Fiqih Praktis Wudhu

Sidang pembaca yang budiman, wudhu merupakan kunci memasuki ibadah shalat. Rasulullah bersabda:

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Artinya: “Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkan (dari kegiatan selain shalat) adalah takbiratul ihram, dan yang menghalalkannya adalah salam.” [HR. Ibnu Majah: 276, dishahihkan oleh al-Albani].

Tentu saja seorang muslim yang merindukan munajat kepada Allah dalam shalat akan bersemangat untuk mempersiapkan diri sebelum melakukannya. Termasuk kategori mempersiapkan diri sebelum shalat ialah berwhudu sebaik mungkin sebagaimana wudhu yang pernah diajarkan oleh Rasulullah . Beliau r bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ، حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

Artinya: “Barangsiapa berwudhu dan memperbagus wudhunya maka dosa-dosanya akan keluar dari tubuhnya, hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.” [HR. Muslim: 245].

Utsman bin Affan radhiallahu’anhu pernah mempraktikkan secara detail tata cara wudhu Rasulullah  di hadapan Humron maula ‘Utsman, kemudian beliau menukil sabda Rasulullah :

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا , ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ , لا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“barang siapa yang berwudhu’ seperti tata cata wudhu’ku ini, kemudian ia shalat dua rakaat dengan khusyu’, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari: 159 dan Muslim: 423)

TATA CARA WUDHU

Yang menjadi dasar disyari’atkannya wudhu sebelum mendirikan shalat adalah Firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 6 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mendirikan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…” (Qs. Al-Maidah: 6)

Pada edisi kali ini, kami akan mengangkat tata cara wudhu yang disarikan dari hadits-hadist Rasullah r, agar kita dapat malaksanakannya sesuai dengan tuntunan Beliau dan mendapatkan keutamaan yang disebut pada hadits di atas.

1. NIAT

Wudhu adalah ibadah, dan ibadah dibangun di atas 2 pondasi: niat dan sesuai contoh Nabi (mutaba’ah). Rasulullah bersabda :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat, dan setiap orang akan menadapatkan ganjaran sesuai niatnya…” [HR. Bukhari: 1 dan Muslim: 1907].

Dan sebagai bentuk mutaba’ah kepada Nabi dalam masalah ini adalah tidak membaca atau melafazhkan niat sebagaimana yang biasa dilakukan kebanyakan saudara-saudara kita, dikarenakan Nabi tidak pernah melakukannya dan tidak juga mengajarkannya kepada Sahabat-sahabat beliau. Niat tempatnya di hati bukan di lisan.

2.BACA BASMALAH

Rasulullah bersabda:

لَا صَلاَةَ إِلَّا بِوُضُوءٍ وَلَا وُضُوءَ لِمَن لَم يَذكُرِ اسمَ اللهِ عَلَيهِ

“Tidak ada shalat bagi yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah (mengucapkan Basmalah).” [HR. Abu Dawud: 101 dan Ibnu Majah: 399, dishahihkan oleh al-Albani]

3. MEMBASUH MUKA

Diawali dengan berkumur dan menghirup air melalui lubang hidung kemudian mengeluarkannya kembali. Rasulullah rpernah meminta air wudhu kemudian beliau berkumur dan dan menghirup air melalui hidung, peristiwa ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari: 192 dan Shahih Muslim: 235. Pada kesempatan lain Rasulullah bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ

“Barangsiapa berwudhu hendaklah ia mengeluarkan air wudhu dari hidungnya (setelah menghirupnya).” [HR. Bukhari: 161 dan Muslim: 237].

Setelah itu mengusap wajah sebagaimana disebutkan surat al-Maidah ayat 6 di atas.

4. MEMBASUH TANGAN

Tangan yang dimaksud adalah ujung jari-jemari hingga siku sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Maidah ayat 6 di atas. Dan termasuk sunnah dalam membasuh tangan, ialah meyela-nyela jari sebagaimana sabda Nabi :

… وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ

“…dan sela-selalah jari-jemari…” [HR. Ibnu Majah: 448, dishahihkan al-Albani].

5. MENYAPU KEPALA

Suatu ketika Abdullah bin Zaid diminta untuk mengajarkan tata cara wudhu Nabi, beliau mengatakan:

ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى المَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْه

“…kemudian beliau (Nabi, pent.-) menyapu kepalanya dimulai dari kepala bagian depan hingga tengkuk, kemudian mengembalikan lagi tangannya ke kepala bagian depan” [HR. Bukhari: 185 dan Muslim: 235]. Kemudian dilanjutkan dengan meyapu telinga, karena Nabi besabda:

الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأسِ

“…dan kedua telinga merupakan bagian kepala”. [HR. ad-Daruquthni: 334, dishahihkan oleh al-Albani]

6. MEMBASUH KAKI

Batasan membasuh kaki adalah ujung jari-jemari kaki hingga mata kaki sebagaimana disebutkan dalam surat al-Maidah ayat 6 di atas. Dan disunnahkan menyela-nyela jari kaki sebagaimana jari tangan. Dan seyogyanya setiap bagian kaki -dan setiap anggota wudhu- sempurna terkena air wudhu, Rasulullah bersabda:

وَيلٌ لِلأَعقَابِ مِنَ النَّارِ

“Ancaman neraka atas tumit-tumit (yang tak terkena air wudhu)” [HR. Bukhari: 60 dan Muslim: 240].

Wallahu A’lam

***

Penyusun : Ustadz M. Firman A, Lc

(Staf Pengajar Ponpes Abu Hurairah Mataram)

Download PDF Al-Hujjah 13 – Fiqih Praktis Wudhu :

https://app.box.com/s/49tmzob7cadgcw9clximhq4slgrt2omg

Al-Hujjah Fan Page : https://www.facebook.com/alhujjah.ku

Al-Hujjah Tweets : https://twitter.com/alhujjah

Leave a Comment