SERIAL KITAB TAUHID VOL. #13 “Ternyata Ini Rahasianya: Jalan Pintas Menuju Surga”

“Ternyata Ini Rahasianya: Jalan Pintas Menuju Surga”

Perjalanan di akhirat adalah perjalanan yang panjang. Untuk menunggu proses pengadilan Allah, butuh waktu yang lama. Bayangkan saja! Sehari ketika itu, sama dengan 50 ribu tahun di dunia, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu dalam Shahih Muslim (no. 987). Selama penantian itu, situasi sungguh menakutkan dan mencekam, kita butuh perlindungan dan keamanan dari Allah. Kita butuh naungan Allah. Ketika diadili di hadapan Allah pun, kita akan merasa kerdil, akan ada rasa takut dan mencekam menggerogoti jiwa. Orang-orang kafir bahkan berharap jadi tanah di hari itu. Setelah pengadilan Allah, hanya ada dua tempat kesudahan; neraka atau surga. Tak ada tempat yang ketiga. Belum lagi bentangan jembatan di atas jahannam yang harus dilalui sebelum menuju surga. Tak ada jaminan selamat melewatinya.

Namun tahukah Anda? Bahwa ada amalan rahasia untuk melewati semua kengerian di hari itu untuk langsung menuju surga dengan selamat? Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu (wafat: 68 H) meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda di hadapan para Sahabat, yang artinya:

“Telah diperlihatkan kepadaku sekumpulan umat. Aku melihat ada seorang Nabi dengan umatnya yang jumlahnya tidak sampai sepuluh orang, aku juga melihat seorang Nabi yang hanya punya satu atau dua pengikut, bahkan ada Nabi yang sama sekali tidak punya pengikut. Kemudian diperlihatkan kepadaku sekumpulan besar umat. Aku menyangka itu adalah umatku. Dikatakan kepadaku: “itu adalah Musa dan umatnya”. Lantas aku melihat sekumpulan umat (dengan jumlah) yang sangat besar. Kemudian dikatakan kepadaku: “ini adalah umatmu, di antara mereka ada 70 ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab (tanpa perlu diperiksa dan diadili di padang mahsyar), dan tanpa azab”. Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bangkit lalu masuk ke rumahnya.

Terjadi pembicaraan yang ramai—setelahnya di antara para Sahabat—perihal siapakah mereka 70 ribu orang tersebut. Ada yang mengatakan; “mungkin mereka adalah yang senantiasa menemani Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam“. Ada lagi yang mengatakan; “mungkin mereka adalah generasi yang terlahir dalam keadaan Islam dan belum pernah berbuat kesyirikan sedikitpun (belum tersentuh oleh zaman jahiliyah yang sarat kesyirikan)”. Kemudian mereka menyebutkan beberapa hal lainnya.

Nabi kembali keluar menemui para Sahabat, lalu bersabda mengabarkan tentang siapa mereka:

هم الذين لا يَسْتَرقون، ولا يكتوون، ولا يتطيرون، وعلى ربهم يتوكلون

“Ketujuh puluh ribunya adalah orang-orang yang tidak meminta untuk di-ruqyah, tidak meminta diobati dengan besi panas, tidak beranggapan sial (tathayyur gara-gara burung atau yang semisalnya), dan mereka senantiasa hanya bertawakkal kepada Allah semata”.
Salah seorang Sahabat yang bernama Ukasyah bin Mihsan lantas berdiri seraya berkata: “Duhai Rasulullah, doakan agar aku termasuk mereka.” Rasulullah bersabda: “engkau termasuk di antara mereka”. Ada lagi yang berdiri mengatakan hal yang sama; “doakan aku juga agar termasuk mereka duhai Rasulullah”. Beliau menjawab: “engkau sudah keduluan Ukasyah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (3410) dan juga Imam Muslim (220).

Meminta diruqyah dihukumi makruh oleh para ulama. Beda dengan berinisiatif meruqyah seseorang yang membutuhkan, ini termasuk doa dan sedekah yang dianjurkan kepada saudara muslim yang tertimpa penyakit. Ada unsur penyandaran diri pada makhluk, manakala seseorang meminta untuk diruqyah. Selayaknya dia meruqyah diri sendiri dan langsung berdoa memohon kepada Allah sebagai wujud kesempurnaan tawakkal di hati.

Para ulama menjelaskan bahwa meminta ruqyah, mempraktekkan kay, beranggapan sial gara-gara burung—gagak hitam misalkan—adalah perbuatan yang bertentangan dengan tawakkal dan kesempurnaan tauhid. Mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, adalah orang-orang yang totalitas dalam bersandar dan bertawakkal kepada Allah dalam setiap urusan mereka. Pikiran, lisan, dan raga mereka tetap berikhtiar untuk meraih tujuan, namun hati mereka tidak bergantung kepada siapapun juga, tidak berharap kepada apapun juga, kecuali hanya kepada Allah semata. Inilah sifat-sifat mereka yang akan melenggang ke surga tanpa hisab dan tanpa azab. Semoga Allah menjadikan kita di antara mereka.

*

Referensi:
? al-Mulakh-khash fii Syarhi Kitab at-Tauhid (hal. 36-41), Syaikh Dr. Shalih Fauzan al-Fauzan.
? ‘Aunul Majiid fii Takhriiji Kitab at-Tauhid, Khalid bin Muhammad al-Ghirbani.

___
✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Leave a Comment