Tentang Takdir Ilahi

Keyakinan pada takdir Allāh adalah salah satu rukun iman di antara rukun-rukun iman (arkān al-īmān) yang enam. Seseorang belumlah dikatakan beriman jika tidak mengimani takdir Allāh, sekalipun dia meyakini kelima rukun iman yang lain. Bahkan segenap amal salatnya, puasanya, hajinya, sedekahnya, dan seluruh amal ibadahnya, tidak akan diterima oleh Allāh jika dia belum beriman pada takdir dengan keimanan yang benar. ‘Abdullāh bin ‘Umar, putra ‘Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiallāhu’anhuma, pernah berkata tentang sekelompok orang yang mengingkari takdir Allāh:

إذا لقيت هؤلاء فأخبرهم أني براء منهم وأنهم برآء مني ، والذي يحلف به عبد الله بن عمر (أي : يحلف بالله) لو كان لأحدهم مثل أحد ذهبا ثم أنفقه ما قبله الله منه حتى يؤمن بالقدر

Jika kalian bertemu dengan mereka (para pengingkar takdir), maka kabarkan kepada mereka bahwa aku berlepas dari mereka dan mereka telah berlepas diri dariku. Demi Allāh, andai salah seorang di antara mereka memiliki emas setara gunung Uhud lantas mereka menginfakkannya semua, pasti Allāh tidak akan menerimanya sampai ia beriman kepada takdir.” [Shahīh Muslim: 8]

Kata para ulama, hakikat beriman pada takdir Allāh adalah:

التصديق الجازم بأن كل ما يقع في هذا الكون فهو بتقدير الله تعالى

Keyakinan mutlak bahwasanya segala sesuatu yang berlangsung di alam semesta ini (tanpa ada kecuali), semuanya terjadi atas ketentuan dan kehendak Allāh ta’āla.”

Bahkan Allāh telah menuliskan di al-Lauḥ al-Maḥfūẓ segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini semenjak 50 ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi [HR. Muslim: 2653]. Semua telah ditentukan dan dicatat oleh-Nya, termasuk ajal, rezeki, jodoh, kebahagiaan maupun kesengsaraan bagi segenap makhluk-Nya. Dan sama sekali Allāh tidak berbuat zalim atas takdir yang telah ditetapkan-Nya untuk setiap makhluk.

Empat Tingkatan Beriman pada Takdir

Keimanan yang benar akan takdir Allāh, haruslah mencakup keimanan terhadap empat tingkatan berikut ini:

Pertama: al-‘Ilm, yaitu meyakini bahwa Allāh mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini secara terperinci. Satu pun tak ada yang luput dari pengetahuan-Nya. Bahkan langkah semut hitam di batu cadas hitam di tengah malam yang gelap, Allāh mengetahui dengan detail berapa kali ia akan melangkah. Allāh juga mengetahui apa yang tidak akan terjadi, jika ia terjadi, seperti apa kejadiannya. Sebagaimana firman Allāh:

وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عِلۡمَۢا

dan sesungguhnya Allāh, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” [QS. at-Ṭalāq: 12]

Kedua: al-Kitābah, yaitu keimanan bahwa Allāh telah menuliskan segenap takdir makhluk di dalam sebuah kitab induk, al-Lauḥ al-Maḥfūẓ. Allāh berfirman akan hal ini:

أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۗ إِنَّ ذَٲلِكَ فِى كِتَـٰبٍ‌ۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allāh mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab [Lauḥ Maḥfūẓ]? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” [QS. al-Ḥajj: 70]

Ketiga: al-Masyī-ah, yaitu keimanan bahwa segala sesuatu yang berjalan di alam semesta ini, terjadi atas kehendak Allāh. Apa yang dikehendaki oleh Allāh, pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki oleh-Nya, mustahil akan terjadi. Allāh menegaskan dalam firman-Nya:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan kamu tidak dapat menghendaki [menempuh jalan itu] kecuali apabila dikehendaki Allāh, Tuhan semesta alam.” [QS. at-Takwīr: 29]

Keempat: al-Khalq, yaitu keimanan bahwa Allāh menciptakan segala sesuatu, termasuk perbuatan hamba adalah ciptaan Allāh. Tidak ada satu pun yang terjadi di alam semesta ini, melainkan Allāh lah yang telah menciptakannya. Allāh berfirman dalam Surah az-Zumar ayat ke-62, yang artinya: “Allāh adalah pencipta segala sesuatu.” Juga dalam Surah as-Shaffāt, Allāh berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُون

Allāh lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” [QS. as-Shaffāt: 96]

Selain 4 tingkatan keimanan di atas, harus diyakini pula bahwa Allāh mustahil berbuat zalim pada makhluk-Nya. Allāh tidak zalim kepada iblis, kendati iblis telah divonis sebagai makhluk-Nya yang bakal kekal dalam neraka. Allāh Mahadil, Dia tidak menghukum hamba-Nya tanpa sebab. Hakikat keadilah takdir Allāh dan hikmah perbuatan-Nya, tidak mungkin digapai oleh akal manusia secara menyeluruh. Karena itulah, Allāh berfirman menegaskan:

لَا يُسۡـَٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ وَهُمۡ يُسۡـَٔلُونَ

Dia (Allāh) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” [QS. al-Anbiyā’: 23]

Kendati bergantung pada kehendak Allāh, manusia tetap memiliki kehendak dan kemampuan dalam memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia bisa memilih, menjadi orang yang beriman ataukah menjadi orang yang ingkar (kafir) pada Allāh. Manusia bisa memilih, mengerjakan yang haram atau meninggalkannya. Dan Allāh telah memberitahu melalui al-Qur’ān Rasul-Nya, konsekuensi dari masing-masing pilihan tersebut.

Sekalipun Allāh adalah Pencipta kebaikan dan keburukan, selamanya keburukan tidak bisa disematkan pada Allāh. Karena keburukan yang Allāh ciptakan, tak ada yang murni (100%) buruk. Iblis sebagai makhluk yang paling buruk saja, punya hikmah positif dibalik penciptaannya. Dan secara syar’i, Allāh tidak menyukai hamba-Nya bermaksiat, Allāh tidak pernah memerintahkan tindakan maksiat, bahkan Allāh telah melarang kita mendekatinya. Maka tidak boleh menyalahkan Allāh, atau berdalil dengan takdir, atas kemaksiatan yang kita lakukan. Bahkan iblis mengakui hal ini. Kelak ketika neraka sudah di depan mata, iblis tidak menyalahkan Allāh atas takdir-Nya, iblis akan menyuruh para pengikutnya untuk menyalahkan diri mereka sendiri, sebagaimana dikabarkan dalam al-Qur’ān:

وَمَا كَانَ لِىَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَـٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِى‌ۖ فَلَا تَلُومُونِى وَلُومُوٓاْ أَنفُسَڪُم‌ۖ مَّآ أَنَا۟ بِمُصۡرِخِڪُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِىَّ‌ۖ

…Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan [sekedar] aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku…” [QS. Ibrāhīm: 22]

Sekalipun baik-buruk, bahagia-sengsara, dan surga-neraka, telah ditetapkan oleh Allāh bagi hamba-Nya, kita tidak boleh pasrah lantas tak mau beramal. Karena takdir, selalu akan menjadi rahasia-Nya. Kewajiban kita hanya berusaha dan terus beramal sesuai tuntunan Allāh. Jika lapar dan dahaga bisa menjadikan kita berusaha mencari makan dan minum, maka atas alasan apa kita pasrah tak mau beramal demi menggapai surga-Nya..??

***

Lombok, 20-04-2017

Abu Ziyan Jo Saputra Halim

(Pimred www.alhujjah.com)

 

Leave a Comment