KIAT-KIAT MENGHILANGKAN HASAD

Hasad adalah berharap hilangnya nikmat dari seseorang, ada juga sebagian ulama yang mengatakan hasad adalah merasa tidak suka melihat orang lain mendapatkan nikmat.

Hasad merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya yang bisa merusak dunia dan agama seseorang sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya (artinya):

“Telah datang kepada kalian penyakit ummat sebelum kalian (yaitu) hasad dan kebencian, ia adalah alat pemotong dan aku tidak mengatakan memotong rambut tetapi memotong agama dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai, maukah aku beritahukan kepada kalian yang menjaganya (saling mencintai) untuk kalian? Sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR.Tirmidzi].

Dengan hasad seseorang tidak akan pernah merasakan kebahagian dan hatinya senantiasa diliputi kebencian terutama ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat atau kebaikan.

Berkata sebagian Salaf: “Hasad adalah maksiat pertama yang dilakukan kepada Allah di langit (yaitu hasadnya Iblis kepada Nabi Adam alaihissalam) dan merupakan maksiat yang pertama dilakukan di muka bumi (yaitu antara dua anak Adam sehingga membunuh saudaranya)”.

Seorang muslim hendaknya berusaha untuk mejauhkan dan menghilangkan penyakit hasad. Berikut beberapa kiat untuk menghilangkan hasad:

Pertama: Menguatkan iman dengan melakuakan perintah Allah dan menjauhi perbuatan maksiat.

Kuatnya iman dalam hati seseorang menjadikannya senang apabila saudaranya mendapatkan nikmat, sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

                “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [HR. Bukhari & Muslim].

Tentu apa yang disebutkan dalam hadits di atas bertentangan dengan orang yang hasad, karena hasad menjadikan seseorang tidak mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri dan faktor utamanya adalah iman yang lemah.

Apalagi seseorang mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang ummat untuk hasad:

لاَ تَحَاسَدوا، وَلاَتَنَاجَشوا، وَلاَ تَبَاغَضوا، وَلاَ تَدَابَروا

                “Janganlah kalian saling hasad  dan jangan kalian melakukan jual beli munajasyah (menaikkan harga dengan cara curang) dan janganlah kalian benci dan berpaling…” [HR. Muslim].

Kedua:  Saling mencintai karena Allah dan melakukan sebabnya.

Hasad muncul karena permusuhan dan kebencian  dan hilangnya rasa saling mencintai karena Allah, oleh karena itu perlu ada usaha usaha menumbuhkan kembali kecintaan , seperti dengan memaafkan, memberi hadiah, membalas kesalahan dengan kebaikan dan juga menyebarkan salam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai, maukah aku beritahukan kepada kalian yang menjaganya (saling mencintai)? Sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR. Tirmidzi].

Berkata Imam Almawardi: “Di dalam hadist ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa salam bisa menimbulkan kecintaan maka dengan demikian salam bisa menghilangkan hasad.

Ketiga: Mengetahui bahaya hasad dan akibatnya yang tidak baik.

Hasad adalah penyakit yang bisa merusak agama seseorang dan menghalangi seseorang untuk menerima nasehat, berkata imam Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dan Hasad menghalangi seseorang untuk menerima nasehat…apabila hasad hilang maka untuk menerima nasehat dan memberikan nasehat.”

Imam Ibnul Qayyim juga menjelaskan tentang bahaya hasad: “Bahwasanya hasad pada hakikatnya menentang Allah dan membenci nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya.” [al-Fawaid].

Ketika seseorang muslim mengetahui keburukan yang muncul karena hasad, maka tidak ada pilihan kecuali berusaha untuk menjauhkannya.

Keempat: Beriman kepada takdir Allah.

Allah ta’la berfirman:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلى مَا آتاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

                “Apakah mereka hasad terhadap manusia atas apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya.” [QS. an-Nisa’: 55].

Beriman kepada takdir menjadikan seseorang menerima sepenuhnya kelebihan yang Allah berikan kepada orang lain, karena apa yang Allah telah tetapkan tidak akan berubah dengan hasad dan hasad terhadap pemberian Allah kepada orang lain bertentangan dengan takdir dan keinginan Allah, berkata Ibnu Qayyim rahimahullah: “Hasad menentang ketetapan takdir Allah.”

Kelima: Berdo’a dan memohon kepada Allah.

Tidak ada obat yang paling baik untuk menghilangkan penyakit hasad kecuali berdo’a kepada Allah, karena Dialah Allah yang menguasai hati manusia dan membolak balik sesuai dengan keinginannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):

“Sesungguhnya hati hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari Allah yang maha penyayang, bagaikan hati satu orang, Allah melakukan apa yang Dia inginkan padanya, kemudian Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Ya Allah yang mengatur hati, jadikanlah hati kami pada ketaatan.” [HR. Muslim].

Keenam: Zuhud terhadap dunia.

Di antara yang menyebabkan munculnya hasad dalam diri seseorang adalah tamak dan rakus terhadap dunia dan ini akan menjadikan seseorang tidak senang apabila ada orang lain yang mengalahkan dalam kelebihan dunia atau menyamainya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ازهَد في الدُّنيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وازهَد فيمَا عِندَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

                “Zuhudlah di dunia maka kamu dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka kamu dicintai manusia.” [HR. Ibnu Majah].

Ketujuh : Berbuat baik kepada orang yang kita hasad.

Berbuat baik kepada orang yang dihasad mampu menghilangkan hasad dalam diri seseorang, karena perbuatan baik akan merubah permusuhan menjadi pertemanan yang baik, Allah berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أحسن فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Balaslah dengan yang lebih baik, maka orang yang ada permusuhan denganmu akan menjadi teman yang setia”. [QS. al-Mu’minun: 96].

***

Oleh: Ust. Ahmad Yani, Lc

Leave a Comment