BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA MEMAKNAI TAHUN BARU ISLAM

Tahun baru Islam yang biasa dirayakan oleh kaum Muslimin jatuh pada bulan Muharram, salah satu bulan haram, Nabi ﷺ bersada: “Sesungguhnya zaman (tahun) itu berputar sebagaimana kondisinya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu 12 bulan, di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan berurutan: Dzul qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram. Serta Rajab yang terletak antara Jumadal Akhirah dan Sya’ban.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Seorang muslim sejati tentunya akan mawas diri ketika berada di bulan-bulan haram ini setelah ia membaca firman Allah berikut:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Ibnu Katsir mengomentari firman Allah yang artinya “Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” dengan mengatakan: …karena dosa-dosa yang dilakukan pada empat bulan tersebut lebih berat dibanding bulan-bulan lain….[Tafsir Ibnu Katsir 4/130].

Pada edisi kali ini kami coba mengangkat tema mengenai “tahun baru Islam”. Kami akan paparkan dalam bentuk poin-poin sederhana, semoga pembaca yang mulia dapat memetik manfaat darinya.

  1. Perayaan yang diselengarakan berulang-ulang (‘ied dalam istilah agama) telah ada sejak masa sebelum Islam. Masyarakat Romawi kuno memiliki perayaan Winter Soltice, orang-orang Persia mempunyai perayaan Nairuz, kaum Arab Jahiliyyah sebagaimana dikatakan oleh Anas bin Malik juga mempunyai 2 hari dalam setahun yang digunakan untuk bersenang-senang, penganut agama Kristen punya beberapa perayaan, di antaranya Natal dan Tahun Baru. [silahkan baca al-Hujjah edisi…]. Perayaan-perayaan tersebut terkadang berkaitan dengan suatu keyakinan tertentu (aqidah) dan terkadang berkaitan dengan suatu kejadian yang mempunyai pengaruh dalam kehidupan kaum yang merayakannya.
  2. Dalam Islam terdapat tiga hari raya yang disebutkan secara gamblang di dalam teks-teks hadits. Tiga hari raya tersebut adalah dua hari raya tahunan, yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha, dan satu hari raya dalam sepekan yaitu hari jum’at. Tentang dua hari raya tahunan ini Anas bin Malik mengatakan: Rasulullah ﷺ datang ke kota Madinah sedang masyarakatnya memiliki dua hari di mana mereka bermain-main (bersenang-senang) padanya, maka Nabi bertanya: “Dua hari apakah gerangan ?” Mereka menjawab, Dahulu kami bermain-main pada dua hari itu saat kami masih di zaman Jahiliyyah. Maka beliau mengatakan: “Allah telah menggantikan dua hari itu dengan dua hari lain yang lebih baik, yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha.” [HR. Abu Dawud: 1134 dan an-Nasa’i: 1556, dishahihkan oleh al-Albani]. Adapun hari jum’at maka Nabi menyatakan ia sebagai hari ied: “sesungguhnya hari ini adalah hari ied, maka barangsiapa yang hendak mendatangi shalat jum’at hendaklah ia mandi, bila memiliki wewangian maka gunakanlah, dan hendaklah kalian bersiwak.” [HR. Ibnu Majah: 1098, dihasankan oleh al-Albani].
  3. Penanggalan dengan kalender hijriyyah yang dilakukan oleh Umar -radiyallahu ‘anhu- dibangun atas dasar tafriq bainal haq wal bathil (pembedaan antara kebenaran dan kebatilan). Umar -radiyallahu ‘anhu- mengajak para Sahabat untuk bermusyawarah tentang penanggalan yang akan mereka tetapkan. Di antara mereka ada yang ingin menjadikan awal diutusnya Nabi sebagai standar, namun yang lainnya lebih mengedapankan hijrah nabi ke Madinah sebagai standar penanggalan Islam. Umarpun mengatakan: “Kita gunakan hijrah beliau sebagai standar karena hijrah beliau merupakan pembatas/pembeda antara hak dan batil.” Diriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyib beliau mengatakan: Umar mengumpulkan manusia lantas bertanya kepada mereka: “Hari apakah yang akan kita tulis (sebagai standar penanggalan) ?” Ali -radiyallahu ‘anhu- mengatakan: “Dari hari di mana Nabi ﷺ berhijrah dan meninggalkan tanah kesyirikan”, maka Umarpun melakukannya. Adapun penetapan bulan Muharram sebagai bulan pertama dikarenakan kaum Muslimin baru selesai dari manasik haji dan karena ia merupakan bulan haram. Penetapan hijrah Nabi sebagai awal penghitungan tahun Islam dan penetapan bulan Muharram sebagai bulan pertama telah diepakati oleh para Sahabat -radhiyallahu ‘anhum-. [lihat al-Kamil fit Tarikh: 1/12]. Poin penting yang mesti kita maknai bersama, yaitu besarnya perhatian para Sahabat dalam masalah aqidah al-Wala’ dan al-Bara’ di mana mereka menjadikan pindahnya Nabi dari bumi syirik dan kufur menuju bumi tauhid dan iman sebagai standar penanggalan Islam. Wallahu a’lam.
  4. Hal yang sejatinya disadari bahwa pergantian tahun merupakan tanda semakin berkurangnya umur seseorang. Kurang bijak rasanya bila pergantian tahun dijadikan sebagai hari gegap gempita untuk bersenang-senang. Imam Hasan al-Bashri dahulu mengatakan: “sesungguhnya engkau adalah rangkaian hari-hari, bila satu hari berlalu maka berkuranglah sebagian dari dirimu . Memuhasabah (introspeksi) diri adalah langkah bijak dalam mengawali tahun baru, karena tentu anak Adam akan senantiasa jatuh dalam salah dan alpha. Mari kita mereview kembali apakah yang kurang dari perilaku dan tindak-tanduk kita selama satu tahun yang telah lewat. Sudahkah amal-amal kebaikan yang kita ketahui diamalkan? sudahkah sikap buruk kita tinggalkan? sudahkah kita menjalin kedekatan dengan Allah dengan cara yang tepat? Sudahkah kita memangkas penyakit hati yang sekian lama bersemi dalam diri kita?, dan pertanyaan-pertanyaan senada yang hanya kitalah yang mengetahui jawabannya. Umar bin al-Khattab dahulu pernah mengatakan: “Introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat)…”
  5. Taubat nasuha akan menghapus dosa-dosa yang telah lampau. Sifat manusia yang senantiasa condong pada hawa nafsu pasti akan menggiringnya kepada dosa dan maksiat, Allah berfirman: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” [QS. Yusuf: 53]. Kiranya kita coba mengandaikan dalam sehari kita mengerjakan satu dosa, maka total dosa yang kita lakukan di akhir tahun berjumlah 360 dosa, sebuah bilangan yang tidak sedikit. Dengan taubat yang benar maka terbebaslah hamba dari belenggu dosanya, Nabi ﷺ bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tak memiliki dosa.” [HR. Ibnu Majah: 4250, dihasankan oleh al-Albani]. Taubat bukan sekedar ucapan manis di bibir “saya bertaubat”, taubat yang nasuha adalah taubat yang menghimpun tiga atau empat perkara: (1) meninggalkan dosa yang diperbuat, (2) adanya penyesalan dalam jiwa atas dosa yang telah dilakukan, (3) bertekad kuat untuk tidak mengulangi kembali dosa tersebut, (4) dan bila ia mengambil atau menzhalimi hak orang lain maka wajib mengembalikannya dan meminta maaf dari pihak yang terzhalimi.
  6. Berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah melebihi pencapaian tahun lalu. Peningkatan kualitas ibadah tidak akan mungkin bisa tercapai kecuali dengan mempelajari dinul Islam dari dua sumbernya yang murni, al-Qur’an dan Hadits. Suatu amal ibadah akan memiliki kualitas tinggi bila memenuhi dua syarat: (1) ikhlas dalam melaksanakannya dan (2) sesuai dengan contoh yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila salah satu dari dua syarat ini hilang dari ibadah maka tertolaklah amal ibadah tersebut. Seorang Ulama yang bernama al-Fudhail bin Iyadh pernah mengatakan: “Amal terbaik adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai sunnah/contoh Nabi),” kemudian beliau ditanya: wahai Abu Ali (panggilan al-Fudhail) apa yang dimaksud dengan amal yang paling ikhlas dan paling benar? Beliau menjawab: “Bila amal telah benar namun tidak dikerjakan dengan ikhlas maka amal tersebut tertolak, dan bila dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar maka tertolak pula.” Adapun peningkatan kuantitas ibadah maka dapat dicapai dengan cara mengamalkan kebaikan-kebaikan yang telah diketahui. Sesungguhnya amal kebaikan akan memanggil amal kebaikan lainnya, sebagaimana perbuatan buruk akan memanggil perbuatan buruk lainnya. Ibnul Qayyim berkata dalam kitab beliau al-Jawab al-Kafi (hal: 55): …sebagaimana ucapan sebagian salaf: sesungguhnya di antara hukuman yang diperoleh orang yang melakukan dosa adalah munculnya dosa baru pada dirinya, dan di antara ganjaran yang diperoleh orang yang melakukan ketaatan adalah munculnya ketaatan lain pada dirinya.
  7. Beberapa point di atas dapat kita ringkas dalam kalimat-kalimat berikut:
  • Tidak ada perayaan, ritual, upacara, atau ibadah khusus yang disyari’atkan saat pergantian tahun. Perkara-perkara itu tidak pernah ditemukan dalam sejarah perjalan Nabi dan para Sahabat. Kiranya perbuatan tersebut baik di mata syari’at tentu Nabi dan Sahabat beliaulah yang pertama melaksanakannya
  • Hendaknya kita, ummat Islam, mengambil pelajaran penting dalam penetapan tahun Islam. Aqidah wala dan baro’ (sikap loyal kepada agama Islam dan orang muslim serta berlepas diri dari keyakinan syirik dan orang musyrik) yang menjadi dasar penetapan tahun Islam adalah aqidah besar ummat Islam. Hilangnya aqidah ini dari dada seorang muslim akan menjerumuskannya dalam jurang kekafiran, wal iyyadzu billah
  • Pergantian tahun demi tahun selayaknya menjadi cambuk bagi seorang muslim sejati untuk senantiasa berbenah menuju kondisi terbaik. Tidak pantas ia tertipu dengan umurnya yang kian hari kian “bertambah”, padahal pada hakikatnya jatah umur yang ia miliki semakin berkurang. Dahulu pernah dikatakan: “orang cerdas adalah orang yang senantiasa mengintrospeksi dirinya dan melakukan ketaatan guna mempersiapkan kehidupan setelah kematiannya. Dan orang yang lemah adalah orang yang senantiasa memperturutkan hawa nafsunya dan yang panjang angan-anganya.” Wallahu a’lam.

***

Penyusun:
Ust. M. Firman Ardiansyah, Lc.

Artikel:
alhujjah.com

Page:
fb.com/alhujjah.ku

Leave a Comment