Agama Amal Versus Agama Momentum

Nabi ﷺ hanya mengabarkan kepada para Sahabat bahwa beliau dilahirkan pada hari Senin, namun beliau tidak mengabarkan kapan tanggal dan bulannya. Para Sahabat juga tidak bertanya akan hal tersebut. Karena memang, mereka diajarkan untuk terus beramal, bukan terpaku pada momen dan perayaan.

Agama kita adalah agama amal, bukan agama perayaan momen kelahiran.

Umar bin al-Khattab radhiallahu’anhu, ketika memprakarsai kalender Islam pertama, beliau menjadikan peristiwa hijrah sebagai patokan, bukan momentum kelahiran Nabi ﷺ. Untuk menegaskan kepada Ahlul Kitab, bahwa kita tidaklah seperti mereka, juga untuk memproklamirkan bahwa agama kita adalah agama amal, bukan agama momentum.

Para Nabi dan Rasul, tak ada satupun yang merayakan hari kelahiran mereka. Agar dunia tahu, agama Allah itu bukanlah agama momentum tapi agama amal.

Para Sahabat, para Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in, juga tidak merayakan hari kelahiran Nabi, karena mereka tahu; rasa cinta dan pengagungan terhadap Nabi, sejatinya diwujudkan dengan ittiba’ dan beramal sesuai tuntunan Nabi ﷺ, bukan dengan perayaan momen kelahirannya.

Karena agama kita adalah agama amal, bukan agama momentum.

Andai agama ini adalah agama momentum, maka hari diangkatnya Muhammad ﷺ sebagai Nabi, adalah hari yang lebih layak untuk dirayakan, karena momen turunnya Wahyu pertama pada Nabi terakhir, jauh lebih agung dibanding momen kelahirannya. Namun toh, Nabi tidak mengajarkan kita untuk merayakan momen rekoneksi langit dan bumi tersebut. Sekali lagi untuk mengajarkan pada kita bahwa;

agama ini adalah agama amal, bukan agama momentum.

 

***

✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim, M.HI.

Telegram: t.me/kristaliman
Page: fb.com/kristaliman

Leave a Comment