KEINDAHAN ASMA’UL HUSNA

Keindahan Asmâ-ul Husnâ (nama-nama Allâh subhanahu wa ta’ala yang maha indah) merupakan kemahaindahan yang sempurna dan di atas semua keindahan yang mampu digambarkan dan terbetik oleh akal pikiran manusia. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan hal ini dalam sebuah doa beliau yang terkenal:

لا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَما أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Aku tidak mampu menghitung/membatasi pujian/sanjungan terhadap-Mu, Engkau adalah sebagaimana (pujian dan sanjungan) yang Engkau peruntukkan bagi diri-Mu.” [HR. Muslim no. 486]

ARTI KEMAHAINDAHAN DALAM ASMA-UL HUSNA

Allâh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allâh-lah asmâ-ul husnâ (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan.” [al-A’râf: 180].

Pengertian al-Husnâ (maha indah) dalam ayat ini adalah yang kemahaindahannya mencapai puncak kesempurnaan, karena nama-nama tersebut mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada padanya celaan (kekurangan) sedikit pun dari semua sisi. [lih. al-Qawaidul Mutsla, hal. 21] .

Misalnya, nama Allâh subhanahu wa ta’ala “ar-Rahmân” (Yang Maha Penyayang), nama ini mengandung sifat rahmah (kasih sayang) yang maha luas dan sempurna, sebagaimana yang digambarkan oleh Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau (artinya):

“Sungguh Allâh lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya”. [HR. al-Bukhâri no.5653 & Muslim no.2754] .

SEGI-SEGI KEMAHAINDAHAN ASAMA-UL HUSNA

1. Termasuk segi yang menunjukkan kemahaindahan Asmâul Husnâ adalah karena semuanya mengandung pujian bagi Allâh subhanahu wa ta’ala, tidak ada satu pun dari nama-nama tersebut yang tidak mengandung pujian dan sanjungan bagi-Nya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sesungguhnya nama-nama Allâh subhanahu wa ta’ala seluruhnya Maha indah, tidak ada sama sekali satu namapun yang tidak (menunjukkan) kemahaindahan. Telah berlalu penjelasan bahwa di antara nama-nama-Nya ada yang dimutlakkan (ditetapkan) bagi-Nya ditinjau dari perbuatan-Nya, seperti ‘al-Khâliq’ (Maha Pencipta), ‘ar-Razzâq’ (Maha Pemberi rezki), ‘al-Muhyî’ (Maha menghidupkan) dan ‘al-Mumît’ (Maha Mematikan), ini menunjukkan bahwa semua perbuatan-Nya adalah kebaikan semata-mata dan tidak ada keburukan sama sekali padanya…” [Badâ-i’ul Fawâ-id : 1/171] .

2. Termasuk segi yang menunjukkan kemahaindahan Asmâul Husnâ adalah karena semua nama tersebut bukanlah sekedar nama semata, tapi juga mengandung sifat-sifat kesempurnaan bagi Allâh subhanahu wa ta’ala. Maka nama-nama tersebut semuanya menunjukkan dzat Allâh subhanahu wa ta’ala, dan masing-masing mengandung sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya. [Lih. al-Qawâ’idul Mutslâ hlm. 24] .

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sesungguhnya nama-nama Allâh subhanahu wa ta’ala yang maha indah adalah a’lâm (nama-nama yang menunjukkan dzat Allâh subhanahu wa ta’ala) dan (sekaligus) aushâf (sifat-sifat kesempurnaan bagi Allâh subhanahu wa ta’ala yang dikandung nama-nama tersebut). Sifat-Nya tidak bertentangan dengan nama-Nya, berbeda dengan sifat makhluk-Nya yang (kebanyakan) bertentangan dengan nama mereka…”. [Badâ-i’ul Fawâ-id 1/170] .

3. Termasuk segi yang menunjukkan kemahaindahan Asmâul Husnâ, semua nama tersebut menunjukkan sifat kesempurnaan dan semua sifat itu pada dzat Allâh subhanahu wa ta’ala merupakan sifat paling sempurna, paling luas dan paling agung.

Allâh subhanahu wa ta’ala berfirman:

لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ ۖ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allâh mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [an-Nahl: 60].

Artinya, Allâh subhanahu wa ta’ala mempunyai sifat kesempurnaan yang mutlak (tidak terbatas) dari semua segi. [Lih. Tafsir Ibnu Katsir 2/756].

4. Termasuk segi yang menunjukkan kemahaindahan Asmâul Husnâ adalah karena Allâh subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dengan nama-nama tersebut dan itu merupakan sarana utama untuk mendekatkan diri kepada-Nya, karena Allâh subhanahu wa ta’ala mencintai nama-nama-Nya, dan Dia mencintai orang yang mencintai nama-nama tersebut, serta orang yang menghafalnya, mendalami kandungan maknanya dan beribadah kepada-Nya dengan konsekwensi yang dikandung nama-nama tersebut.

Allâh subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

“Hanya milik Allah-lah Asmâul Husnâ (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu.” [al-A’râf: 180]

Yang dimaksud dengan berdoa dalam ayat ini adalah mencakup dua jenis doa, yaitu doa permintaan dan permohonan, serta doa ibadah dan sanjungan [Lih. Badâ-i’ul Fawâid 1/172 & Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 180] .

Pengertian doa permohonan (du’âut thalab) adalah berdoa dengan menyebutkan nama Allâh subhanahu wa ta’ala yang sesuai dengan permintaan yang kita sampaikan kepada-Nya. Contohnya, kita berdoa: “Ya Allâh, ampunilah dosa-dosaku dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah al-Ghafûr (Maha Pengampun) dan ar-Rahîm (Maha Penyayang)”; “Ya Allâh, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau adalah at-Tawwâb (Maha Penerima taubat)”. “Ya Allâh, limpahkanlah rezeki yang halal kepadaku, sesungguhnya Engkau adalah ar-Razzâq (Maha Pemberi rezki)”.

Adapun doa ibadah adalah dengan kita beribadah kepada Allâh subhanahu wa ta’ala sesuai dengan kandungan nama-nama-Nya yang maha indah. Konkretnya, kita bertaubat kepada-Nya karena kita mengetahui bahwa Allâh subhanahu wa ta’ala adalah at-Tawwâb (Maha Penerima taubat), kita berdzikir kepada-Nya dengan lisan kita karena kita mengetahui bahwa Allâh subhanahu wa ta’ala adalah as-Samî’ (Maha Mendengar), kita melakukan amal shaleh dengan anggota badan kita karena mengetahui bahwa Allâh Azza wa Jalla adalah al-Bashîr (Maha Melihat), dan demikian seterusnya. [Lih. Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 180 & al-Qawâ’idul Mutslâ hlm. 17-18].

PENUTUP

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang mengenal Allâh subhanahu wa ta’ala dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, maka dia pasti akan mencintai-Nya.” [Madârijus Sâlikîn: 3/17] .

***

Penyusun: Ustadz Abdullah Taslim, Lc. M.A.

Sumber: Majalah as-Sunnah

Leave a Comment