FIQIH RAMADHAN – 1/2

QADHA’ PUASA

1.     Kewajiban mengqhada’ puasa bersifat fleksibel dan penuh keleluasaan, walaupun menyegerakannya lebih baik daripada menunda.
2.     Tidak wajib mengqhada’ secara berurutan dan berkesinambungan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر… ﴾

“…Maka berpuasalah pada hari-hari yang lain….” (QS. Al-Baqarah: 185)
3.     Orang yang meninggal dunia dan memiliki tanggungan puasa maka walinya menanggung fidyah, dengan memberi makan kepada satu orang miskin sebagai pengganti setiap satu hari puasa yang terluputkan (misal: 5 hari luput, berarti 5 fidyah), dan tidak wajib mengqhada’nya kecuali yang luput adalah puasa nadzar. Demikianlah menurut riwayat  shahih dari istri Nabi ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhum [lih. al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassaroh: 3/331]. Ini pendapat pertama dalam masalah ini.

Adapun pendapat kedua, sebagian ulama mengatakan; walinya menanggung qadha’ (dengan berpuasa untuk si mayit sebanyak hari yang luput) berdasarkan keumuman sabda Rasulullah r :

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْمٌ صَامَ عَنْهُ َوَلِيُّهُ

“Barang siapa meninggal dunia sedang dia mempunyai tanggungan puasa, maka walinya yang harus meng-qadha puasanya itu.” (Bukhari: IV/168 dan Muslim: 1147).

Namun pendapat pertama lebih kuat dan lebih mendekati kebenaran. Wallahu’alam.

KAFFARAT ( DENDA )

1.     Jika suami-istri melakukan hubungan badan di siang hari Ramadhan, maka puasanya batal dan wajib di-qadha ditambah kaffarat berupa;
(1) Memerdekakan budak. Jika tidak mampu maka,
(2) Berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu maka
(3) Memberi makan enam puluh orang miskin.
2.     Orang yang wajib membayar kaffarat tetapi dia tidak mampu melakukan semua bentuk kaffarat tersebut maka kewajiban itu menjadi gugur.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿ لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah : 286)
3.     Seorang istri tidak diwajibkan membayar kaffarat. Insya Allah inilah pendapat yang lebih kuat.
Yang demikian itu karena dalam hadits Abu Hurairah [al-Bukhari: 1936, Muslim: 1111] Nabi r hanya memerintahkan pihak suami untuk menunaikan kaffarat. Adapun jumhur ulama mengatakan bahwa pihak istri juga wajib menunaikan kaffarat [al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassaroh: 3/312].

FIDYAH

1.    Orang tua yang tidak mampu berpuasa baik laki-laki maupun wanita mereka boleh berbuka dan membayar fidyah sebagai gantinya.
2.     Wanita hamil dan menyusui, jika khawatir terhadap dirinya sendiri atau terhadap anaknya, maka keduanya boleh tidak berpuasa dan memberikan makan orang miskin setiap hari dan tidak perlu mengqhada’.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
﴿وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ  ﴾
“… Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah : 184)

SHALAT TARAWIH

1.     Dilakukan berjama’ah
Shalat tarawih disyari’atkan dikerjakan berjamaah. Hal itu didasarkan pada hadits ‘Aisyah: “Pada suatu malam Rasulullah r keluar untuk mengerjakan shalat di masjid. Lalu, orang-orang pun mengikuti shalat beliau ….” [Al- Bukhari (220) dan Muslim (761)].
2.    Jumlah rakaat shalat tarawih
Jumlah rakaat shalat tarawih  yang sesuai dengan petunjuk Nabi shalllallahu ‘alaihi wasallam  adalah delapan rakaat dan tiga rakaat witir. ‘Aisyah berkata:
ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mengerjakan shalat sunnah lebih dari sebelas rakaat, baik pada malam bulan Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya.” Hadits shahih. HR. Bukhari (III/16) dan Muslim (736).
Apa yang disampaikan oleh Aisyah itu dibenarkan oleh Jabir bin Abdillah t, dia berkata:
أن النبي صلى الله عليه وسلم لما أحيى بالناس ليلة في رمضان صلى ثماني ركعات وأوتر
“Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika menghidupkan malam dengan orang-orang pada bulan Ramadhan, Beliau mengerjakan delapan rakaat dan mengerjakan shalat witir.” Hadits hasan HR. Ibnu Hibban (920) .

LAILATUL QADAR

1.    Keutamaan lailatul qadar
﴿إِنَّآ أَنْزَلْنَــــــــــــــــهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَىـــــــكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْف ِشَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَـــــــئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلا مٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴾
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan.Tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr : 1 – 5)

2.     Waktu lailatul qadar
Diriwayatkan dari Nabi shalllallahu ‘alaihi wasallam bahwa Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke21, 23, 25, 27, 29, dan malam terakhir dari bulan Ramadhan. Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

التمسوها في العشر الأواخر فإن ضعف أحدكم أو عجز فلا يغلبن على السبع البواقي

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian mampu atau lemah, hendaklah dia tidak ketinggalan untuk mengejar tujuh malam lainnya,” Hadits shahih HR Bukhari (IV/221) dan Muslim (1165)

3.     Cara seorang muslim mendapatkan lailatul qadar
Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barang siapa yang shalat pada (malam) Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah berlalu.” Hadits shahih HR Bukhari (IV/217) dan Muslim (759).

4.     Tanda-tanda (malam) lailatul qadar
Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

صبيحة ليلة القدر تطلع الشمس لا شعاء لها، كأنها طست حتى ترتفع

“Pagi hari(setelah)malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar, seakan-akan ia bejana (baskom) hingga ia menunggal.” Hadits shahih HR Muslim (762).

ليلة القدر ليلية سمحة، طلقة، لا حارة، ولا باردة، تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء

“Lailatul Qadar merupakan malam penuh kelembutan, cerah,tidak panas, dan tidak pula dingin. Pada pagi harinya matahari tampak lemah dan merah.” Hadits hasan HR.Ibnu Khuzaimah (III/231). Wallahu A’lam

***

Penulis:
Tim Redaksi al-Hujjah

Artikel alhujjah.com
Facebook Page: fb.com/alhujjah.ku

Download versi cetak (PDF) artikel ini di:
https://app.box.com/s/0yigxeqeig73xh7t3k18otgbr3k6a9ou

Leave a Comment