara baru dalam beribadah yang tidakpernah dicontohkan oleh Rasulullah maupun para sahabat.

Dakwah seperti ini lah yang mestinya kita dukung, kita permudah, bukannya dipersulit dan dihalangi. Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, apa salah mereka yang mendakwah kemurnian ibadah dalam hal tujuan maupun cara? Mendakwhakan tauhid dan cara beribadahnya Rasulullah? Mendakwahkan persatuan yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kaum Muslimin

Jangan ragu mendukung kebenaran, karena agama kita jika sudah menyatakan sesuatu itu haram maka tidak mungkin di saat yang sama menyatakannya sebagai hal yang halal, kebenaran hanya satu. Allah berfirman dalam surat Yunus 32:

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ

Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.

Ikhwatal Islam

Salah satu yang ingin saya ingatkan pada kesempatan yang mulia ini, bahwa ziarah kubur adalah sunnah Rasulullah. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عن زِيَارَةِ القُبُورِ فَزُوروها

“Dulu aku melarang kalian ziarah kubur, maka sekarang ziarahilah.”

Ziarah kubur boleh dilakukan kapan saja, namun mengkhususkannya pada hari tertentu atau karena sebab tertentu seperti setelah ied atau sebelum dan sepulang haji, tidaklah pernah dicontohkan oleh Rasulullah maupun para sahabatnya. Ziarah kubur adalah sebuah ibadah yang mengingatkan kita akan kematian, dan mari ibadah ini kita lakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Kaum Muslim mari kita bahu membahu, meninggikan kalimat:لا إله إلا الله محمد رسول الله .

Mari kita halangi setiap seruan yang mengajak pada kesyirikan dan bid’ah, untuk keselamatan ummat islam. Mari kita ikuti contoh yang diberikan oleh Nabi Ibrahim dan para pengikut beliau sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat al-Mumtahanah 4:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.

Jangan biarkan diri kita, anak dan isteri kita ikut meramaikan acara-acara kesyirikan seperti ogoh-ogoh dll, walaupun hanya dengan menonton saja.

Terakhir saya tujukan nasehat berikut untuk ibu-ibu dan calon ibu-ibu kaum muslimin, setengah masyarakat islam yang akan melahirkan setengah masyarakat islam lainnya.

Hendaknya mereka bertaqwa pada Allah, hendaknya mereka menjaga shalat mereka, menjaga diri dan kehormatan mereka serta taat dan patuh pada suami-suami mereka. Hendaknya mereka memakai jilbab, karena Allah telah mewajibkan mereka untuk memakainya. Allah berfirman dalam surat al-Ahzab 59:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”

Janganlah mereka terbuai dengan selogan dan seruan musuh-musuh islam yang menghendaki mereka menjual murah kehormatan mereka bak barang rongsokan dipinggir jalan, seperti apa yang telah mereka lakukan di media-media masa. Wanita muslimah di masyarakat islam bak mutiara mahal yang tak akan terbeli kecuali dengan akad dan syariat Allah yang suci.

Betapa mudahnya wanita muslimah masuk surga. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban:

“إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا : ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita shalat ima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan padanya: masuklah dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.”

Janganlah ia membuat marah suaminya, membuat suaminya tidak ridha padanya, karena Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwyatkan oleh Imam an-Nasai, al-Hakim, al-baihaqi dan Ahmad:

انْظُرِى أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Lihatlah posisi (sikapmu)mu terhadap suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu.”

Hendaknya wanita muslimah mementingkan tugas di rumah sebagai ibu rumah tangga, yang mengurus suami dan anak-anak mereka, karena itulah kewajiban mereka yang utama. Tugas wanita muslimah amatlah penting, merekalah yang membentuk kepribadian anak-anak islam, calon masyarakat dan pemimpin Islam di kemudian hari, merekalah yang menentramkan, melayani dan membangun kembali semangat suami mereka, sehingga tegar dalam berjuang membela Islam.

Oleh karena itu hendaknya mereka berbekal diri dengan ilmu agama, jangan karena merasa sudah tahu akhirnya meremehkan firman Allah dan sabda Rasulullah yang disampaikan dalam ceramah-ceramah dengan banyak berbicara dan bersenda gurau.

Hendaknya mereka berbekal diri dengan rasa kasih sayang dan lemah lembut dalam menjalankan tugas mereka, terutama dalam tugas mendidik. Karena pendidikan dan dakwah Islam dibangun di atas kasih sayang dan kelemah lembutan.

Janganlah mereka menggunakan lisan mereka untuk membicarakan keburukan orang lain dan menyebar fitnah atau tuduhan dusta sehingga merusak keharmonisan rumah tangga orang lain.

Akhirnya marilah kita berdoa pada Dzat Yang Maham Mengabulkan doa:

اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

اللهم أعز الإسلام والمسلمين ، وأذل الشرك والمشركين ، واحم حوزة الدين ، وانصر عبادك الموجدين وعبادك المجاهدين.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات

اللهم أمنا في أوطاننا وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك يا رب العالمين

اللهم وفق ولي أمرنا لما تحب وترضى وخذ بناصيته للبر والتقوي يا ذا الجلال والإكرام

اللهم ألف بين قلوبنا وأصلح ذات بيننا واجمع كلمتنا على توحيدك وطاعتك واتباع سنة رسولك واهدنا لما اختلف فيه من الحق بإذنك إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Leave a Comment