TAUHID ULUHIYYAH MENURUT IMAM AN-NAWAWAI AS-SYAFI’I

Imam an-Nawawi rahimahullāh (wafat: 676 H). Di kalangan Syāfi’iyyah, beliau dan dan ar-Rāfi’i (wafat: 623 H) dijuluki as-Syaikhaan. Jika keduanya bersepakat dalam suatu masalah, maka itulah pendapat inti yang dijunjung tinggi dalam mazhab Syafi’i. Kita pun, mencintai dan memuliakan kedua tokoh besar ini yang telah berjasa besar bagi kaum muslimin sampai hari ini.

Namun amat disayangkan, sebagian kita yang bermazhab Syāfi’i, hanya membatasi diri mendalami karya-karya Imam an-Nawawi dalam bidang fiqih saja. Padahal beliau—selain tokoh yang faqīh—juga seorang muhaddits kaliber, sekaligus da’i besar yang punya perhatian besar dalam mendakwahkan Tauhīd, lebih spesifik lagi “Tauhīdul ‘Ibādah” atau “Tauhīdul Ulūhiyyah”, salah satu dari tiga klasifikasi tauhid yang justru ditolak oleh sebagian mereka yang mengaku mengidolakan dan mengikuti Imam an-Nawawi rahimahullāh di era ini.

Dalam karya besarnya, al-Majmū’ Syarhul Muhadzdzab (8/275), Imam an-Nawawi rahimahullāh menuliskan:

لَا يَجُوْزُ أَنْ يُطَافُ بِقَبْرِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ… ‏

وَيُكْرَهُ إِلْصَاقُ الظَّهْرِ وَالْبَطْنِ بِهِ وَمَسْحُهُ وَتَقْبِيْلُهُ

وَلَا يَغْتَرُّ  بِمُخَالَفَةِ كَثِيْرِيْنَ مِنَ الْعَوَامِ .

“Tidak boleh melakukan thawaf di kuburan Nabi ﷺ. Demikian pula; menempelkan punggung atau bagian perut, mengusap-usap kuburan beliau serta menciumnya, merupakan perbuatan yang dibenci (yukroh), dan seseorang tidak boleh tertipu dengan banyaknya orang-orang awam mengamalkan perbuatan menyelisihi (syariat) tersebut.”

Silakan renungkan..!! Betapa tegas dan betapa lugas ungkapan Imam an-Nawawi di atas. Ini menunjukkan bahwa di mata beliau, perbuatan mengusap-usap kuburan Nabi atau menciumnya adalah tindakan awam yang menyelisihi ajaran Rasulullah ﷺ. Jika demikian halnya fatwa Imam an-Nawawi terhadap kuburan Rasulullah ﷺ yang mulia dan suci, maka bagaimana lagi dengan kuburan orang-orang shalih—atau dianggap shalih—yang derajatnya jauh di bawah beliau ﷺ…??!!!

Karena pengkultusan semacam ini lambat laun bisa mengantarkan seseorang kepada kesyirikan yang sesungguhnya. Sebagaimana ungkapan Imam an-Nawawi sendiri ketika memberikan komentar dan penjelasan tentang sabda Rasul ﷺ yang melaknat Yahudi dan Nasrani gara-gara mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid tempat ibadah, sehingga lambat laun hal tersebut memunculkan kesyirikan di tengah-tengah mereka dalam wujud peribadatan pada orang-orang shalih. Imam an-Nawawi berkata:

“Para ulama mengatakan; Nabi ﷺ melarang kuburan beliau dan juga kuburan lainnya dijadikan sebagai masjid, karena beliau kuatir atas sikap melampaui batas dalam mengagungkannya, dan penyimpangan karenanya. Sebab boleh jadi tindakan tersebut akan mengantarkan pada kekufuran sebagaimana yang telah terjadi pada umat-umat terdahulu…” [Syarh Shahīh Muslim: 5/24]

Pada kesempatan yang lain, Imam an-Nawawi rahimahullāh mengungkapkan:

اَلْوَثَنِيُّ إِذَا قَالَ:لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ فَإِنْ كَانَ يَزْعُمُ أَنَّ الْوَثَنَ شَرِيْكٌ لِلهِ تَعَالَى صَارَ كَافِرًا وَإِنْ كَانَ يَرَى أَنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الْخَالِقُ وَيُعَظِّمُ الْوَثَنَ لِزَعْمِهِ أَنَّهُ يُقَرِّبُهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى لَمْ يَكُنْ مُؤْمِناً حَتَّى يَتَبَرَّأَ مِنْ عِبَادَةِ الْوَثَنِ

“Seseorang yang beribadah pada berhala (atau selain Allāh), jika dia mengucapkan “lāilāha illallāh”, lantas dia mengklaim bahwa berhala tersebut adalah sekutu bagi Allāh ﷻ, maka dia telah kafir dengan sebab itu. Jika dia memandang bahwa Allāh adalah Sang Pencipta, namun dia justru mengagungkan selain Allāh (berhala) dengan anggapan berhala tersebut mampu mendekatkan dia kepada Allāh, maka dia bukanlah orang mukmin sampai dia berlepas diri dari peribadatan terhadap berhala tersebut.” [Raudhah at-Thālibīn, Kitab ar-Riddah: 7/303].

Sementara itu dalam karya fenomenalnya, Syarh Shahīh Muslim (2/56), Imam an-Nawawi menegaskan definisi beliau tentang hakikat kesyirikan:

عَبَدَةُ الْأَوْثَانِ وَغَيْرُهَا مِنْ الْمَخْلُوْقَاتِ مَعَ اعْتِرَافِهِمْ بِاللهِ تَعَالَى كَكُفَّارِ قُرَيْشٍ

“(Syirik adalah) peribadatan mereka kepada berhala-berhala dan selainnya dari kalangan para makhluk, padahal mereka mengakui Allāh (sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta), persis seperti (kesyirikannya) orang-orang kafir Quraisy…”

Dari ungkapan tersebut, terlihat dengan jelas bagaimana peta pemahaman Imam an-Nawawi rahimahullāh tentang makna kesyirikan yang menjadi lawan dari tauhid:

Pertama, beliau memandang inti tauhid itu terletak pada kalimat “lāilāha illallāh”. Orang yang mengucapkannya, namun tidak memahami makna dan mengamalkan konsekuensinya, maka dia belumlah dikatakan bertauhid dengan benar.

Kedua, beliau memahami bahwa seseorang belum bisa dikatakan beriman, jika masih mempersembahkan ibadah kepada selain Allāh, sekalipun di saat yang sama dia meyakini bahwa Allāh adalah Sang Pencipta. Inilah jenis kesyirikan yang terjadi pada kaum kafir Quraisy sebagaimana diungkapkan dalam al-Qurān:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, lantas bagaimana mereka (dapat) dipalingkan (dari peribadatan kepada Allāh semata?).” [QS. al-Ankabut: 61]

Ketiga, di mata beliau, menjadikan selain Allāh sebagai perantara dalam ibadah untuk bisa dekat dengan Allāh adalah bentuk kesyirikan tersendiri. Karena sejatinya orang yang berbuat demikian telah mengangkat makhluk ke derajat al-Khāliq (Sang Mahapencipta), karena hanya al-Khāliq yang berhak atas peribadatan yang murni. Pemahaman ini selaras dengan firman Allāh:

وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ

“…Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ‘Kami tidak beribadah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’…” [QS. az-Zumar: 3]

Keempat, Imam an-Nawawi juga memahami bahwa tauhid yang benar tidak mungkin terwujud tanpa ada sikap berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allāh secara total. Karena dalam banyak ayat al-Qurān, Allāh memerintahkan hamba-Nya untuk memurnikan ibadah hanya untuk-Nya, yang selalu digandeng dengan kecaman keras atas kesyirikan atau perintah untuk kufur terhadapnya, seperti dalam firman Allāh:

فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّـٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“…Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut (yakni segala sesuatu yang diibadahi selain Allāh) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…” [QS. al-Baqarah: 256].

 

 

***

OLEH: UST. ABU ZIYAH HALIM, M.H.I

Leave a Comment