MEWASPADAI BUDAYA JAHILIYAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti,” maka para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?” (Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam): “Siapa lagi?!” [HR. al-Bukhâri dan Muslim].

Jika kita melihat ke tengah masyarakat, tentu kita akan mendapatkan sebagian besar mereka sudah terpengaruh oleh kebudayaan dan peradaban umat-umat lain. Baik dengan sengaja menirunya dengan alasan model dan gaya, atau karena bodoh terhadap ajaran agama kita sendiri, sehingga kita tidak menyadari bahwa kebiasaan dan gaya tersebut merupakan perilaku umat jahiliyah.

Segala perkara jahiliyah telah terkubur di bawah telapak kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai bentuk peringatan kepada umat Islam agar tidak menggali kembali perkara-perkara jahiliyah tersebut, apalagi melestarikannya. Sebagaimana dinyatakan dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Katahuilah segala sesuatu dari urusan jahiliyah di bawah telapak kakiku terkubur.” [HR Muslim]

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Seluruh perkara-perkara jahiliyah berada di bawah telapak kakiku, termasuk dalam hal tersebut, ialah segala hal yang mereka lakukan dalam berbagai ibadah dan budaya, seperti hari-hari besar mereka dan lain-lain dari kebiasaan mereka, … tidak termasuk kedalam hal itu budaya mereka yang diakui dalam Islam, seperti manasik dan diyat orang yang terbunuh, dan lain-lain. Karena yang dipahami dari ungkapan budaya-budaya jahiliyah, ialah hal-hal yang tidak diakui oleh Islam, dan termasuk juga di dalamnya yaitu kebiasaan-kebiasaan jahiliyah yang tidak dilarang secara khusus.” [al-Istiqâmah, 111)

Berikut kami sebutkan di antara bentuk-bentuk budaya jahiliyah yang berhubungan dengan keyakinan.

Sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya (artinya):

“Tidak benar (meyakini) penyakit menular dengan sendirinya (tanpa kehendak Allah), tidak benar mempercayai gerak-gerik burung, tidak benar meyakini burung (sebagai penentu untung-sial), hantu (sebagai jelmaan roh mayit), dan tidak benar anggapan bulan Safar adalah bulan sial.” [HR al-Bukhâri]

Pertama: al-‘Adwâ.

Yaitu berkeyakinan bahwa suatu penyakit dapat berpindah kepada orang lain dengan sendirinya tanpa ada takdir dari Allah.

Hal ini dapat mengurangi atau membatalkan kemurnian tauhid seseorang kepada Allah. Karena yang dapat menimpakan penyakit dan musibah hanya Allah semata.

Allah Ta’ala menyatakan dalam firman-Nya (artinya):

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. ” [al-Hadid: 22].

Namun bukan berarti kita tidak boleh menghindari sebab-sebab yang dapat membahayakan. Karena dalam melakukan sebab-sebab itu kita tidak boleh meyakini bahwa sebab itu sendiri yang dapat menyelamatkan kita. Jika Allah berkendak, bisa saja Allah berbuat sesuatu pada kita tanpa ada sebab. Sebagian ulama mengatakan, meninggalkan sebab adalah menyalahi akal sehat, dan bergantung kepada sebab adalah kesyirikan.

Kedua: ath-Thiyarah.

Yaitu menebak apa yang akan terjadi dengan perantara burung atau mengundi nasib berdasarkan gerak-gerik binatang, seperti burung dan lainnya. Adakalanya disebut at- tathoyyur, namun maksudnya sama.

Di antara budaya orang-orang jahiliyah, yaitu jika akan berpergian atau melakukan sesuatu; ketika keluar dari rumah, mereka terlebih dahulu memperhatikan binatang yang melintas di hadapan mereka. Binatang yang sering dijadikan pegangan ialah burung. Jika binatang itu melintas dari arah kiri ke kanan mereka, menurut mereka hal itu pertanda perjalanan dan rencananya akan sukses, maka mereka pun melanjutkan perjalanan dan rencananya. Dan jika binatang tersebut melintas sebaliknya, maka ini pertanda sial atau malapetaka akan merintangi mereka. Sehingga mereka pun tidak melanjutkan perjalanan dan rencananya. [Miftâh Darus-Sa’âdah: 234]

Melakukan atau meninggalkan sebuah perbuatan karena faktor gerak-gerik binatang sebagai ukuran baik dan buruk adalah perbuatan syirik. Karena telah menggantungkan harapan kepada selain Allah. Disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Mempercayai gerak-gerik burung adalah syirik, mempercayai gerak-gerik burung adalah syirik (beliau mengulanginya dua kali), tiada di antara kita kecuali (pernah terlintas dalam ingatannya), tetapi Allah menghilangkan perasaan itu dengan bertawakkal kepada Allah.” [HR Abu Dâwud dan at-Tirmidzi; dan at-Tirmidzi menshahîhkannya]

Ketiga: al-Hâmah.

Yaitu meyakini bahwa burung hantu merupakan jelmaan dari seseorang yang dibunuh, dan pembunuhan itu tidak dibalas dengan pembunuhan pula.

Hal ini banyak pula diyakini oleh orang-orang yang tidak mengerti Islam. Mereka tidak sadar bahwa anggapan ini bertentangan dengan aqidah Islam. Dalam agama Islam, seseorang yang sudah meninggal, ruhnya tidak akan pernah kembali lagi ke dunia, tetapi berada di alam barzah. Keyakinan sebagian orang adanya orang jadi-jadian, seperti jadi ular, babi, harimau, pocong dan seterusnya, ini merupakan keyakinan batil dan kufur.

Keempat: Shafar

Yaitu meyakini bulan Shafar sebagai bulan sial.

Orang-orang jahiliyah memiliki budaya keyakinan bahwa sebagian hari atau bulan membawa kesialan dan malapetaka. Sebagaimana keyakinan mereka terhadap bulan Shafar dan Syawwal. Pada bulan tersebut, mereka meninggalkan urusan-urusan yang penting atau besar, seperti pernikahan, perniagaan dan perjalanan.

Keyakinan semacam ini menunjukkan bahwa ada yang dapat mendatangkan mudharat selain Allah Ta’ala. Padahal hari dan bulan hanyalah sekedar tempat dan waktu melakukan aktifitas bagi manusia, sehingga sama sekali tidak ada hubungannya dengan bencana ataupun malapetaka. Semua yang terjadi itu sesuai dengan kehendak Allah dan ketentuan-Nya, tanpa ada campur tangan makhluk sedikit pun dalam mengatur alam raya ini. Oleh karena itu, barang siapa yang meyakini seperti kepercayaan orang jahiliyah tersebut, maka ia telah berbuat syirik dalam tauhid rububiyah. Kerena kebatilan keyakinan itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkarinya.

Wallahu a’lam

***

Oleh:

DR. ALI MUSRI SEMJAN PUTRA, MA

(Diringkas oleh Sahabat Al-Hujjah dari majalah As-Sunnah Edisi 10-11/Tahun XI/1428/2007 M)

Leave a Comment