AQIDAH IMAM SYAFI’I

Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i rahimahullahu adalah seorang ulama klasik yang memiliki jasa dan usaha yang mulia nan berkah dalam membela sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengajak umat untuk kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Beliau merupakan sosok ulama pembaharu agama yang sebagian besar ulama menyebutkan bahwa beliau salah satu bagian dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّة عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَن يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Sesungguhnya Alloh taala akan mengutus untuk umat ini pada tiap 100 tahunnya seseorang yang akan membaharui agamaNya.” (HR Abu Daud).

Prinsip beliau dalam beragama terutama dalam masalah aqidah adalah prinsip yang haq (benar)  prinsipnya para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, tidak ada kontradiksi ataupun perbedaan padanya, karena mereka semua mengambil dari sumber yang satu yaitu al-Quran dan Sunnah yang dipahami sesuai pemahaman para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebenaran ini terbukti dari perkataaan beliau: “Aku beriman kepada Allah dan apa yang datang dari Allah sesuai dengan keimanan yang diinginkan Allah, dan aku beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Rasulullah dengan keimanan yang diinginkan Rasulullah.”

Akan tetapi sangat disayangkan di era dewasa ini, ramai kaum muslimin yang mengaku bermazhab syafi’i, mengaku mengikuti serta mempraktikkan Islam berdasarkan prinsip Imam Syafii, namun kenyataannya, sungguh praktik dan amalan mereka sangat tidak sesuai dengan fatwa-fatwa Imam Syafii rahimahullahu.

Oleh sebab itu perlu kiranya pada kesempatan kali ini kami sebutkan sebagian kecil dari sejumlah prinsip aqidah Imam Syafi’i rahimahullahu diantara:

1. Aqidah Imam Syafii tentang Iman

Imam Syafii mengatakan: “Adalah merupakan ijma’ para Sahabat, para Tabiin dan Ulama-ulama yang hidup setelahnya, mereka mengatakan bahwa iman adalah perkataan, perbuatan dan niat, dan tidak sempurna salah satu dari ketiganya kecuali dengan yang lainnya.”

Diriwyatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, beliau berkata: “Aku pernah mendengar As-Syafii berkata bahwasanya iman itu perkataan, perbuatan, bisa bertambah dan bisa juga berkurang.”(Manaqib as-Syafii 1/387)

2. Aqidah Imam Syafii tentang Nama-nama dan Sifat Allah

Imam adz-Dzahabi menuturkan dalam kitabnya Siyar A’lam Nubala bahwa Imam Syafii berkata: “Kita menetapkan sifat-sifat bagi Allah  sebagaimana disebutkan dalam al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita meniadakan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) sebagaimana Allah meniadakannya dalam firman-Nya: “Tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Asy-Syura:11).

3. Aqidah Imam Syafii tentang bersumpah dengan nama selain Allah

Imam Syafii rahimahullahu mengatakan: “Semua orang yang bersumpah dengan nama selain Allah, maka saya melarangnya dan mengkhawatirkan pelakunya, sehingga sumpahnya itu adalah kemaksiatan. Saya juga membenci bersumpah dengan nama Allah dalam semua keadaan, kecuali hal itu dalam ketaatan kepada Allah.” (al-Umm 7/61.  Manhaj Imam asy-Syafi’I fi Itsbat al-Aqidah, 1/271)

4. Aqidah Imam Syafii tentang fitnah kubur, hisab, syurga, dan neraka

Berkata as-Syafii rahimahullahu: “Sesungguhnya Azab kubur itu benar dan pertanyaan malaikat terhadap ahli kubur adalah benar. Hari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, syurga dan neraka serta selainnya yang sudah dijelaskan dalam sunnah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ada pada lisan-lisan para ulama dan pengikut mereka di negeri-negeri muslimin adalah benar.” (Manaqib asy-Syafi’I, karya Imam Baihaqiy, 1/415. Manhaj Imam asy-Syafi’I fi Itsbat al-Aqidah, 2/426)

5. Aqidah Imam Syafii tentang meratakan kuburan dan membuat bangunan di atasnya

Imam asy-Syafi’I mengatakan: “Saya suka kalau tanah kuburan itu tidak ditinggikan.. .Saya hanya menyukai kuburan itu ditinggikan satu jengkal dari atas tanah atau sekitar itu dari permukaan tanah.”

Beliau juga mengatakan: “Saya suka bila (kuburan) tidak dibuat padanya bangunan, karena itu menyerupai perhiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya. Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar didirikan bangunan di atasnya karena Rasulullah r telah melarang kuburan dibangun atau ditembok.” ( Syarah Muslim 2/666. Manhaj Imam asy-Syafi’I fi Itsbat al-Aqidah, 1/257-258)

6. Aqidah Imam Syafii tentang Membangun Masjid di tempat yang Ada Kuburan dan Sholat padanya

Berkata as-Syafii rahimahullahu: “Saya melarang dibangunnya masjid di atas kuburan dan disejajarkan atau dipergunakan untuk sholat di atasnya dalam keadaan tidak rata atau sholat menghadap kuburan. Apabila ia sholat menghadap kuburan, maka sholatnya masih sah namun ia telah berbuat dosa.” (al-Umm 1/278.  Manhaj Imam asy-Syafi’I fi Itsbat al-Aqidah, 1/261)

7. Aqidah Imam Syafii tentang menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an kepada mayyit

Disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullahu bahwa pendapat yang masyhur dari Imam Syafii adalah tidak boleh menghadiahkan pahala bacaan qur’an kepada mayyit, yang demikian itu tidak akan sampai kepada mayyit dan tidak akan bermanfaat baginya.” (Syarah Shahih Muslim: 1/87)

8. Aqidah Imam Syafii tentang Ziarah Kubur

Imam Syafii berkata: “Dan boleh melakukan ziarah kubur. Dalam ziarah kubur, janganlah mengucapkan kata-kata kotor yaitu mendoakan kejelekan kepada mayyit dan meratapinya. Tetapi beristigfarlah untuk si mayyit.’ Ziarah kubur khusus untuk laki-laki dan wanita tidak boleh melakukannya berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasanya Allah melaknat wanita yang menziarahi kubur.” (HR Imam Ahmad).

***

Penyusun: Ust. Saofi Rahman, Lc

(Pengajar di Ponpes Abu HurairahMataram)

Leave a Comment