ADAB TILAWAH AL-QUR’AN

Ramadhan adalah bulan yang kita dianjurkan memperbanyak membaca al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab yang memiliki kehormatan, maka terdapat adab-adab yang seharusnya diperhatikan oleh setiap muslim yang membacanya, di antaranya adalah:

Mengiklaskan niat.

Rasulullah ﷺ bersabda (artinya):

“Sesungguhnya semua amalan itu tergantung niat-niatnya dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan pada apa yang diniatkannya…” [HR.al-Bukhari].

Siapa saja yang menghafal al-Qur’an atau membacanya karena riya’, maka nerakalah yang menjadi ancamannya.

Rasulullah ﷺ  bersabda (artinya):

“Tiga orang yang pertama kali dinyalakan api neraka untuk mereka pada hari Kiamat nanti…[Rasulullah ﷺ  kemudian menyebutkan di antaranya]… Seorang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan (bagi ahli al-Qur’an) sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah ﷻ bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat? ‘ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca al-Qur’an demi Engkau.’ Allah ﷻ  berfirman: ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kamu telah mendapatkan pujian tersebut, maka diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.” [HR.Muslim].

Disunnahkan membacanya dalam keadaan suci.

Namun jika membacanya (tanpa memegang mushaf) dalam keadaan berhadats dibolehkan berdasarkan kesepatakan para ulama.

Catatan: Ini berkaitan dengan masalah membaca, namun untuk menyentuh al-Quran dipersyaratkan harus suci. Dalil yang mendukung hal ini adalah:

Rasulullah ﷺ  pernah menulis surat untuk penduduk Yaman yang isinya, “Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci”. [HR. Daruquthni. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’]

Membaca Isti`adzah (berlindungan kepada Allah ﷻ  dari godaan setan) sebelum membaca al-Qur’an.

Allah ﷻ  berfirman :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” [An-Nahl :98]

Kemudian membaca basmalah apabila membaca al-Qur’an dari awal surat atapun dari tengah surat, kecuali surat at-Taubah hanya dicukupkan dengan membaca isti’adzah, yakni membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

[At-Tibyan, hlm. 80]

Membaca dengan khusyu’ dan berusaha untuk mentadabburi (merenungkan) setiap ayat yang dibaca.

Allah ﷻ  berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” [Qs. Shaad: 29]

Sepantasnya membaca dengan sirr (suara kecil) apabila dikhawatirkan dapat menimbulkan riya` atau sum`ah pada dirinya atau dapat mengganggu orang shalat di Masjid  atau mengganggu orang istirahat.

Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ  beri’tikaf di Masjid, lalu beliau mendengarkan bacaan al-Quran para sahabat dengan suara keras, kemudian membuka tabir dan bersabda (artinya): “Ingatlah bahwa sesungguhnya kalian sedang bermunajat dengan Rabb kalian. Maka jangan sampai sebagian dari kalian menyakiti sebagian yang lain. Dan jangan sampai sebagian kalian mengeraskan bacaan atas sebagian yang lain.” [HR.Abu Daud, Shahih].

Membaca dengan tartil.

Allah ﷻ  berfirman :

وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا

“Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” [Al-Muzammil : 4]

Inti tartil dalam membaca adalah membacanya pelan-pelan, jelas setiap hurufnya, tanpa berlebihan. [Kitab al-Adab, Fuad As-Syalhub, hlm. 12]

Sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah (ayat yang mengisyaratkan untuk sujud).

Para ulama sepakat bahwa sujud tilawah adalah amalan yang disyari’atkan.

Ibnu ‘Umar berkata: “Rasulullah ﷺ  pernah membaca al-Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Adapun tata cara sujud tilawah secara ringkas sebagaimana berikut ini :

1- Para ulama bersepakat bahwa sujud tilawah cukup dengan sekali sujud.

2- Bentuk sujudnya sama dengan sujud dalam shalat.

3- Tidak disyari’atkan -berdasarkan pendapat yang paling kuat- untuk takbiratul ihram dan juga tidak disyari’atkan untuk salam.

4- Disyariatkan pula untuk bertakbir ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud.

5- Membaca doa.

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَ قُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Wajahku bersujud kepada Tuhan yang telah menciptakanku, yang memberi pendengaran dan penglihatanku, dengan daya dan upayaNya, Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.” [HR. Abu Daud].

atau membaca:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

“Maha Suci Allah ﷻ ang Maha Tinggi.” [HR. Muslim].

Disunnahkan untuk mengucapkan doa berikut ini usai membaca Al Qur’an :

سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك

“Maha Suci Engkau (Ya Allah) dengan segala pujian untuk-Mu. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau semata. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” [HR.an-Nasa’i, Shahih].

Al-Imam an-Nasa’i rahimahullah membuat bab untuk hadits di atas di dalam Sunan al-Kubra : “Amalan Penutup Bacaan al-Qur’an”.

Adapun lafazh Shadaqallaahul ‘Azhiim (Maha Benar Allah ﷻ ang Maha Agung), jika lafazh tersebut dikaitkan dengan sebuah adab yang hendaknya dilakukan setelah membaca al-Qur’an, maka yang demikian ini tidak ada dalil yang shahih dari Rasulullah ﷺ .

Kebanyakan kita mengaitkan lafazh Shadaqallaahul ‘Azhiim tersebut dengan adab setelah membaca al-Qur’an. Itu terlihat dari lafazh Shadaqallahul ‘Azhiim yang senantiasa diucapkan usai membaca al-Qur’an. Wallahul Musta’an.

***

Wallahu A’lam

OLEH: UST. DAHRUL FALIHIN, LC

(PENGAJAR MA’HAD ABU HURAIRAH MATARAM)

 

Leave a Comment