PILAR PILAR STABILITAS KEAMANAN NEGARA

Keamanan merupakan hal yang sangat penting, tanpanya manusia sulit menjalani aktivitas kesehariannya baik aktivitas duniawi maupun ukhrawi.

Mewujudkan keamanan merupakan bagian dari iman.  Ia adalah konsekuensi dari ukhuwah Islamiyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” [HR. Bukhari & Muslim].

Seorang muslim dianjurkan untuk berdoa meminta keamanan dari segala fitnah dan keburukan di setiap pagi dan sorenya dengan membaca doa:

اللَّـهُمَّ إِنِّـي أَسأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِـيَةَ فِـي الدُّنْيـَا وَالآخِـرَةِ، اللَّـهُمَّ إِنِّـي أَسأَلُكَ الْعَـفْوَ وَالْـعَافِـيَةَ فِـي دِيْـنِـي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ، وَمَالِـي، اللَّهُمَّ اسْـتُـرْ عَـوْرَاتِـي وَآمِنْ رَوْعَاتِـي، اللَّهُمَّ احْـفَظْنِـي مِنْ بَينِ يَـدَيَّ وَمِنْ خَـلْـفِي، وَعَنْ يَـمِيـنـِي وَعَنْ شِـمَالِي، وَمِنْ فَوْقِـي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَـتِكَ أَن أُغْـتـَالَ مِن تَـحْـتِـي

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan tenangkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, jagalah aku dari arah muka, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak dihancurkan dari bawahku.”

Keimanan dan keamanan memiliki hubungan yang sangat erat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Surat Al-An’am 82].

Kemanan adalah buah dari keimanan.

Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan kemananan kepada orang yang beriman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [Surat An-Nur: 55]

Cara mewujudkan keamanan di masyarakat adalah dengan mendakwahkan dan menerapkan keimanan dalam kehidupan mereka dan saling menasehati satu sama lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

“Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Surat Al-Asr 1 – 3]

Allah subhanahu wa ta’ala mengancam orang yang meninggalkan keimanan dengan menghilangkan keamanan dan ketentraman dari mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ  وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” [Surat An-Nahl 112].

Seorang muslim wajib menahan diri dari menyebarkan berita fitnah dan mengembalikan urusannya kepada Ulil Amri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [Surat An-Nisa’ 83].

Keamanan itu butuh perlindungan dari negara.

Ada ulama yang berkata:

“Tidak ada keamanan tanpa jamaah dan tidak ada jama’ah tanpa imam dan tidak ada imam kecuali dengan mendengar dan ta’at.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [Surat An-Nisa’ 59]

Keamanan tidak mungkin terwujud tanpa adanya hubungan yang baik antara pemerintah dan rakyatnya.

Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan saling menasehati antara rakyat dengan pemimpinnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Agama itu nasihat. Kami bertanya, (Nasihat) untuk siapa, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, (Nasihat) bagi Allah, kitab-Nya, para rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan masyarakat umum.” [HR. Muslim]

Kaum muslimin dianjurkan untuk mendoakan pemimpin dengan kebaikan dan menasehatinya dengan cara yang baik serta berusaha menjauhi sebab-sebab perpecahan dan kekacauan.

Kita wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat aman di Indonesia dan menjauhi semua sebab kekacauan. Semoga Allah senantiasa memberikan keamanan kepada negeri kita, memberikan petunjuk dan kemudahan kepada pemimpin kita dalam mengurus negara ini, dan semoga Allah memberikan kita semua keselamatan di dunia dan akhirat.

***

Disarikan dari Ceramah Syaikh. Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Leave a Comment