FIQIH RAMADHAN – 2/2

1. Hikmah I’tikaf

Allah subhanahu wa ta’ala mensyari’atkan I’tikaf bagi hamba-Nya agar ruh dan hatinya berkonsenterasi kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, serta ketulusannya hanya untuk-Nya, berkhalwah (menyendiri) dengan-Nya, dan memutuskan diri dari kesibukan duniawi, dan hanya menyibukkannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Dia menjadikan seluruh perhatiannya untuk dzikir, cinta, dan perhatiannya kepada-Nya. Selanjutnya, keinginan dan detak jantungnya hanya tertuju pada dzikir kepada-Nya, sehinggga keakrabannya hanya kepada Allah, sebagai ganti dari keakrabannya terhadap manusia. Sehingga kelak di alam kubur & akhirat; pada saat dia tidak mempunyai teman akrab, tidak ada sesuatu yang dapat menyenangkannya, selain Dia. Itulah maksud dari I’tikaf yang agung. [Diringkas dari Zadul Ma’ad: II/86-87, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah].

2. Pengertian I’tikaf

I’tikaf berarti tinggal menetap di suatu tempat. Karena itu, orang yang tinggal di masjid dan melakukan ibadah di dalamnya disebut dengan Mu’takif atau ‘Aakif.

3. Disyari’atkannya I’tikaf

I’tikaf disunnahkan pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi shalllalhu ‘alaihi wasallam  pernah beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Syawwal.
I’tikaf yang paling baik adalah yang dilakukan di bulan Ramadhan. Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu: “Rasulullahshalllalhu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Adapun pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (al-Bukhari: IV/245)
Yang lebih baik lagi, jika I’tikaf dilakukan di hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Nabi shalllalhu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau (sampai akhir umurnya). (al-Bukhari: IV/226, Muslim: 1173)

4. Syarat-syarat I’tikaf

a.     Dilakukan di dalam masjid
“Dan janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf dalam masjid….” ( QS. Al-Baqarah: 187 ). Dan sebaiknya i’tikaf di masjid jami’ yang ditegakkan padanya solat jum’at, agar tidak perlu keluar masjid.
b.     Disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk berpuasa
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya (8037) dari ‘Aisyah. Ini jika i’tikaf di luar Ramadhan.

5. Hal-hal yang boleh dilakukan oleh orang yang sedang beri’tikaf

a.     Keluar masjid jika ada kebutuhan mendesak
Seperti; makan-minum, mandi junub, buang hajat, dsb. jika fasilitas untuk itu tidak tersedia di masjid. Ini berdasarkan riwayat ‘Aisyah:
“..beliau tidak masuk rumah, kecuali untuk suatu kebutuhan (manusia) jika beliau sedang beri’tikaf.” (al-Bukhari: 342 dan Muslim: 297)
b.     Berwudhu’ di dalam masjid
Hal ini berdasarkan ucapan seorang yang berkhidmad pada Nabi shalllalhu ‘alaihi wasallam: “Nabi shalllalhu ‘alaihi wasallam berwudhu’ di dalam masjid dengan wudhu’ yang ringan.” (shahih. HR. Ahmad : V/364)
c.     Mendirikan kemah kecil di bagian belakang masjid
‘Aisyah telah mendirikan sebuah tenda untuk Nabi shalllalhu ‘alaihi wasallam jika beliau beri’tikaf. Dan yang demikian itu atas perintah beliau r.
d.     Menggelar karpet atau tempat tidur di dalam kemah
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi r, bahwasannya jika beliau melakukan i’tikaf, maka digelarkan bagi beliau karpet atau tempat tidur di balik tiang.” [HR. Ibnu Majah 663]

6. I’tikafnya seorang wanita & kunjungannya kepada suaminya yang beri’tkaf di dalam masjid.

a.     Seorang wanita boleh mengunjungi suaminya yang tengah beri’tikaf.
Ummul Mukminin Shafiyyah binti Huyay radhiallahu ‘anha, pernah datang berkunjung kepada Nabi shalllalhu ‘alaihi wasallam yang tengah beri’tikaf di dalam masjid. Setelah itu, Nabi shalllalhu ‘alaihi wasallam pun mengantar beliau ke depan pintu masjid. Hal ini telah diriwayatkan oleh [al-Bukhari: IV/240 dan Muslim: 2157].
b.     Seorang wanita boleh beri’tikaf bersama suaminya, ataupun sendirian.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah: “Nabi shalllalhu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sampai akhir hayatnya. Sepeninggal beliau, istri-istrinya pun beri’tikaf.”

ZAKAT FITRAH

    Hukum zakat fitrah

Zakat Fitrah hukumnya wajib. Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu beliau berkata:
“Rasulullah shalllalhu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah (kepada ummat manusia pada bulan Ramadhan).” [al-Bukhari: III/291, Muslim: (984).

    Orang yang wajib mengeluarkan zakat fitrah

Zakat fitrah diwajibkan atas anak kecil, orang dewasa, laki-laki, perempuan, orang merdeka, maupun budak dari kalangan kaum muslimin. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu:
“Rasulullah shalllalhu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma masak atau satu sha’ gandum atas budak, orang-orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin.”  al-Bukhari: III/291 dan Muslim: 984].

    Jenis makanan yang dikeluarkan untuk zakat fitrah

Zakat fitrah dikeluarkan berupa satu sha’ gandum/beras, satu sha’ kurma, satu sha’ keju, atau satu sha’ anggur kering (kismis). Berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu:
“Kami biasa mengeluarkan zakat fitrah berupa satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju, atau satu sha’ anggur kering kismis.” [al-Bukhari: III/294 dan Muslim: 985].

    Ukuran zakat fitrah

Para ulama (Lajnah Daimah, no. fatwa: 12572) telah melakukan penelitian bahwa satu sha’ untuk beras dan gandum beratnya kurang lebih 3 kg.

    Untuk siapa saja seseorang mengeluarkan zakat fitrah?

Seorang muslim boleh mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri atau siapa saja yang menjadi tanggungannya. Hal ini berdasarkan pada hadits: “Rasulullah shalllalhu ‘alaihi wasallam memerintahkan mengeluarkan zakat fitrah untuk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka, dan budak yang termasuk ke dalam tanggungan kalian.”

    Pihak-pihak yang berhak menerima zakat fitrah

Zakat fitrah hanya diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya, yaitu orang-orang miskin. Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu:
“Rasulullah shalllalhu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan, kata-kata kotor sekaligus untuk memberi makan orang-orang miskin.”

        Waktu pemberian zakat fitrah

Zakat fitrah dikeluarkan sebelum shalat ‘Ied. Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas: “Siapa yang menunaikannya sebelum shalat, maka ia termasuk zakat yang diterima, dan barang siapa yang menunaikannya setelah shalat, maka ia termasuk sedekah biasa….” [Hasan, al-Irwa: 843]
Boleh juga diserahkan beberapa hari sebelumnya melalui Amil Zakat, dengan catatan, Amil Zakat membagikannya pada faqir miskin pada waktunya, yaitu semenjak terbenamnya matahari di akhir Ramadhan sampai sebelum Solat ‘Ied. Ini berdasarkan perbuatan Ibnu ‘Umar yang menyerahkannya 1 atau 2 hari sebelum hari ‘Ied.*

***

Penulis:
Tim Redaksi al-Hujjah

Artikel alhujjah.com
Facebook Page: fb.com/alhujjah.ku

Download versi cetak (PDF) artikel ini di:
https://app.box.com/s/7lde2jncmivxy87iaab1ttrfp4z3xifn

Leave a Comment