AKIBAT BURUK UNTUK PENCELA NABI

Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wajib, dan mengikuti beliau hukumnya wajib, menghormatinya wajib, memuliakannya wajib, mengagungkan sunnahnya wajib.

Oleh karena itulah para ulama kita, ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah menetapkan, bahwa barangsiapa memperolok-olok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau melecehkannya, atau merendahkannya, maka dia kafir, dia boleh dibunuh (oleh Aparat Hukum). Dan para ulama berselisih, apakah dia punya kesempatan bertaubat dan dimintai untuk bertaubat atau tidak.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menetapkan dalam Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, bahwa orang itu tidak berhak bertaubat setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena hak beliau tetap berlaku. Adapun hak Allah subhanahu wa ta’ala, seandainya seseorang mencela Rabb atau agama, kemudian bertaubat, maka ini antara dia dengan Allah Ta’ala. Adapun berhubungan dengan orang yang mencela Rasul, maka dia, walaupun bertaubat, tidaklah gugur hak Rasul. Sebab dia telah melontarkan gangguan kepada beliau.

Menyakiti Rasul sudah ada sejak dahulu, bahkan menyakiti para Nabi juga terjadi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَاكُذِّبُوا وَأُوذُوا

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka.” [al- An’am: 34]

Ada perbedaan antara yang diperolok-olok dan dicemooh itu seorang manusia biasa, dengan yang diperolok-oloknya itu adalah Allah Ta’ala, kitab Allah, agama Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini merupakan bentuk kekafiran. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ﴿٦٥﴾لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya, kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” [at-Taubah: 65-66].

Karenanya, hendaklah berhati-hati. Jangan sampai engkau memperolok-olok agama, al Qur`an, Allah dan Rasulullah. Karena semua tindakan ini merupakan kekafiran.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari hadits Anas (artinya):

“Dahulu ada di antara kami seorang laki-laki dari Bani Najjar yang menyusul Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu duduk kepadanya, untuk menghafal surat al- Baqarah dan Ali Imran, dan dia menulis untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia bergabung dengan orang-orang Romawi, -yaitu menjadi kafir- dan mulai membuat-buat kebohongan atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia mengatakan: “Muhammad tidak mengetahui apa-apa dari al Qur’an, sesungguhnya akulah yang menuliskan untuknya”. Namun tidaklah dia hidup, kecuali sehari atau dua hari saja, dia mati, Allah Ta’ala membunuhnya.

Orang-orang Romawi menghendaki untuk menguburnya, di dalam bumi. Mereka menggali lubang kubur baginya. Kemudian bumi memuntahkannya dari dalam tanah. Mereka mengatakan: “Mungkin kawan-kawan Muhammad mengeluarkannya”. Mereka menggali lubang kubur lagi baginya dengan dalam. Namun bumi memuntahkannya lagi. Mereka lalu mengatakan: “Mungkin kawan-kawan Muhammad mengeluarkannya”. Mereka membuat lubang kubur yang ketiga baginya dengan sangat dalam. Namun bumi memuntahkannya lagi. Maka mereka mengetahui bahwa perkara ini bukanlah dari para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Mereka meninggalkannya terlantar.” [HR. Muslim]

Inilah akibat buruk orang yang mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, membuat-buat kedustaan dan memperolok-olok beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Kisah tentang ini banyak, bahkan sangat banyak.

Orang-orang kafir sekarang ini yang mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka ingin melecehkan dan merendahkan umat Islam. Karena mereka melihat – sangat disayangkan – umat Islam saling berpecah-belah dan terbelakang. Mereka melihat banyak negara-negara Islam saling berperang. Setiap negara mengikuti negara-negara lain dan berusaha menjadikan mereka ridha melebihi usaha mereka dalam menggapai ridha Allah Ta’ala.

Lantaran itu, orang-orang kafir itu berani menulis, menggambar karikatur Nabi, dan koran-koran Eropa menerbitkan pelecehan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebenarnya, mereka ingin menguji hati umat ini, apakah umat ini memiliki kelezatan ruh keimanan, semangat untuk agamanya, atau apakah umat ini telah mati, tidak hidup, dengan demikian mereka akan berpindah menuju fase setelahnya.

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah meninggikan kedudukan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di seluruh alam. Dan Allah dari atas ‘Arsy-Nya menjamin (pembalasan) terhadap orang-orang yang memperolok-olok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firman-Nya :

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِءِينَ

“Sesungguhnya Kami memelihara kamu (wahai Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokan (kamu).” [al -Hijr : 95].

Maka jika ada orang yang mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perkataan atau dengan perbuatan, atau dengan isyarat, maka Allah subhanahu wa ta’ala yang akan menanganinya. Allah Ta’ala akan menyiksanya di dunia, sebelum di siksa di akhirat. Karena Allah Ta’ala telah menjanjikan siksaan pedih terhadap orang-orang yang memperolok-olok, dengan laknat, dijauhkan dari rahmat-Nya. Allah Ta’ala yang menjamin (siksaan) terhadap mereka, dan Dia telah melakukan pada setiap waktu.

Oleh sebab itu, kita berharap kepada Allah Ta’ala untuk membalas terhadap orang-orang yang memperolok-olok beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.  Dan kita mohon kepada Allah Ta’ala agar Dia mengembalikan umat Islam dengan sebaik-baiknya kepada agama mereka. Dan ini merupakan reaksi terbesar terhadap mereka, yaitu kita berpegang teguh kepada agama kita, kita berpegang teguh kepada Sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam, orang yang dipilih oleh Allah Ta’ala. Kita menghidupkan sirah (perjalanan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah-rumah kita, dan di antara anak-anak kita. Kita ajarkan sirah kepada anak-anak kita. Kita keluarkan harta kita untuk menyebarkan Islam, dan untuk menerjemahkan sirah Nabi kepada bahasa-bahasa yang lain di seluruh dunia ini. Agar kita mengenalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan akhlak beliau kepada manusia, dan kita memperkenalkan kepada orang-orang yang bodoh itu, siapakah orang yang mereka cela dan perolok-olok itu.

Karenanya, termasuk kesalahan, apabila kita menzhalimi orang-orang lain yang tidak bersalah, membakar gereja-gereja, mengebom dan merobohkan kantor-kantor kedutaan, ini merupakan kesalahan. Yang harus kita lakukan justru menyebarkan dan memperkenalkan pribadi Rasul yang Rahmatan Lil Alamin

Kita mohon kepada Allah Ta’ala agar menampakkan kekuatan-Nya kepada musuh-musuh kita, dan agar Dia menolong Islam dan umat Islam, menghinakan musuh-musuh agama, menerima syafa’at Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita.

***

Diringkas Oleh Tim al-Hujjah dari www.almanhaj.or.id

Leave a Comment