Adab-adab Ziarah Kubur

Ziarah kubur adalah ibadah yang hukumnya sunnah. Agar ibadah ziarah kubur kita mendatangkan pahala dan berkah, berikut kami kumpulkan beberapa adab seputar ziarah kubur dengan harapan bisa menjadi bekal kita di saat melakukan ibadah ini:

Pertama: Luruskan niat, untuk apa pergi ziarah?

Sebelum beranjak pergi ziarah, bersihkanlah niat dan tujuan kita. Ziarah kubur adalah ibadah bertujuan untuk dapat mengambil pelajaran dan mengingat kematian. Tujuan utama ini harus senantiasa dipahami oleh setiap muslim yang hendak berziarah. Dan hal ini perlu diingat agar tidak terjerumus kepada tujuan dan tendensi lain yang bisa menyesatkan ibadah atau melenceng dari tauhid kita kepada Allah ﷻ.

Nabi ﷺ bersabda:

أَلَا فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُرَقِّ الْقَلْبَ، وَتَدْمَعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ اْلَاخِرَةَ

“Ziarahilah kubur, sesungguhnya hal itu dapat melembutkan hati, meneteskan air mata dan mengingatkan pada kehidupan akhirat.” [HR. Al-Hakim].

Kedua: Mengucapkan salam ketika masuk kuburan

Bagi yang masuk atau hanya sekedar lewat dikuburan disunnahkan membaca salam untuk para ahli kubur.

Ada beberapa lafadz salam yang diajarkan oleh Nabi ﷺ  bagi yang hendak ziarah kubur, di antaranya:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوُمِ مُؤْمِنِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur kaum mukminin. Kami insya Allah akan segera menyusul kalian.” [HR. Muslim].

Atau membaca :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وِإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ . نَسْأَلُ اللهِ لَنَا وَلَكُمُ العَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, penghuni kubur, dari kalangan muslimin dan mukminin. Sesungguhnya kami akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah agar keselamatan diberikan kepada kami serta kalian.” [HR. Ibnu Majah].

Namun perlu diingat salam ketika masuk kuburan hanya untuk mayyit muslim tidak mencakup pekuburan orang-orang kafir.

Ketiga: Melepas alas kaki ketika masuk dan tidak duduk di atas kuburan

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَأَنْ أَمْشِيْ عَلَى جَمْرَةٍ أَوْ سَيْفٍ أَوْ أَخْصَفِ نَعْلِيْ بِرِجْلِيْ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَمْشِيْ عَلَى قَبْرِ مُسْلِمٍ

“Sungguh, aku berjalan di atas bara api atau pedang, atau aku ikat sandalku dengan kakiku lebih aku sukai daripada berjalan di atas kubur seorang muslim.” [HR. Ibnu Majah].

Dan juga tidak boleh duduk-duduk di atas kuburan, berdasarkan sabda Nabi ﷺ :

لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُوْرِ وَلَا تَجْلِسُوْا عَلَيْهَا.

“jangan kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula duduk di atasnya.” [HR. Muslim].

Keempat: Tidak bercanda ria atau berkata-kata yang bathil.

Ziarah kubur semestinya adalah momen terbaik untuk ingat kehidupan akhirat, mengingat kematian dan hari pembalasan. Maka sangatlah tidak pantas kalau saat-saat seperti itu kita gunakan untuk bercanda, berbicara urusan dunia apalagi berbicara dengan pembicaraan yang bathil yang mendatangkan murka Allah maka ini sudah keluar dari esensi utama diperintahkannya ibadah ini.

Kelima: Mendoakan kebaikan untuk penghuni kubur. Bukan BERDO’A minta kepada penghuni kubur.

Di antara hikmah lain dari ibadah yang mulia ini DI SAMPING MANFAAT UNTUK YANG BERZIARAH SEPERTI INGAT MATI DAN AKHIRAT adalah MANFAAT JUGA BAGI SI MAYYIT.

Saudara kita yang telah meninggal maka sudah terputus kesempatan bagi mereka untuk beramal dan menambah pundi-pundi pahala layaknya orang yang masih hidup.

Namun bukan berarti mereka sudah tidak ada harapan lain.

Di dalam Islam, do’a seorang Muslim bagi saudaranya adalah hal yang bermanfaat. Di saat ini dia sedang butuh doa dari kita, maka sisihkanlah sejenak waktu kita untuk mendoakan rahmat serta ampunan bagi mereka.

Bukan malah kita yang meminta kepada mereka. Karena do’a atau meminta itu adalah ibadah maka sangatlah tidak pantas kalau diselewengkan kepada selain Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda (artinya):

“do’a itu adalah ibadah” [HR. Tirmidzi].

Keenam: Tidak melakukan niyāhah (Meratap).

Di antara bentuk-bentuk niyāhah adalah meratapi si mayyit serta menangis dengan meraung-raung, merobek-robek baju dan memukul wajah dan mengacak-acak rambut. Hal ini dilarang di dalam Islam karena hal itu  mengambarkan ketidakrelaan kita terhadap keputusan Allah. Apalagi kalau hal itu dilakukan dipekuburan.

Bersedih dan menangis adalah hal yang alami dan wajar disaat kita tertimpa musibah. Yang terlarang adalah melampui batasan syari’at seperti niyāhah.

Nabi ﷺ  bersabda:

مَنْ نِيْحَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ يُعَذَّبُ بِمَا نِيْحَ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang ditangisi dan diiringi dengan ratapan, maka ia akan merasa tersiksa pada hari kiamat kelak disebabkan ratapan tersebut.” [HR. Muslim].

Ketujuh: Tidak tabarruk (ngalap berkah) di kuburan.

Sebagian para peziarah kita lihat ada yang mengusap-usap batu nisan kuburan dan tak jarang ada dari mereka yang menciumnya. Dan sebagian yang lain sengaja mengambil tanah kuburan tertentu untuk dibawa pulang, semua dengan tujuan yang sama yaitu mencari berkah.

Hal ini adalah jenis tabarruk (ngalap berkah) yang tidak disyari’atkan karena tidak ada dalil bahkan itu semua adalah adat istiadat orang kafir Yahudi dan Nashara.

Al Imam al Ghozaali berkata: “sesungguhnya mengusap-usap dan mencium kuburan adalah kebiasaan orang Yahudi dan Nashara.” [ihya’ ulumuddin 1/254].

Kedelapan: Tidak mengaitkan waktu ziarah dengan momen, hari, minggu dan bulan-bulan tertentu.

Berziarah kubur diperintahkan oleh Nabi secara mutlak bagi kaum laki-laki. Dengan tanpa penentuan waktu yang afdhal untuk berziarah.

Entah itu hari jum’at atau bulan Ramadhan atau seusai shalat hari raya idhul fitri.

Menentukan waktu-waktu khusus pada ibadah yang bersifat mutlak membutuhkan dalil maka biarkanlah ibadah itu dalam kondisi aslinya yang mutlak. Intinya kapan saja seseorang boleh melakukan ziarah kubur terlebih lagi di saat hati kita sedang lemah dari ketaatan dan iman.

Inilah sedikit pembahasan yang berkaitan dengan ziarah kubur dan adab-adabnya, semoga bisa menjadi tambahan ilmu bagi para pembaca semua, kita berdo’a kepada Allah agar selalu membimbing kita di atas ilmu dan jalan yang lurus. Allahumma aamiin.

 

Diringkas dari kutaib: “ALWAJIIZ FI HUKMI ZIYARATIL QUBUUR” ASSYAR’IYYAH WAL BID’IYYAH ” abdullah bin ali ashuwailih )

 

***

OLEH: UST. ABU RAZIEN SURYADI, LC

(PENGAJAR MA’HAD ABU HURAIRAH MATARAM)

Leave a Comment