Cemburu Karena Allah ta’ala

Mengekspresikan rasa cemburu dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan syari’at manakala perkara-perkara haram dikerjakan, merupakan bagian dari agama. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

المُؤْمِنُ يَغَارُ وَاللهُ أَشَدُ غَيْرًا

“Seorang mukmin itu pencemburu, dan Allâh lebih-lebih lagi kecemburuan-Nya (tatkala kemaksiatan terjadi-pent).” [HR. Muslim: 2761-pent]

Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata dalam kitabnya ad-Dâ’ wad-Dawâ’:

“Pokok agama adalah Ghairah (cemburu). Siapa saja yang tidak memiliki rasa cemburu, maka (seolah-pent) tidak ada agama untuknya.”

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, Yang Cemburu Karena Allâh

‘Aisyah radhiallâhu’anha mengisahkan; “Pada suatu ketika Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah, saat itu di sisiku ada seorang laki-laki tengah duduk. Tampak beliau tidak bisa menerima hal tersebut, dan aku melihat kemarahan di wajah beliau. Lantas aku mengklarifikasi: ‘Wahai Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam, dia ini saudaraku sepersusuan.’ Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda:

“Cermatilah dengan seksama siapa saudara-saudara kalian sepersusuan. Karena yang namanya persaudaraan akibat persusuan, (batasan minimalnya-pent) adalah ASI yang menghilangkan rasa lapar.” [Shahîh Muslim: 1455-pent]

Dari al-Mughirah radhiallahu ‘anhu dia berkata;

“Sa’ad bin ‘Ubâdah radhiallahu ‘anhu mengatakan; ‘Andaikata aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, sungguh aku akan menebas laki-laki tersebut dengan pedang.’ Ucapan Sa’ad tersebut sampai kepada Nabi, lantas beliau bersabda:“Apa kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih pencemburu dibanding Sa’ad, dan Allâh lebih pencemburu lagi dibanding aku. Karena kecemburuan Allâh, maka Dia mengharamkan perbuatan-perbuatan keji lagi hina, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” [Shahîh Muslim: 1499-pent]

Kecemburuan Abu Bakr ash-Shiddîq radhiallahu ‘anhu

‘Abdullâh bin ‘Amr bin al-‘Ash menceritakan;

“Pernah beberapa orang laki-laki dari Bani Hâsyim masuk menemui Asmâ binti ‘Umais. Kemudian masuklah Abu Bakr ash-Shiddîq radhiallahu ‘anhu dan mendapati mereka, saat itu ‘Asmâ binti ‘Umais telah menjadi istri Abu Bakr ash-Shiddîq. Tampak Abu Bakr tidak menyukai hal tersebut. Lantas beliau mengadukannya kepada Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam, seraya mengatakan: ‘Saya tidak melihat ada apa-apa.’ Kemudian Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allâh telah menjadikannya (maksud beliau: ‘Asmâ binti ‘Umais) berlepas diri dari hal-hal yang negatif.”

Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam lantas naik ke mimbar dan bersabda:“Semenjak hari ini, jangan sekali-kali seorang laki-laki masuk menemui wanita yang menyendiri (ketika suaminya sedang tidak di rumah-pent) kecuali laki-laki tersebut ditemani oleh satu atau dua laki-laki yang lain.” [Shahîh Muslim: 2173]

Kecemburuan ‘Umar bin Khaththâb radhiallahu ‘anhu

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
“. . . aku bermimpi berada di dalam surga. Ada seorang wanita yang tengah berwudhu di sisi istana. Aku pun bertanya: ‘Milik siapa istana ini?’ Wanita itu menjawab: ‘Milik ‘Umar’. Seketika aku teringat kecemburuan ‘Umar, maka aku bergegas pergi.’ Abu Hurairah berkata: ‘Umar pun menangis, kami semua yang berada dalam majlis tersebut juga menangis bersama Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ‘Umar berkata: ‘Ayahku menjadi tebusan untukmu wahai Rasulullâh, apakah pantas aku cemburu padamu?’ [Muttafaq ‘alaihi]

Kecemburuan Zubair Bin Awwam radhiallahu ‘anhu

Dari Asma’ binti Abu Bakar Radiallahu ‘anhuma beliau berkata : “. . . suatu hari ketika aku sedang membawa biji kurma di atas kepalaku, aku berpapasan dengan Rasulullah bersama beberapa orang Anshar, beliau memanggilku kemudian beliau bersabda, “Ikh, ikh.” (perintah untuk menderumkan unta, sehingga Asma` bisa naik ke punggungnya) Beliau ingin memberiku tumpangan, tetapi aku merasa malu berjalan bersama kaum laki-laki, aku teringat Zubair dan kecemburuannya, dia termasuk orang yang paling cemburu, Rasulullah r mengetahui perasaan malu yang menghinggapi diriku, maka beliau berjalan meninggalkanku, kemudian aku pulang menemui Zubair, dan berkata kepadanya. . . (kemudian Asma’ menceritakan perihal kejadian yang beliau alami ketika berjumpa dengan Rasulullah r), maka Zubair radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, aku lebih tidak terima kamu membawa biji kurma dibandingkan jika kamu naik kendaraannya Rasullah r.” (HR. Bukhari)

Lemahnya kecemburuan yang tampak pada sebagian kaum laki-laki pada zaman ini sangat banyak, diantaranya :

  1. Mereka tidak memerintahkan mahram-mahramnya untuk menjaga pakaian dan hijab mereka ketika keluar dari rumah.
  2. Mereka membiarkan mahram-mahram mereka berbicara dengan laki-laki lain tanpa keperluan yang mendesak.
  3. Mereka tidak mengingkari mahram-mahram mereka yang tertawa di depan laki-laki asing.
  4. Mahram-mahram mereka yang keluar dari rumah tanpa izin, mereka biarkan begitu saja tanpa diingkari.
  5. Mereka mengizinkan mahram-mahram mereka terjun ke dalam dunia maya (Internet), seperti Facebook, Twitters dan lain-lain, yang pada zaman ini dunia internet adalah salah satu sebab yang paling dahsyat yang merusak wanita dan remaja, dan peluang yang paling besar untuk menjatuhkan mereka ke dalam lembah pacaran yang diharamkan dan hubungan yang tidak syar’i.
  6. Mereka tidak menaruh perhatian dalam menjaga mahram-mahram mereka ketika menonton video di situs-situs internet, seperti you tube dan yang semisalnya.
  7. Mereka menyebarkan foto mereka bersama isteri mereka kepada kenalan-kenalan dan teman-teman mereka di situs internet, seperti facebook.
  8. Mereka mengizinkan isteri mereka duduk bersama teman-teman mereka dan ikut dalam gosip.
  9. Mereka mengizinkan isteri mereka untuk menghadiri acara pesta yang dihadiri oleh orang-orang yang minim pemahaman agamanya dan lemah istiqamahnya.
  10. Mereka memerintahkan isteri mereka -tanpa kebutuhan mendesak- menyajikan jamuan untuk tamu laki-laki (non-mahram).
  11. Mereka tidak menjaga dan membimbing puteri dan saudari mereka yang belajar di sekolah dan universitas yang mencampur laki-laki dan perempuan.
  12. Mereka membiarkan mahram-mahram mereka tertawa dan bercanda dengan tamu dan teman mereka.
  13. Mereka mengizinkan isteri dan puteri mereka untuk keluar bersama supirnya, yang menyebabkan terjadinya khulwah (laki-laki dan perempuan yang berdua-duaan tanpa ditemani oleh mahramnya).
  14. Mereka mengizinkan mahram mereka untuk mengunjungi teman-temannya dalam waktu yang lama, yang memungkinkan mahram mereka akan bertemu dengan laki-laki asing.
  15. Ketika mereka tidak berada di rumah, mereka memberikan izin kepada isteri mereka untuk memasukan tamu ke dalam rumah, padahal di dalam rumah tidak ada seorang laki-lakipun.

***
Diterjemahkan secara bebas & diringkas oleh:
Abu Ziyan Halim & Solihin

Download Buletin versi PDF

Artikel yang Anda baca ini dapat di download dalam versi Buletin PDF disini: uploading

COMMENTS

  • Tulisan di atas adalah karya Syaikh Abdurrahman bin Muhammad Musa Alu Nasr (Putra Syaikh DR. Muhammad Musa Nasr, murid senior al-Imam al-Albani rahimahullah) dengan judul; “al-Ghairatu Fillaah”. Maaf Admin lupa mencantumkannya…

  • Dengan demikian, lagu-lagu, syair-syair, dan perumpamaan-perumpamaan yang mengibaratkan wanita pejuang syari’ah dengan bidadari, selain jauh dari fakta dan melecehkan arti perjuangan, juga menyalahi Aqidah Islam. Maka pengibaratan pun harus sesuai fakta atau jika Allah dan Rasul-Nya yang memberi pengibaratan, karena Allah dan Rasul-Nya lebih tahu hakekat segala sesuatu dibanding kita yang sangat terbatas pengetahuannya.

Leave a Reply to Jo Saputra Halim Cancel reply