ADAB BERMEDIA SOSIAL

ADAB BERMEDIA SOSIAL

Berabad-abad yang lalu, Nabi kita yang mulia ﷺ mengabarkan salah satu tanda dekatnya hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيمَ الْخَاصَّةِ، وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ، حَتَّى تُعِينَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ، وَقَطْعَ الْأَرْحَامِ، وَشَهَادَةَ الزُّورِ، وَكِتْمَانَ شَهَادَةِ الْحَقِّ، وَظُهُورَ الْقَلَمِ

“Sesungguhnya di hadapan hari kiamat akan muncul fenomena berupa: salam ditebarkan ke orang-orang tertentu saja, menjamurnya perdagangan sampai-sampai istri membantu suaminya berdagang, diputuskannya tali silaturahim, persaksian palsu, disembunyikannya persaksian yang benar, dan tampilnya pena.” [HR. Ahmad 3870].

Fokus tulisan kali ini berkaitan dengan fenomena terakhir yang disebut di dalam hadits di atas yaitu: tampilnya pena

Hadits ini sejatinya menjadikan kita semakin beriman kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya, karena fenomena ini telah kita saksikan bersama. Melalui media-media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp dan sejenisnya kita dapat mengetahui sangat sedikit orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis. Hampir seluruh manusia menulis di media sosial, laki-laki perempuan, tua muda, menulis status-status mereka di media-media sosial.

Fenomena tampil dan tersebarnya pena ini telah dijelaskan oleh para Ulama, diantaranya adalah Syaikh Ahmad Syakir, beliau mengatakan:

“Tampilnya pena maksudnya adalah menjamurnya tulisan”

Fenomena media sosial sebagai sarana tulis hari ini tidak dapat dielakkan. Hampir seluruh lapisan masyarakat mempunyai akun di media sosial. Tulisan-tulisan yang pada zaman dahulu membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sampai, pada hari ini hanya membutuhkan hitungan detik untuk bisa dinikmati oleh para pembaca.

Media sosial merupakan sarana/wasilah layaknya pisau. Pisau dapat digunakan untuk hal-hal bermanfaat dan hal-hal yang berbahaya, demikian juga media sosial, ia dapat digunakan untuk memenuhi lumbung pahala dan bisa digunakan sebagai bahan bakar kelak dihari kiamat. Oleh karenanya perlu kita mengetahui beberapa adab dalam menggunakan media sosial, dengan harapan media sosial dapat menambah pundi-pundi pahala kita sekalian:

1. Bagi yang ingin menulis di media sosial maka sadarlah bahwa setiap kata yang ditulis akan senantiasa dicatat oleh malaikat.

Allah ﷻ berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” [QS. Qaaf: 18]

Hendaknya kita selalu berfikir 1000 kali untuk mengirim suatu tulisan di media sosial. Hendaklah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, ikhlaskah saya menulis kalimat-kalimat ini? Bermanfaatkah tulisan saya ini? Apakah tulisan saya ini akan menyakiti pihak lain?…jangan sampai satu kalimat yang meluncur dari tulisan kita kelak menjadi lautan api di neraka yang akan membakar diri kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ، مَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يُرْفَعُ لَهُ بِهَا  دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya hamba benar-benar berbicara (baik secara lisan maupun tulisan) dengan sebuah kalimat yang mengundang ridha Allah ﷻ, yang dia anggap biasa-biasa saja, maka derajatnya akan diangkat. Dan sesungguhnya hamba benar-benar berbicara (baik secara lisan maupun tulisan) dengan sebuah kalimat yang mengundang kemurkaan Allah ﷻ, yang dia anggap biasa-biasa saja, maka diapun jatuh dengan sebab kalimat tersebut ke dalam Jahannam .” [HR. al-Bukhari, 6487].

2. Bagi yang ingin mengirimkan suatu berita maka hendaklah ia pahami bahwa Islam mengajarkan kita agar jangan cepat-cepat menyebarkannya, baik di tengah masyarakat luas maupun di media sosial, karena dikhawatirkan berita atau isu yang kita sebarkan hanya kebohongan.

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. padahal jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [QS. an-Nisa’: 83]

Apabila berita yang akan disebarkan telah terbukti kebenarannya maka hendaklah dipikirkan lagi, apakah berita tersebut akan mendatangkan kebaikan atau malah mendatangkan mudharat, keburukan, atau bahkan menimbulkan fitnah ditengah ummat. Bila berita yang benar itu malah menimbulkan kerusakan, seperti terungkapnya aib-aib pemimpin di tengah masyarakat sehingga hilang kewibawaannya, maka ini haram untuk disebarkan. Akan tetapi apabila berita yang benar itu mendatangkan maslahat atau kebaikan bagi umat maka pada saat itulah ia boleh menyebarkannya. Sebuah kaidah menyebutkan:

“Sesungguhnya Syari’at Islam dibangun di atas upaya merealisasikan atau penyempurnaan kemaslahatan serta upaya menghilangkan atau mengurangi kerusakan

3. Janganlah seorang muslim mencukupkan pembelajaran agamanya dari potongan-potongan kajian yang banyak diupload di media sosial. Karena hal tersebut akan menimbulkan pemahaman agama yang parsial (sepotong-sepotong), tidak menyeluruh.

Hendaklah seorang muslim duduk di majelis-majelis ta’lim yang mempelajari al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf secara intensif, hendaklah ia sabar dalam mengkaji lembar demi lembar kitab-kitab para Salaf. Demikianlah yang dilakukan oleh para pendahulu kita sehingga mereka dapat memahami Islam secara benar dan mendalam. Apabila kita dapat memahami Islam ini dengan pemahaman yang benar dan mendalam, yakinlah Allah akan mengentaskan kehinaan yang tengah menimpa ummat Islam hari ini. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kalian berjual beli dengan sistem riba, kalian gemar memegang ekor-ekor sapi, kalian senang dengan pertanian (simbol kecondongan pada dunia), dan kalian meninggalkan jihad. Maka Allah akan timpakan kehinaan atas kalian, Allah tak akan mengentaskan kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” [HR. Ahmad & Abu Daud].

Maksudnya adalah kembali kepada pemahan agama Islam dengan benar dan mengamalkan agama dengan cara yang benar. Dan itu tidak bisa dicapai kecuali dengan mempelajari Islam secara intensif dan berkesinambungan.

 

***

OLEH: UST. MUHAMMAD FIRMAN ARDIANSYAH, LC, M.H.I

Leave a Comment