Tujuh Syarat Laa Ilaaha Illallah

Kalimat لاَ إِلهَ إِلَّا الله merupakan dasar agama Islam dan inti dari seluruh syariat Islam, kalimat ini juga yang sering kita dengar dan ucapkan. Bahkan pada zaman sekarang ini sering kita mendengar sebagian kaum muslimin mengucapkan kalimat tersebut secara spontan tanpa mereka sadari keluar dari lisan mereka. Namun yang sangat disayangkan dan memperihatinkan, kebanyakan dari mereka tidak memahami makna dan kandungan dari kalimat ini, yang kemudian sebagai penyebab mereka melanggar konsekuensi dari kalimat yang agung tersebut.

Makna kalimat la ilaha illallah

Makna Kalimat la ilaha illallah adalah لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ الله (tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah). Inilah makna sebenarnya yang telah didefinisikan oleh para ulama ahlisunnah waljama’ah, makna ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat Al-Haj, ayat 62, yang artinya:

“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah Dialah (Tuhan) yang Hak (benar) dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil.“

Akan tetapi ada beberapa penafsiran yang keliru tentang kalimat la ilaha illallah yang telah tersebar luas di dunia Islam di antaranya:

1. Menafsirkan kalimat la ilaha illallah dengan (لاَ مَعْبُوْدَ إِلَّا الله): “Tidak ada yang diibadahi selain Allah”. Padahal makna tersebut rancu, ini berarti setiap yang diibadahi baik benar maupun salah adalah Allah subhanahu wata’ala. Karena Allah subhanahu wata’ala menamakan semua yang disembah di muka bumi sebagai إله (Tuhan). Ketika Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada orang-orang musyrik: La ilaha illallah maka meraka mengatakan

أَجَعَلَ اْلآلِهَةَ إِلهًا وَاحِدًا إِنَّ هذَا لَشَيْءٌ عُحَابٌ

“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan yang banyak ini menjadi Tuhan yang satu saja? sesungguhnya ini sesuatu yang mengharankan.” [QS. Shood: 5]

2. Menafsirkan kalimat la ilaha illallah dengan (لاَ خَالِقَ إِلاَّ الله) “Tidak ada pencipta kecuali Allah”, padahal makna tersebut adalah sebagian makna dari kalimat la ilaha illallah dan ini masih berupa Tauhid Rububiyah (tauhid yang mengakui keesaan Allah saja), sehinga belum cukup. Karena orang-orang kafir jahiliyah dahulu telah meyakini Allah adalah Tuhan pencipta alam, sebagaimana Allah jelaskan dalam al-Qur’an

وَلِئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقَوْلُنَّ اللهُ

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, sipakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah.” (QS. Az – Zuhkruf: 87)

3. Ada juga yang menafsirkan la ilaha illallah dengan (لاَ حَاكِمَ إِلاَّ الله ): “Tidak ada hakim/penguasa kecuali Allah”. Pengertian ini pun tidak mencukupi makna kalimat tersebut karena apabila mengesakan Allah hanya dengan pengakuan sifat Allah Yang Maha Penguasa saja namun masih berdo’a kepada selain-Nya atau menyelewengkan tujuan ibadah kepada sesuatu selain-Nya, maka hal ini belum dikatakan (telah menjalankan makna kalimat tersebut, yaitu bertauhid kepada Allah-red).

Rukun لا إله إلا الله

Kalimat la ilaha illaallah memiliki 2 rukun yaitu النَّفْيُ (meniadakan) dan الإِثْبَاتُ (menetapkan). Yang dimaksud dengan “meniadakan” adalah menjauhi sesembahan selain Allah baik Malaikat yang dekat dengan-Nya atau pun para Nabi dan Rasul yang diutus. Sedangkan yang dimaksud dengan “menetapkan” adalah menetapkan sesembahan yang benar hanya milik Allah semata. Adapun sesembahan yang lain semuanya sesembahan yang batil. Hal ini sebagaiman firman Allah yang artinya:

“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah Dialah (Tuhan) yang Hak (benar). Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil.” (QS. Al – Hajj: 62).

Syarat-syarat la ilaha illallah

Setiap ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya, seperti sholat dan zakat tidak akan diterima kecuali memenuhi syarat-syaratnya, demikian juga dengan kalimat la ilaha illallah tidak akan diterima kecuali seorang hamba menyempurnakan syarat-syaratnya.

Seorang Tabi’in yang bernama Wahb Ibnu Munabbih pernah ditanya,

“Bukankah kunci surga itu kalimat la ilaha illallah? maka beliau menjawab ya, akan tetapi tidaklah disebut kunci kecuali ia memiliki gigi-gigi, jika kamu membawa kunci disertai gigi-giginya maka pintu tersebut akan terbuka, akan tetapi apabila tidak memiliki gigi-gigi maka pintu tersebut tidak akan terbuka.” [Ibnu rajab dalam kitab beliau kalimat ikhlas hal:14].

Beliau menjelaskan syarat la ilaha illlallah ibarat gigi-gigi kunci.

Syarat la ilaha illallah ada 7 yaitu,

1. Al–Ilmu, yaitu mengetahui makna la ilaha illallah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya;

“kecuali orang yang mengakui kebenaran dan mereka mengetahuinya.” [QS. Az-Zukhruf: 86].

Berkata para ulama tafsir :

”mengakui kebenaran maksudnya mengakui kebenaran kalimat la ilaha illallah, dan mengetahuinya maksudnya memahami dengan benar apa yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka yaitu tentang kalimat la ilaha illallah.”

2. Al–Yaqiin, yaitu meyakini makna la ilaha illallah tanpa ada keraguan sedikit pun, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.”[QS. AL-Hujuraat: 15].

3. Al-Ikhlas, Yaitu memurnikan seluruh ibadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’la dan menjauhi kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil, Allah subhanahu wa ta’la berfirman yang artinya:

“Maka beribadahlah kepada Allah dengan tulus, ikhlas beragama kepada-Nya. Ingatlah! Hanya muilik Allah agama yang murni.” [QS. Az-Zumar; 2-3]

4. Ash-Shidqu yaitu jujur, maksudnya adalah mengucapkan kalimat ini dengan pembenaran di dalam hati. Barang siapa yang mengucapkan kalimat ini dengan lisannya akan tetapi hatinya mendustakannya maka ia adalah seorang munafik dan pendusta. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan di antara manusia ada yang berkata: kami beriman kepada Allah dan hari Akhir padahal sesungguhnya mereka bukanlah orang-orang yang beriman, mereka menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari.” [QS. Al-Baqarah: 8-9]

5. Al–Mahabbah (cinta), maksudnya mencintai kalimat ini dan apa yang dikandungnya, sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-imron ayat ke 31 yang artinya: “…Dan antara manusia ada yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cinta seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah…,

6. Al-Inqiyaad, yaitu tunduk dan patuh. Seorang muslim harus tunduk dan patuh terhadap isi kandungan kalimat ini, sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Dan kembalilah kepada rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS. Az–Zumar: 54)

7. Al-Qobuul, yaitu menerima kandungan dan konsekuensi dari kalimat ini, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah yang artinya:

“Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka: la ilaha illallah, mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata:“Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair yang gila”.(QS. Ash-Shoofaat: 35-36).

Hal ini menunjukkan mereka tidak mau menerima la ilaha illallah.

Inilah 7 syarat kalimat لاَ إِلهَ إِلَّا الله yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap muslim, tidak hanya sekedar menghapalnya saja, akan tetapi hendaknya diiringi dengan amal perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

***
Penyusun: Salman Ibnu Sofyan, S.Pdi.

(Staf Pengajar Ma’had Abu Hurairah Mataram-Lombok)

Download Buletin versi PDF

Artikel yang Anda baca ini dapat di download dalam versi Buletin PDF disini: https://www.box.com/s/td1bmos37kega04zmdq0

Leave a Comment