SEBAB DATANGNNYA HIDAYAH ALLAH

Inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah ﷻ, maka berdoa memohon hidayah kepada Allah ﷻ merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkan hidayah.

Oleh karena itu, Allah ﷻ memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik kepada-Nya, yaitu dalam surah al-Fatihah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.

Hal-hal lain yang menjadi sebab datangnya hidayah Allah ﷻ selain yang dijelaskan di atas adalah sebagai berikut:

Tidak bersandar kepada diri sendiri dalam melakukan semua kebaikan dan meninggalkan segala keburukan.

Selalu bergantung dan bersandar kepada Allah ﷻ dalam segala sesuatu yang dilakukan atau ditinggalkan oleh seorang hamba, serta tidak bergantung kepada kemampuan diri sendiri merupakan sebab utama untuk meraih taufik dari Allah ﷻ yang merupakan hidayah yang sempurna, bahkan inilah makna taufik yang sesungguhnya.

Inilah yang terungkap dalam doa yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ: “(Ya Allah), jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata”

Selalu mengikuti dan berpegang teguh dengan agama Allah ﷻ secara keseluruhan lahir dan batin.

Allah ﷻ berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى

“Maka jika datang kepadamu (wahai manuia) petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara (dalam hidupnya).” [QS Thaahaa: 123].

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang yang mengikuti dan berpegang teguh dengan petunjuk Allah yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya ﷺ, dengan mengikuti semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka dia tidak akan tersesat dan sengsara di dunia dan akhirat, bahkan dia selalu mendapat bimbingan petunjuk-Nya, kebahagiaan dan ketentraman di dunia dan akhirat. [Lih. Taisiiru Kariimirrahman, Ibnu Sa’di].

Membaca al-Qur-an dan merenungkan kandungan maknanya.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. [QS al-Israa’: 9].

Imam Ibnu Katsir berkata: “(Dalam ayat ini) Allah ﷻ memuji kitab-Nya yang mulia yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya ﷺ, yaitu al-Qur-an, bahwa kitab ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan jelas” [Tafsir Ibnu Katsir (3/39).

Maksudnya: yang paling lurus dalam tuntunan berkeyakinan, beramal dan bertingkah laku, maka orang yang selalu membaca dan mengikuti petunjuk al-Qur-an, dialah yang paling sempurna kebaikannya dan paling lurus petunjuknya dalam semua keadaannya [Taisiiru Kariimirrahman hal. 454].

Mentaati dan meneladani sunnah Rasulullah ﷺ.

Allah ﷻ berfirman (artinya):

“Dialah (Allah ﷻ) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi”. [QS al-Fath: 28].

Para ulama ahli tafsir menafsirkan al-huda (petunjuk) dalam ayat ini dengan ilmu yang bermanfaat dan dinul haq (agama yang benar) dengan amal shaleh.

Ini menunjukkan bahwa sunnah Rasulullah ﷺ adalah sebaik-baik petunjuk yang akan selalu membimbing manusia untuk menetapi jalan yang lurus dalam ilmu dan amal.

Mengikuti pemahaman dan pengamalan para Shahabat radhiallahu’anhum dalam beragama.

Allah ﷻ berfirman:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

“Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan.” [QS al-Baqarah: 137].

Ayat ini menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman para Shahabat radhiallahu’anhum dalam keimanan, ibadah, akhlak dan semua perkara agama lainnya, karena inilah sebab untuk mendapatkan petunjuk dari Allah ﷻ. Para Shahabat radhiallahu’anhum adalah yang pertama kali masuk dalam makna ayat ini, karena merekalah orang-orang yang pertama kali memiliki keimanan yang sempurna setelah Rasulullah ﷺ .

Meneladani tingkah laku dan akhlak orang-orang yang shaleh sebelum kita.

Allah ﷻ berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”. [QS al-An’aam: 90].

Dalam ayat ini Allah ﷻ memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk meneladani petunjuk para Nabi ‘alaihissalam yang diutus sebelum beliau ﷺ, dan ini juga berlaku bagi umat Nabi Muhammad ﷺ [Tafsir Ibnu Katsir (2/208)].

Mengimani takdir Allah ﷻ dengan benar.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS at-Taghaabun:11).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah ﷻ), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya.” [Tafsir Ibnu Katsir (8/137)].

Bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan”. [QS al-‘Ankabuut: 69].

 

***

 

OLEH: Ustadz ABDULLAH TASLIM

 

(DIRINGKAS OLEH TIM AL-HUJJAH)

Leave a Comment