al-Walaa’ & al-Baraa’

Kedua: al-Walaa’ adalah saling menyayangi sesama mukmin, di sisi lain al-Baraa’ adalah bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad sebagai utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras (dan tegas) terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” [QS. al-Fath: 29]

Ketiga: al-Baraa’ adalah sikap anti mengangkat orang-orang kafir sebagai wakil atau penolong (apalagi sebagai pemimpin), serta berhijrah (berlepas diri) dari komunitas kafir (kesyirikan) menuju komunitas Islam (keimanan).

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Mereka (orang-orang kafir) ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kalian menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kalian jadikan di antara mereka Wali (penolong-penolong) kalian, sampai mereka berhijrah pada jalan Allah…” [QS. an-Nisaa’: 89]

Keempat: al-Baraa’ adalah tidak mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka adalah keluarga kita yang terdekat.

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka…” [QS. al-Mujaadilah: 22]

Kelima: al-Baraa’ adalah membenci dan berlepas diri dari orang-orang kafir, membenci dan berlepas diri dari sesembahan mereka, termasuk aqidah mereka, ritual, tradisi dan gaya hidup yang merupakan kosekuensi kesesatan aqidah mereka.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman (dengan tauhid) kepada Allah saja…” [QS. al-Mumtahanah: 4]

Ayat-ayat yang berbicara tentang prinsip al-Walaa’ wal Baraa’ sangatlah bertebaran di dalam al-Qur-aan. Menunjukkan betapa urgennya prinsip ini sehingga wajib tertanam di hati-hati kaum muslimin. Syaikh Hamd bin ‘Atiiq rahimahullah mengatakan:

إنه ليس في كتاب الله تعالى حكم فيه من الأدلة أكثر ولا أبين من هذا الحكم – أي الولاء والبراء – بعد وجوب التوحيد وتحريم ضده

“Sesungguhnya tidak ada dalam al-Qur-aan, suatu hukum yang dalilnya lebih banyak (dijumpai) dalam al-Qur-aan dan lebih jelas daripada hukum ini (yakni al-Walaa’ wal Baraa’) setelah hukum tentang kewajiban tauhid dan keharaman dari lawannya (syirik).” [an-Najaatu wal Fikaak hal. 14, dinukil dari al-Walaa’ wal Baraa’ fil Islam hal. 12]

as-Sunnah Berbicara Tentang al-Walaa’ & al-Baraa’

Para ulama menegaskan bahwa al-Walaa’ & al-Baraa’ adalah prinsip yang berdiri di atas dua pondasi yaitu; cinta dan benci. Cinta pada Allah dan pada segala yang dicintai-Nya, benci pada musuh Allah dan pada segala yang dibenci-Nya. Inilah jenis kecintaan dan kebencian yang bernilai ibadah. Atas dasar ini, para ulama sering kali mengartikan al-Walaa’ & al-Baraa’ dengan ungkapan “cinta dan benci karena Allah”. [lih. al-Walaa’ wal Baraa’ fil Islaam hal. 136]

Maka jelaslah bahwa hadits berikut ini mengandung unsur-unsur terpenting dari prinsip al-Walaa’ wal Baraa’. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga perkara, jika ketiganya ada pada seseorang, maka (dipastikan) ia akan meraih manisnya iman: (Pertama) bila Allah dan Rasul-Nya, menjadi lebih ia cintai daripada selain keduanya. (Kedua) jika ia mencintai seseorang, maka ia tidak mencintainya melainkan karena Allah semata. (Dan ketiga), ia benci untuk kembali kepada kekufuran tersebut, sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api.” [Bukhari no. 16, 21, Muslim no. 43]

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam juga bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna keimanan seorang di antara kalian, sampai aku (Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam) menjadi orang yang paling ia cintai melebihi kecintaannya pada ayahnya, pada anaknya, dan manusia seluruhnya.” [Bukhari no. 15, Muslim no. 44]

Kisah Nyata: al-Walaa’ wal Baraa’ di Mata Sahabat

Rasulullah pernah memerintahkan para Sahabat untuk melakukan boikot atas Ka’ab bin Maalik radhiallahu anhu karena tidak ikut serta dalam kewajiban Jihad. Dalam masa pemboikotan, tidak seorang pun diperbolehkan menyapa Ka’ab bin Maalik radhiallahu anhu. Al-Qur-aan menggambarkan betapa dunia terasa sempit dan berat bagi Ka’ab bin Maalik t (lih. QS. at-Taubah: 118). Bahkan istrinya ikut melakukan pemboikotan.

Sampai pada suatu hari, ia berjalan di pasar Madinah, di tengah-tengah kesempitan dan kepedihan yang dirasakan Ka’ab ditambah lagi rasa bersalah kepada Allah dan Rasul-Nya, datanglah seorang petani dari negeri Syam bertanya-tanya dan mencari Ka’ab bin Maalik radhiallahu anhu. Saat bertemu, orang asing tersebut menyodorkan sebuah surat dari Raja Ghossaan (kafir) kepada Ka’ab bin Maalik radhiallahu anhu. Surat tersebut berisi:

فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي أَنَّ صَاحِبَكَ قَدْ جَفَاكَ وَلَمْ يَجْعَلْكَ اللَّهُ بِدَارِ هَوَانٍ، وَلاَ مَضْيَعَةٍ، فَالحَقْ بِنَا نُوَاسِك

“Sesungguhnya telah sampai kabar kepada kami bahwa sahabatmu (Muhammad r) telah berpaling dan memutuskan hubungan denganmu. Allah tidak akan menjadikanmu tinggal di suatu negeri dalam keadaan terhina dan terlantar, maka datanglah pada kami, kami akan menghiburmu.” [Bukhari no. 4418]

Setelah membaca surat tersebut, Ka’ab bin Maalik radhiallahu anhu berkata:

وَهَذَا أَيْضًا مِنَ البَلاَءِ، فَتَيَمَّمْتُ بِهَا التَّنُّورَ فَسَجَرْتُهُ بِهَا

“Ini juga bagian dari balaa’ (cobaan), maka aku mencari tungku api, lantas surat tersebut aku bakar.” [Bukhari no. 4418]

Inilah praktek nyata al-Walaa’ wal Baraa’ dari seorang Sahabat yang mulia. Di tengah kesempitan dan tekanan yang ia rasakan akibat pemboikotan dari saudara-saudaranya sesama mukmin, walaa’-nya terhadap Islam dan kaum muslimin, tetap menjulang tinggi mencakar langit. Kemudian renungkan betapa kokoh baraa’-nya kepada orang-orang kafir yang mengiming-iminginya kesenangan dunia.

***

Disusun dibawah bimbingan dan arahan guru kami:

al-Ustadz Zahid Zuhendra, Lc. hafizhahullaah

Penyusun:

Abdussalam (Abu Ziyan)

Sumber Bacaan:

al-Walaa’ wal Baraa’ fil Islaam min Mafaahiimi ‘Aqiidatis Salaf, Muhammad Sa’iid al-Qohthooniy, Cet.-1, Daar ath-Thoyyibah.

al-Hubbu Fillaah, Muhammad Ibrahim al-Madaniy, Cet. Daarul Imaan.

Leave a Comment