RAMADHAN BULAN DO’A

 

Bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi orang-orang yang beriman untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai bentuk  peribadahan. Terutama sekali dengan memperbanyak berdo’a dan berdzikir karena do’a orang yang sedang berpuasa sangat mustajab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِى لأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ »

“Tiga orang yang tidak akan ditolak do’anya, orang yang puasa sampai ia berbuka, imam (pemimpin) yang adil dan do’a orang yang dizholimi. Allah akan mengangkat do’anya ke atas awan dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit dan Allah berkata: ‘Demi kemuliaanku benar-benar Aku akan menolongmu walaupun beberapa waktu lagi.” [Silsilah As Shahihah: 1797].

Di antara keutamaan berdo’a antara lain:

1. Berdo’a adalah ibadah yang sangat dicintai Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لمَ ْ يَدْعُ اللهَ سُبْحَانَهُ غَضِبَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang tidak berdo’a kepada Allah maka Allah murka kepadanya.” [Shahih Ibnu Majah: 3100].

2. Berdo’a merupakan pertanda kuatnya semangat dan iman seseorang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ وَ أَبْخَلُ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلاَمِ

“Selemah-lemah manusia adalah yang lemah dari berdo’a dan sekikir-kikir manusia adalah yang pelit memberikan salam” [Silsilah Shahihah: 601]

3. Do’a merupakan sebab yang bisa menolak takdir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda (artinya):

“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali do’a.” [Shahih at-Targhib: 1638]

Takdir yang dimaksud adalah penulisan takdir harian dan tahunan pada malam lailatul qadar sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (Artinya):

“Allah menghapuskan apa yang dia kehendaki dan menetapkan (apa yang dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (QS. Ar Ra’du: 39).

4. Do’a pasti akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala disadari maupun tidak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda (artinya):

“Tidaklah seorang muslim berdo’a  kepada Allah dengan suatu do’a yang bukan berisi dosa dan pemutusan silaturrahmi kecuali Allah akan mengabulkannya dengan tiga cara: Bisa disegerakan pengabulannya (di dunia), disimpankan untuknya di akhirat atau Allah akan hindarkan dia dari keburukan semisalnya”. Para sahabat berkata: “Kalau begitu kita akan memperbanyak do’a (wahai Rasulullah)”. Beliau menjawab: ”Allah akan mengabulkannya lebih banyak dari yang kalian minta.” [Shahih At Targhib wa At Tarhib: 1633]

5. Do’a akan memberikan bermanfa’at untuk masa yang telah lalu dan akan datang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya):

“Do’a bermanfaat terhadap apa yang sudah terjadi dan yang belum terjadi. Maka wahai hamba Allah berdo’alah.” [Shahih Al Jami’: 3402]

Namun terkadang seseorang berdo’a tetapi ia tidak pernah merasa dikabulkan. Maka dalam situasi seperti ini seorang  muslim harus memperhatikan syarat-syarat dikabulkannya do’a agar tercapai harapannya.

Syarat-syarat dikabulkannya do’a adalah:

1. Menghadirkan hati ketika berdo’a dan yakin hanya Allah saja yang dapat mengabulkan do’a.

Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالإِجَابَةِ, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَيَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan do’a dari hati yang lalai lagi lengah.” [Shahih Tirmidzi: 2766]

2. Khusu’, optimis dengan rahmat Allah dan takut akan adzab-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [al-Anbiya’: 90]

3. Menjauhi makanan, minuman, dan pakaian yang haram

Dari Abu Hurairah dalam hadits yang panjang, ia mengatakan:

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ, أَشْعَثَ أَغْبَرَ, يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلىَ السَّمَاءِ, يَارَبِّ! يَارَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ ,وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ, وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ, وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ, فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Kemudian beliau (Nabi) menyebutkan seorang musafir yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan lagi berdebu, ia menengadahkan tangan ke langit sambil berkata: “Wahai Rabbku, Wahai Rabbku”! sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia dikenyangkan dengan yang haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan.” [HR. Muslim]

4. Tidak tergesa-gesa untuk dikabulkan dan tidak futur dalam berdo’a.

Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُسْتَجَابُ ِلأَحَدِكُمْ مَالمَ ْ يَعْجَلْ, يَقُوْلُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Akan dikabulkan (permintaan) salah seorang kalian selama tidak tergesa-gesa yaitu ia mengatakan:’Aku telah berdo’a tetapi tidak dikabulkan.” [HR. Bukhari & Muslim]

5. Tidak berdo’a yang isinya untuk mendukung permusuhan atau memutuskan silaturrahmi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya):

“Senantiasa permintaan seorang hamba itu dikabulkan selama ia tidak berdo’a untuk suatu dosa atau pemutusan tali silaturrahmi.”  [HR. Muslim]

6. Bersungguh-sungguh dalam berdo’a.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلاَ يَقُلْ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ وَلَكِنْ  لِيَعْزِمِ اْلمَسْأَلَةَ, وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللهَ لاَيَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

“Jika salah seorang kalian berdo’a jangan mengatakan: ”Ya Allah ampunilah saya jika Engkau mau”, tetapi hendaklah ia memperkuat tekad permintaannya serta memperbesar harapannya karena tidak ada yang memberatkan Allah dalam memberikan anugerah sebesar apapun itu.” [HR. Bukhari & Muslim]

7. Senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar menurut kemampuan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ اْلمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

“Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, benar-benar kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran atau hampir-hampir Allah akan mengirimkan siksa atas kalian kemudian kalian berdo’a  kepada-Nya namun Allah tidak akan mengabulkan.” [Shahihul Jami’: 6947)

***

 Penyusun: Ustadz Ali Sulis

(Pengajar Mahad Abu Hurairah Mataram)

 

 

 

 

Leave a Comment