Enam Tanda Cinta yang Tulus pada Nabi

Setiap dakwaan membutuhkan pembuktian sehingga bisa dikatakan jujur, begitu juga dakwaan cinta pada Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki tanda-tanda yang menunjukkan ketulusan dakwaan cinta tersebut.

Keseluruhan tanda-tanda tersebut, setidaknya tercermin dari 6 poin berikut ini:

01 – Mengikuti Sunnah Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam

Allah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali `Imrân: 31].

Ibnu Katsîr dalam tafsirnya mengatakan:

“Ayat yang mulia ini adalah hakim bagi orang yang mendakwakan cinta kepada Allâh sementara dia tidak mengikuti jalannya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh orang tersebut telah berdusta dalam dakwaan cintanya, sampai dia mengikuti syari’at dan agama Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam pada segenap ucapan, perbuatan, dan keadaan Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana diriwayatkan dalam ash-Shahîh bahwa beliau pernah bersabda: “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan (dalam urusan agama) yang tidak ada teladannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (ringkasan ucapan Ibnu Katsîr).

Diriwayatkan oleh Abdurrahmân bin Hârits bin Abi Qurâd, beliau mengatakan:

“Suatu ketika kami bersama Nabi. Beliau meminta air untuk bersuci. Lalu beliau mencuci tangan kemudian berwudhu. Maka kami pun memperhatikan (cara) beliau (wudhu) dengan seksama. Beliau lantas mengatakan: `Mengapa kalian memperhatikan aku seperti itu?’ Kami mengatakan: `Karena cinta pada Allah dan Rasul-Nya.” [HR. Thabrani, dihasankan oleh al-Albani rahimahullâh]

02 – Banyak Menyebut-nyebut Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullâh (Wafat: 751-H) mengatakan:

“Semakin sering seorang hamba menyebut-nyebut sang kekasih (Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam), dan semakin intens seorang hamba menghadirkannya di dalam hati bersama kebaikan-kebaikan dan sifat-sifatnya yang bisa mendatangkan kecintaan padanya, maka akan semakin bertambah pula rasa cinta kepadanya.” [Jalâ-ul Afhâm hal. 447-pent]

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, bahwasanya Rasulullâh bersabda:

“Di antara umatku yang paling besar cintanya padaku adalah orang yang datang setelahku, dia sanggup mengorbankan keluarga dan hartanya demi mewujudkan angan-angan untuk bisa melihatku.” [HR. Muslim]

Menyebut-nyebut dan mengingat-ingat Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan cara menceritakan perjalanan hidup beliau, menjelaskan sunnah-sunnah dan jejak petunjuk beliau yang agung, juga dengan memperbanyak ucapan shalawat kepada beliau.

03 – Belajar al-Qur’ân dan mengamalkannya

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya al-Adâb dari Abdullah bin Mas’ûd bahwa beliau pernah mengatakan:

“Tidak ada seseorang yang sanggup bertanya perihal dirinya sendiri (terkait kadar kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya) kecuali al-Qur’ân, jika dia mencintai al-Qur’ân, maka itu pertanda dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Sudah selayaknya bagi setiap muslim, agar al-Qur’ân punya bagian yang besar dalam dirinya, yaitu dengan membacanya dengan sebenar-benar bacaan, mentadabburi ayat-ayatnya, berusaha memahami maknanya, serta mengamalkan konsekuensi ayatnya. Sebagaimana ungkapan Ibnul Qayyim:

“Seandainya manusia mengetahui apa yang ada di balik bacaan al-Qur’ân dengan tadabbur, niscaya mereka akan menyibukkan diri dengan bacaan al-Qur’ân dan mengesampingkan selainnya.” [Miftâh Dâris Sa’âdah]

04 – Selaras dengan Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam, dalam Cinta & Benci

Seseorang tidak dikatakan mencintai Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam dengan tulus, manakala ia justru mencintai apa-apa yang dibenci atau membenci apa-apa yang beliau cintai.

Bukti-bukti tentang hal ini banyak sekali. Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa mencintai `Ali t, maka sungguh dia telah mencintai aku. Dan barangsiapa yang membenci `Ali t, sungguh dia telah membenci aku.” [HR. al-Hâkim dari Salmân t]

Jadi, mencintai Sahabat dan Ahli Bait Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam beserta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan dari kalangan para ulama, ahli ibadah dan zuhud, para dermawan, dan orang-orang shalih yang berbuat kebajikan dan ihsan, semuanya termasuk dalam pengertian “mencintai orang-orang yang beliau cintai.”

Demikian pula sebaliknya, untuk orang-orang yang buruk dan mengamalkan amal-amal yang buruk, kebencian pada (perbuatan-pent) mereka termasuk dalam cakupan pengertian “membenci apa yang Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam benci”.

Adapun orang-orang beriman yang bermaksiat. Maka mereka dicintai sesuai kadar keshalihan dan iman yang ada pada mereka, dan mereka juga dibenci sesuai kadar kefasikan dan kemaksiatan mereka.

Di antara do’a agung yang dipanjatkan oleh Nabi kita shalallahu ‘alaihi wasallam adalah:

اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَاْلعَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنِيْ إِلَى حُبِّكَ

“Ya Allah, sesugguhnya aku memohon cinta-Mu dan kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu, aku juga memohon (taufik untuk mengerjakan-pent) amalan yang bisa mendekatkanku pada cinta-Mu.”

05 – Tidak Ghuluw dalam Mengagungkan Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam

Orang yang samar dalam memahami prinsip asasi yang satu ini, maka pijakannya akan terpeleset dan terjerembab ke dalam pengkultusan yang melampaui batas terhadap pribadi Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam, dengan dalih mencintai beliau. Padahal beliau sendiri dengan keras telah mewanti-wanti hal ini dalam banyak hadits yang shahih.

‘Umar t meriwayatkan bahwa Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“Jangan kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan `Isa bin Maryam u. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. Bukhari-Muslim]

06 – Menjauhi Ritual Ibadah yang Tidak Pernah Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam Tuntunkan

Sebagian manusia menyangka bahwa simbol dan cara mengekspresikan rasa cinta kepada Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan menyemarakkan amalan dan ritual-ritual bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam agama seperti perayaan hari ulang tahun kelahiran Nabi, tahun baru hijriyah, dan perayaan Isra’ Mi’raj.

Sekalipun niat mereka baik dan tulus, namun bukti cinta yang sebenarnya kepada Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mengikuti sunnah beliau dan meniti jalan yang beliau tempuh. Tidak ditemukan satu pun riwayat dari para Sahabat, Tâbi’în, Tâbi’ut Tâbi’în, atau dari Imam-Imam Madzhab yang terkenal, yang mengisyaratkan bahwa mereka pernah melaksanakan perayaan-perayaan tersebut, padahal mereka adalah manusia yang paling jujur dan mengakar cintanya kepada Rasulullah r.

Justru riwayat yang datang dari mereka adalah kecaman terhadap ritual-ritual bid’ah yang tidak ada contohnya dari Nabi. Seperti ucapan Abdullâh bin Mas’ûd t berikut ini:

“Ikutilah sunnah, jangan kalian mengada-adakan perkara yang baru dalam masalah agama. Sungguh kalian telah dicukupkan dengan sunnah, sehingga tidak perlu menambah-nambah amalan baru dalam agama ini.”

***

Diterjemahkan secara bebas dari:
Sittu Simati Shidqil Mahabbah (www.al-badr.net)

Download Buletin versi PDF

Artikel yang Anda baca ini dapat di download dalam versi Buletin PDF disini: https://www.box.com/s/87ubl6kd16ccyzpnq874

Leave a Comment