Mengenal Waktu Shalat

Allah Y telah memerintahkan kepada ummat Nabi Muhammad r untuk melakukan shalat lima waktu dalam sehari semalam, dan menetapkan pula batasan waktu pelaksanaan shalat tersebut.

Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوْتَا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu (kewajiban) yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang beriman”. (An-Nisa’: 103)

Pembaca alhujjah yang kami hormati! Pada edisi alhujjah kali ini kami hendak mengangkat tema mengetahui/mengenal waktu-waktu shalat. Tema ini adalah tema yang sangat penting karena mengetahui masuknya waktu shalat merupakan salah satu syarat sahnya shalat yang dilakukan oleh seorang hamba.

Pembahasan kali ini secara umum kami ambil dari kitab “al wajiz fi fiqhissunnah walkitabilaziz” dengan sedikit perubahan susunan atau redaksi yang insya Allah tidak sampai merubah maksud yang dikehendaki penulis kitab tersebut.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah dijelaskan dengan rinci mengenai batasan awal dan akhir waktu “shalat lima waktu” yang dilakukan dalam sehari semalam:

عن جابر بن عبد الله “أن النبي – صلى الله عليه وسلم – جاءه جبريل عليه السلام فقال له: قم فصلّه، فصلّى الظهر حين زالت الشمس، ثم جاءه العصر فقال: قم فصلّه،فصلّى العصر حين صار ظل كل شيء مثله، ثم جاءه المغرب فقال: قم فصلّه، فصلّى المغرب حين وجبت الشمس، ثم جاءه العشاء فقال: قم فصلّه، فصلّى العشاء حين غاب الشفق، ثم جاءه الفجر فقال قم فصلّه، فصلّى الفجر حين برق الفجر، أو قال: سَطَعَ الفجر.ثم جاءه من الغد للظهر فقال: قم فصله، فصلى الظهر حين صار ظل كل شيء مثله، ثم جاءه العصر فقال: قم فصله، فصلّى العصر حين صار ظل كل شيء مثليه، ثم جاءه المغرب وقتًا واحدًا لم يزل عنه، ثم جاءه العشاء حين ذهب نصف الليل، أو قال: ثلث الليل فصلى العشاء، ثم جاء حين أسفر جدًا فقال: قم فصله، فصلى الفجر، ثم قال: ما بين هذين الوقتين وقت

Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah tentang Nabi bahwa malaikat Jibril mendatangi beliau lalu berkata kepada beliau: berdirilah dan lakukan shalat itu –dzuhur- maka beliau melakukan shalat dzuhur ketika matahari tergelincir, kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau di waktu ashar lalu berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –ashar- maka Nabi melakukan shalat ashar ketika banyangan setiap benda sama dengan benda tersebut, kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau di waktu magrib lalu berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –magrib- maka Nabi melakukan shalat magrib ketika matahari tenggelam, kemudian malaikat jibril mendatangi beliau di waktu isya’ lalu berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –isya’- maka Nabi melakukan shalat isya’ ketika terbenam mega –merah-, kemudian malaikat jibril mendatangi beliau di waktu fajar –subuh- lalu berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –fajar- maka Nabi melakukan shalat fajar-subuh- ketika fajar –shadiq-terbit. Keesokan harinya malaikat Jibril datang pada waktu dzuhur lalu ia berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –dzuhur- maka Nabi melakukan shalat dzuhur ketika bayangan setiap benda sama dengan benda tersebut, kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau di waktu ashar lalu berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –ashar- maka Nabi melakukan shalat ashar ketika bayangan setiap benda dua kali lipat (dari panjang benda tersebut), kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau di waktu magrib pada waktu yang sama (dengan waktu magrib sehari sebelumnya), kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau di waktu isya’ ketika sudah berlalu setengah dari waktu malam atau ia berkata: 1/3 malam kemudian beliau melakukan shalat isya’, kemudian malaikat Jibril datang –untuk shalat subuh- ketika sudah terang sekali –waktu pagi- kemudian ia berkata: lakukanlah shalat itu -subuh- maka beliaupun melakukan shalat fajar –subuh-, kemudian malaikat Jibril berkata: waktu yang ada antara dua waktu –pelaksanaan sholat ini- adalah waktu -untuk menunaikan shalat-. (HR. Ahmad, Shahih)

Berdasarkan hadits di atas dan hadits-hadits yang lain maka waktu-waktu pelaksanaan dari shalat lima waktu bisa diperincikan sebagai berikut:

  1. Waktu dzuhur: awal waktunya adalah dari sejak tergelincirnya matahari (bergesernya matahari ke barat setelah sesaat sebelumnya berada di tengah-tengah/perut langit) dan akhir waktunya adalah ketika bayangan setiap benda sama dengan panjang benda itu sendiri.
  2. Waktu ashar: awal waktunya adalah dari sejak (panjang) bayangan suatu benda sama dengan panjang asli benda tersebut dan akhir waktunya adalah pada saat bayangan suatu benda dua kali lipat dari panjang aslinya atau sampai sebelum matahari tenggelam untuk waktu darurat.
  3. Waktu magrib: awal waktunya adalah dari tenggelamnya matahari dan akhir waktunya adalah hilangnya mega merah di arah barat (berdasarkan hadits yang lain).
  4. Waktu isya’: awal waktunya adalah dari hilangnya mega (cahaya) merah di arah barat dan akhir waktunya adalah sepertiga malam atau pertengahan malam (berdasarkan hadits yang lain).
  5. Waktu subuh: dari terbitnya fajar shadiq sampai cahaya pagi terang selama matahari belum terbit.

Waktu yang lebih utama untuk melaukan shalat

Pada dasarnya menunaikan shalat pada awal waktunya merupakan amalan yang utama dan dicintai oleh Allah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Ibnu mas’ud: Rasulullah ketika beliau ditanya tentang amalan apa yang paling utama/paling dicintai Allah maka beliau bersabda: shalat di awal waktu.

Ada banyak hadits yang menunjukkan bahwa Nabi r melakukan shalat lima waktu di awal waktunya kecuali shalat dzuhur di musim panas di saat terik matahari terlalu menyengat maka dianjurkan untuk diundurkan sampai panas agak reda dan dikecualikan juga shalat isya’ maka disunnahkan untuk dilakukan di akhir waktu apabila tidak memberatkan jamaah.

Waktu yang dilarang untuk melakukan shalat

Diantara perkara yang amat penting untuk kita perhatikan terkait dengan waktu shalat adalah mengetahui waktu-waktu yang terlarang untuk melakukan shalat pada waktu-waktu tersebut. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Uqbah bi Amir Rasulullah bersabda:

ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ -r – يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّى فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَاِزغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، َوحِيْنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، وَحِيْنَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ.

“Ada tiga waktu dimana Rasulullah melarang kami untuk melakukan shalat pada waktu tersebut atau mengubur janazah, ketika matahari –mulai- terbit sampai naik tinggi (dari posisi terbit), ketika matahari -posisi- tegak (ditengah langit) sampai ia tergelincir, dan saat matahari mulai tenggelam”. [HR. Muslim].

Demikianlah pembahasan singkat terkait dengan waktu-waktu pelaksanaan shalat lima waktu, semoga bermanfaat untuk kita.

***

Penyusun:
Ust. Zahid Zuhendra, Lc.
(Anggota Dewan Redaksi al-Hujjah)

Artikel:alhujjah.com

Page:
fb.com/alhujjah.ku

Leave a Comment