TENTANG TAKDIR ILAHI (BAGIAN 2)

BERDALIH DENGAN TAKDIR

Pada pembahasan sebelumnya, telah dipaparkan empat tingkatan beriman kepada takdir.
Pertama, kita wajib meyakini bahwa jauh sebelum makhluk tercipta, Allāh sudah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini secara terperinci, baik yang tidak nampak (ghaib) maupun yang nampak, termasuk siapa di antara hamba-Nya yang akan memilih untuk taat dan siapa yang memilih ingkar. Kedua, kita wajib meyakini bahwa Allāh telah menuliskan segenap pengetahuan-Nya tersebut dalam sebuah kitab induk yaitu al-Lauh al-Mahfūzh. Ketiga, kita wajib yakin bahwa tidak ada satupun di alam semesta ini yang terjadi di luar kehendak Allāh. Keempat, kita wajib yakin bahwa Allāh-lah pencipta segala sesuatu di alam semesta ini, termasuk segala apa yang terjadi di dalamnya.

Jadi Allāh telah mengetahui siapa saja penduduk surga dan neraka, dan Allāh telah mencatatnya dalam al-Lauh al-Mahfūzh. Lantas, jika seseorang sengaja melakukan kemaksiatan dan kejahatan, sengaja memilih kekafiran, bolehkah dia berdalih dengan takdir?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh mengungkapkan:

قال شيخ الإسلام ابن تيمية ـ رحمه الله ـ : ” وليس لأحد أن يحتج بالقدر على الذنب باتفاق المسلمين ، وسائر أهل الملل ، وسائر العقلاء ؛ فإن هذا لو كان مقبولاً لأمكن كل أحد أن يفعل ما يخطر له من قتل النفوس وأخذ الأموال ، وسائر أنواع الفساد في الأرض ، ويحتج بالقدر. ونفس المحتج بالقدر إذا اعتدي عليه ، واحتج المعتدي بالقدر لم يقبل منه ، بل يتناقض ، وتناقض القول يدل على فساده ، فالاحتجاج بالقدر معلوم الفساد في بدائه العقول “

“Tak ada seorang pun yang berhak beralasan dengan takdir atas dosa yang dilakukannya. Ini sudah jadi kesepakatan kaum muslimin, dan seluruh penganut agama (bahkan), juga orang-orang berakal. Jika beralasan dengan takdir dibenarkan, niscaya orang-orang akan bebas melakukan apa yang melintas dalam pikirannya, termasuk membunuh jiwa, merampas harta, dan semua jenis kesewenang-wenangan yang ada di muka bumi, lantas dia bisa beralasan dengan takdir. Padahal jika orang yang berdalih dengan takdir ini dizalimi oleh orang lain yang juga berdalih dengan takdir, niscaya dia tidak akan terima. Ini tentu sikap yang kontradiktif, dan sesuatu yang kontradiktif, adalah sesuatu yang rusak (dari sudut pandang kebenaran). Simpulannya, beralasan dengan takdir (atas dosa yang kita lakukan), merupakan metode berdalil yang tertolak oleh akal.” [Majmu’ al-Fatawa: 8/179]

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa seseorang tidak bisa berdalih dengan takdir atas kemaksiatan dan dosa yang sengaja diperbuatnya:

Pertama:

al-Quran menjelaskan bahwa beralasan dengan takdir adalah metode berdalih orang-orang musyrik. Allāh berfirman:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu apapun”. Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. [QS. Al-An’am: 148]

Andai dalih takdir mereka bisa dibenarkan, maka konsekuensinya Allāh itu telah berbuat zalim pada hamba-hamba-Nya yang musyrik, karena toh Allāh tetap menghukum mereka di akhirat. Jika Allāh menghukum hamba-Nya padahal hamba tersebut sudah memaparkan alasan yang benar, berarti Allāh sudah berbuat zalim. Mahasuci Allāh dari anggapan yang rusak ini. Dihukumnya mereka di akhirat, menunjukkan dalih mereka dengan takdir tidaklah benar.

Kedua:

Andai berdalih dengan takdir bisa dibenarkan, maka tak ada faidahnya Allāh menurunkan kitab-kitab suci dan tak ada artinya Allāh mengutus para Rasul. Sementara tujuan Allāh mengutus mereka adalah untuk menegakkan hujjah-Nya atas manusia:

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

(Mereka Kami utus) selaku Rasul-Rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allāh sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allāh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. an-Nisaa’: 165]

Ketiga:

Berdalih dengan takdir adalah metode berdalih yang dulu pernah dipraktekkan oleh iblis. Al-Qur’ān mengisahkan ungkapan iblis di hadapan Allāh:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” [QS. al-A’raf: 16]

Lihatlah bagaimana iblis berdalih dengan takdir. Andai dalih iblis tersebut bisa dibenarkan, tentu iblis tidak selayaknya jadi makhluk yang terkutuk.

Keempat:

Allāh tidak pernah memaksa hamba untuk berbuat sesuatu. Andai Allāh memaksa hamba untuk melakukan kemaksiatan, maka itu sama saja dengan menganggap Allāh telah membebani hamba-Nya dengan perintah dan larangan yang tidak sanggup untuk diemban. Mahasuci Allāh dari anggapan seperti ini. Karena Dia telah menegaskan dalam firman-Nya:

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

“Allāh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” [QS. al-Baqarah: 286]

Setiap kemaksiatan yang dicatat sebagai dosa oleh Allāh, pastilah merupakan​ pilihan dan kehendak hamba tersebut untuk melakukannya. Allāh tidak pernah dan tidak akan mencatat dosa atas kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang​; yang tidak sengaja, tidak sadar, hilang akal, di bawah paksaan, atau orang yang lupa. Ini bukti bahwa Allāh sama sekali tidak memaksa hamba-Nya. Sehingga orang yang berdalih dengan takdir atas kesalahan yang sengaja ia perbuat, berarti secara tidak langsung, ia telah menuduh Allāh memaksa hamba-Nya berbuat maksiat.

Kelima: 

Andai berdalih dengan takdir atas perbuatan maksiat bisa dibenarkan, maka penduduk neraka tentu akan melakukannya di akhirat kelak, ketika neraka telah nyata di hadapan mata mereka. Namun mereka tidak berdalih dengan takdir. Mereka justru mengakui bahwa yang salah adalah mereka, bukan takdir Allāh. Simaklah pengakuan mereka:

رَبَّنَآ أَخِّرۡنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٍ۬ قَرِيبٍ۬ نُّجِبۡ دَعۡوَتَكَ وَنَتَّبِعِ ٱلرُّسُلَ‌ۗ

“…Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami [kembalikanlah kami ke dunia] walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti Rasul-Rasul…” [QS. Ibrāhīm: 44]

وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِىٓ أَصۡحَـٰبِ ٱلسَّعِيرِ

“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan [peringatan itu] niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” [QS. al-Mulk: 10]

Demikianlah. Sehingga bukan cuma tidak layak, seseorang tidak bisa berdalih dengan takdir atas kemaksiatan yang diperbuatnya. Sungguh aneh jika ada orang yang telah mengetahui adanya dua jalan; jalan menuju surga, dan jalan menuju neraka, lantas dia memilih jalan menuju neraka dengan sengaja dan sadar akan pilihannya tersebut, lalu setelah sampai di bibir jurang neraka dia berdalih; gara-gara takdir Allāh saya akan binasa. Padahal ketika merasa lapar dan haus di dunia, dia berusaha mencari makan dan minum. Ketika dingin menggigil, dia menyalakan perapian. Ketika terik matahari menyengat, dia mencari tempat berteduh. Ketika ingin kaya, dia berusaha sekuat tenaga mengumpulkan sebanyak mungkin harta. Namun kenapa untuk urusan akhirat, dia justru berdalih pada takdir..??

Berdalih dengan takdir diperbolehkan dalam urusan musibah yang menimpa. Karena musibah terjadi di luar kehendak manusia. Jika ada orang yang tertabrak mobil misalkan, maka dia boleh berdalil dengan takdir lalu bersabar, dan orang lain akan menerima dalih takdirnya. Namun si sopir, jika mengemudi serampangan, tak ada seorang pun yang akan menerima dalih takdirnya. Dulu Nabi Adam ‘alaihissalām pernah berdalil dengan takdir di hadapan Mūsa ‘alaihissalām. Hanya saja bukan dosa yang didalihkan oleh Adam ‘alaihissalām, karena Adam sendiri telah mengakui kesalahannya di hadapan Allāh dan bertaubat darinya. Nabi Adam berdalih dengan takdir atas musibah yang menimpanya, dan menimpa anak-anak keturunannya (termasuk Mūsa ‘alaihissalām), karena mereka harus terlahir dan hidup di dunia, bukan di surga. Inilah yang dijelaskan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah dalam kitab al-Ihtijāj bil-Qadar (18-22).

Itulah sebabnya, saat musibah menimpa, al-Qur’an memerintahkan sabar. Namun jika kesalahan yang kita perbuat, al-Qur’an menyuruh kita bertaubat:

فَٱصۡبِرۡ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقٌّ۬ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu…” [QS. Ghāfir: 55].

***

Lombok, 01 Sya’bān 1438 | 04272017

Abu Ziyan Jo Saputra Halim

Leave a Comment