Memetik Sepenggal Akhlak Para Nabi

Para Nabi dan Rasul Allah subhanahu wa ta’ala adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang terbaik, mereka memiliki keutamaan dan kebaikan yang luas.

Karena itu Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk meneladani perjalanan hidup mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

“Mereka itulah (para Nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” [QS. al-An’am: 90].

 

Di antara hal yang perlu kita teladani pada para Nabi dan Rasul adalah :

1. Mereka Adalah Manusia Yang Paling Takut Kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah orang-orang yang ‘alim.” [QS. Faatir: 28].

Yang paling banyak mengambil bagian dalam ayat ini tentunya para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam, karena mereka adalah manusia yang paling ‘alim.

diantara contoh betapa besarnya rasa takut para Nabi dan Rasul ‘alaihis salam kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah:

 

a. Nabi Adam ‘alaihis salam

Nabi Adam ‘alaihis salam setelah memakan buah yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, beliau bertaubat dan berkata:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Keduanya (Nabi Adam dan Hawwa’) berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. al-A’raf: 23].

Do’a Nabi Adam ‘alaihis salam di atas menggambarkan betapa besar rasa takut beliau kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Segera mengakui kesalahan disertai dengan permohonan ampun dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki rasa takut yang sangat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

b. Nabi Nuh ‘alaihis salam

Nabi Nuh ‘alaihis salam ketika memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar anaknya Kan’an diselamatkan dari banjir, beliau ditegur oleh Allah subhanahu wa ta’ala :

قَالَ يَا نُوْحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ، إَنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ، فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهَ عِلْمٌ، إِنِّيْ أَعِظُكَ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasehatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang jahil’.” [QS. Hud: 46].

Mendengar teguran Allah subhanahu wa ta’ala, Nabi Nuh ‘alaihis salam langsung menyadari kesalahnnya dan memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala .

Nabi Nuh ‘alaihis salam berkata:

قَالَ رَبِّيْ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهِ عِلْمٌ، وَإِلَّا تَغْفِرْلِيْ وَتَرْحَمْنيْ أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Nuh berdo’a: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi’.” [QS. Hud: 47].

Rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala lah yang mendorong Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk segera bertaubat dan memohon rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

2. Mereka Adalah Manusia Yang Paling Beradab Kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam adalah manusia yang paling beradab kepada Allah subhanahu wa ta’ala di antara mereka adalah:

a. Nabi Isa ‘alaihis salam

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan  tingginya adab beliau kepada Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ اللهُ يَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخَذُوْنِيْ وَأُمَّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللهِ، قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْ أَنْ أَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّ، إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ، تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَا أَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْب

“Dan ingatlah ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” Isa menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukkan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” [QS. al-Maidah: 116].

 3. Mereka Tidak Membalas Jika Hak Pribadi Mereka Yang Dilanggar, Mereka Hanya Akan Marah Jika Syari’at Allah subhanahu wa ta’ala Yang Dilanggar.

Para Nabi alaihimus shalatu was salam adalah manusia yang paling bersih hatinya dari dendam.

a. Nabi Ya’qub ‘alaihis salam

Nabi Ya’qub ‘alaihis salam tetap memintakan ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk anak-anak beliau ketika mengetahui anak-anak beliau melakukan kesalahan dengan membawa berita bohong tentang kematian Yusuf ‘alaihis salam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menceritakan kejadian tersebut:

 قَالُوْ يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِيْن، قال سوف أستغفر لكم ربي إنه هو الغفور الرحيم

“Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah. Ya’qub berkata: ‘Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” [QS. Yusuf: 97-98]

Demikian pula sikap Nabi Yusuf ‘alaihis salam kepada saudara-saudara beliau yang telah menzaliminya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَالَ لَا يَثْرِيْبَ عَلَيْكُمْ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الَّراحِمِيْن

“Yusuf berkata (kepada saudara-saudaranya): ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang’.” [QS. Yusuf: 92].

 

b. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang memiliki akhlak yang paling sempurna. Tidak ada sedikitpun rasa dendam di dalam diri beliau.

Istri beliau ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata menceritakan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَا انْتَقَمَ َرسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِنَفْسِهِ فِيْ شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ حَتَّى يُنْتَهَكَ مِنْ حُرُمَاتِ اللهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membalas jika hak pribadinya dilanggar, namun beliau marah jika Syari’at Allah subhanahu wa ta’ala yang dilanggar.” [HR. al-Bukhari].

Inilah beberapa akhlak para Nabi ‘alaihimus shalatu was salam yang layak untuk kita teladani dalam kehidupan kita sehari-sehari.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kemudahan kepada kita.  Aamiin.

 

Wallahu A’lam

***

Penyusun:

Ustadz Rasyid Ridho Ats-Tsigah, Lc.

(Pengajar Ma’had Abu Hurairah)

 

 

 

Leave a Comment