Kisah Shahih Isra’ Mi’raj

Isra’ adalah perjalanan darat malam hari yang diatur oleh Allah untuk Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Adapun Mi’raj adalah perjalanan berikutnya dari Masjidil Aqsha naik ke langit tertinggi yang belum pernah dicapai oleh manusia sebelumnya, bahkan hingga ke Sidratul Muntaha.

Kebenaran Isra’ dan Mi’raj

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah mukjizat besar dan merupakan kebenaran yang wajib diimani, dan bahkan menjadi bagian dari aqidah Ahlussunnah Waljama’ah, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur’an dalam Surat al-Isra’: 1 dan Surat an-Najm: 13-18, hadits-hadits yang mutawatir dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya, dan ijma’ ulama Islam.
Maka, wajib bagi seorang mukmin untuk mengimaninya berikut peristiwa-peristiwa yang terjadi padanya, kemudian tidak membenturkannya dengan teori-teori logika yang belum pasti kebenarannya. Pun dalam menelaahnya harus didasarkan pada hadits-hadits yang shahih, sebagaimana diantaranya telah dibukukan secara khusus oleh Syaikh al-Albani, sembari mewaspadai hadits-hadits bathil dan dusta sebagaimana yang laris dalam sebagian buku.  

Berawal Dengan Pencucian Hati

Malam itu, Nabi sedang berbaring diantara Hamzah dan Ja’far antara tidur dan terjaga, ketika beliau dijemput dan dibawa ke sumur zam-zam. Lalu Jibril membelah dadanya dari leher hingga bagian bawah perut dan mengeluarkan hatinya. Kemudian didatangkan bejana emas yang dipenuhi iman dan hikmah, lantas  Jibril mencuci hatinya dengan air zam-zam, lalu memenuhinya dengan iman dan hikmah.

Menuju Masjidil Aqsha Dengan Buraq

Rasulullah bersabda, “Kemudian aku diberikan Buraq – yaitu kendaraan lebih kecil dari baghal lebih besar dari keledai, berwarna putih dengan punggung panjang membentang, langkahnya sejauh pandangannya – bertali kekang dan berpelana. Buraq itu awalnya tidak tunduk kepadaku, sehingga Jibril berkata, ‘Kepada Muhammad kamu melakukan ini?! Belum ada yang menaikimu yang lebih mulia di sisi Allah dari Muhammad!’ Sehingga dia bercucur keringat, dan akupun mengendarainya.
Mereka kemudian melakukan perjalanan hingga sampai di Baitul Maqdis. Lantas Nabi menambat buraq kendaraannya, kemudian masuk ke masjid dan shalat dua rakaat dan keluar. Lalu Jibril datang membawakannya satu bejana khamer dan satu bejana susu, maka Nabi memilih susu. Jibril kemudian membawa Nabi naik ke langit.

Naik ke Langit dan Bertemu Para Nabi

Di langit pertama, Nabi bertemu Adam sedang duduk, di sebelah kanannya ada keturunannya dari kalangan ahli surga dan di sebelah kirinya ada keturunannya dari kalangan ahli neraka. Jika menoleh ke kanan dia tertawa, dan jika menoleh ke kiri dia menangis. Di langit kedua beliau bertemu Yahya dan Isa, di langit ketiga beliau bertemu Yusuf yang telah diberikan setengah ketampanan, di langit keempat beliau bertemu Idris, dan di langit kelima beliau bertemu Harun. Di langit keenam beliau bertemu Musa. Ketika Nabi melewatinya dia menangis, dan berkata, “Ya Rabbi, Nabi yang Engkau utus setelahku ini ummatnya lebih afdhal dan lebih banyak masuk surga dari ummatku.”
Adapun di langit ketujuh, beliau bertemu Ibrahim sedang bersandar pada Baitul Makmur, dimana setiap hari akan masuk ke dalamnya 70.000 malaikat dan mereka tidak akan kembali lagi. Di sana Nabi disuguhkan tiga mangkuk minuman: susu, madu, dan khamer. Maka Nabi mengambil mangkuk yang berisikan susu lalu meminumnya.

Sidratul Muntaha

Kemudian Nabi dibawa naik ke Sidratul Muntaha. Di sana ada semisal pohon bidara. Buah-buahnya seperti qullah (takaran) Hajar, dan daun-daunnya seperti telinga gajah. Padanyalah terhenti apa yang naik dari bawahnya, dan padanya pula terhenti apa yang turun dari atasnya, hingga diambil di sana. Tatkala Sidratul Muntaha itu diliputi oleh suatu cahaya, tidak ada makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya. Di saat itulah Nabi melihat Jibril dalam wujud aslinya. Kata Nabi, “Aku melihat Jibril dengan 600 sayap, dari bulu-bulunya terpancar warna-warni permata dan batu mulia, dengan pakaian sutera berwarna hijau menutupi ufuk.”

Ke Surga dan Ke Neraka

Nabi bersabda, “Kemudian aku dibawa masuk ke dalam surga. Disana terdapat kubah-kubah permata, tanahnya dari misik. Ketika aku berjalan di surga, aku dibawa ke sebuah sungai yang dua pesisirnya adalah tenda-tenda permata yang berongga. Aku bertanya, ‘Apa ini, Jibril?’ Dia menjawab, ‘Ini adalah Kautsar yang diberikan Allah azza wajalla untukmu.’ Maka aku memasukkan tanganku, dan ternyata tanahnya misik yang sangat harum dan kerikil-kerikilnya adalah permata.”
Nabi berdiri di pintu neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Beliau melihat sejumlah laki-laki mencacah bibir-bibir mereka dengan pencacah dari api. Merekalah para penceramah yag memerintahkan orang dengan kebaikan tapi melupakan diri mereka sendiri. Juga sekelompok orang dengan kuku-kuku dari tembaga mereka mengoyak wajah dan dada-dada mereka. Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan merobek kehormatan mereka.

Menerima Perintah Shalat

Kemudian Nabi dibawa naik sampai ke ketinggian di mana beliau dapat mendengar suara pena-pena taqdir. Disana Allah mewajibkan kepada ummatnya lima puluh shalat dalam sehari semalam.
Nabi kemudian turun hingga bertemu kembali dengan Musa, dia berkata, “Demi Allah, aku telah berpengalaman dengan manusia sebelummu. Aku mengobati Bani Israil dengan sangat berat. Sungguh, ummatmu tidak akan mampu yang demikian itu. Maka kembalilah kepada Rabbmu minta Dia memberimu keringanan.” Maka Nabi kembali kepada Allah dan bolak-balik meminta keringanan dan Allah menguranginya lima demi lima hingga menjadi lima shalat fardhu.

Kembali Ke Makkah

Malam itu juga Nabi kembali ke Makkah dengan terlebih dahulu singgah di Masjidil Aqsha dan bertemu sejumlah Nabi. Ada Musa, Isa bin Maryam, dan Ibrahim Alaihimus salam. Nabi berkata, “Kemudian tibalah waktu shalat, maka aku mengimami mereka. Setelah shalat selesai, Jibril berkata kepadaku, ‘Ini Malik, penjaga neraka ucapkan salam kepadanya.’ Akupun menolehnya, namun dia terlebih dahulu menyalamiku. Aku bertanya kepada Jibril, ‘Kenapa sama sekali aku tidak melihat Mikail tertawa?’ Dia menjawab, ‘Dia tidak pernah tertawa semenjak neraka diciptakan.”

Kapan Isra’ dan Mi’raj terjadi?

Di setiap tahun, tepatnya setiap tanggal 27 Rajab banyak orang melakukan peringatan Isra’ dan Mi’raj karena meyakininya sebagai hari terjadinya peristiwa ini. Perbuatan ini sangat keliru, dilihat dari dua sisi:
Pertama, para ulama berselisih tentang waktu peristiwa Isra’ dan Mi’raj baik tahun, bulan, dan tanggalnya. Tidak ada satu hadits shahih pun yang menyatakan kejadiannya di Bulan Rajab atau lainnya.
Kedua, seandainya ada dalil yang shahih tentang penentuan waktu kejadiannya kaum muslimin tetap tidak diperkenankan untuk mengkhususkannya dengan suatu ibadah semisal memperingatinya, karena Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya. Seandainya memperingatinya adalah tindakan yang disyariatkan, pastilah Nabi telah menjelaskannya lewat ucapan ataupun perbuatan, dan pasti akan dikenal dan akan dinukil oleh para sahabat. Namun fakta berkata lain. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibni Baz, 1/188)

***

Penyusun : Ustadz Jamaluddin, Lc.

(Pengajar di Ma’had Abu Hurairah Mataram)

Download PDF Al-Hujjah 10 – Kisah Shahih Isra’ Mi’raj :

https://app.box.com/s/qvsnkgfjp19ha84pesky2qj7l8sbty5x

Leave a Comment