HARGAILAH WAKTU

Pentingnya Menghargai Waktu…

Seorang muslim hendaknya berusaha mengatur waktu sebaik-baiknya agar hidupnya yang singkat ini dapat di isi dengan ibadah yang maksimal. Beberapa hal yang dapat ditempuh di antaranya:

Mengoptimalkan penggunaan waktu dengan sebaik-baiknya dan menghindarkan diri dari menghabiskan waktu dengan sesuatu yang tidak bermanfaat karena waktu adalah modal utama seorang muslim.

Tatkala seseorang membuang waktunya dengan percuma maka ia jatuh dalam beberapa kerugian:

Habisnya umur tanpa faedah yang berarti.

Inilah yang diisyaratkan oleh Nabi ﷺ :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang manusia banyak dilalaikan di dalamnya yaitu kesehatan dan waktu kosong.” [HR. Al- Bukhari 6049].

Mendapatkan kehinaan di dunia.

Manusia jika tidak disibukkan dengan kebaikan maka ia akan disibukkan dengan kejelekan dan kesia-siaan dan itu merupakan kehinaannya di hadapan makhluk dan di sisi Allah. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka baginya penghidupan yang sempit.” [QS. Thaha: 124]

Membuat hati menjadi keras.

Membuang waktu akan menjadikan seseorang lalai dari introspeksi diri atau membersihkan jiwanya sehingga jiwanya menjadi kering dan mati. Allah Ta’ala berfirman:

فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ

“Maka berlalulah atas mereka waktu yang lama maka hati-hati mereka menjadi keras.” [QS. Al-Hadid: 16].

Penyesalan yang mendalam di hari kiamat.

Bagaimana tidak menyesal, ia akan menjumpai Rabbnya dengan sesuatu yang tidak diridhai-Nya sedangkan tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia. Allah Ta’ala berfirman:

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ

“Supaya jangan ada yang mengatakan;’Amat besar penyesalanku atas kelalaian dalam (menunaikan kewajibanku) terhadap Allah.” [QS. Az-Zumar: 56].

Melakukan persiapan sedini mungkin untuk mempertanggungjawabkan umurnya di dunia nanti di hadapan Allah Ta’ala.  

Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ…

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan….” [HR. At Tirmidzi 2417 dan ia berkata: hadits hasan shahih].

 

Bercermin dengan para as-salafus shalih dalam usahanya memanfaatkan waktu.

Abu Bakr Al-Anbari dikala sakit akan meninggal dunia, datanglah dokter memeriksa air seninya dan ia berkata: “Engkau telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan orang lain”. Kemudian Al-Anbari ditanya: “Apa yang engkau pernah kerjakan?” Maka ia menjawab: “Aku mengulangi (menelaah) setiap minggu sepuluh ribu kertas.” [Al Waqtu, Ammar au dammar, Jasim Al Muthawwa’ 1/45].

Istri Al-Hafidz Az-Zuhri mengeluhkan suaminya yang sangat gandrung dengan kitab-kitab dan lamanya ia menelaah kitab tersebut sampai istrinya itu berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga orang madu.” [Syudzurutudz Dzahab, Ibnul ‘Imad 1/63].

Al-Khatib Al-Baghdadi menceritakan tentang Ibnu Jarir At-Thabari (wafat 310 H) bahwasanya ia menulis kitab sebanyak 40 lembar setiap hari [Wafayaatul A’yan 4/131].

Al-Mundziri menceritakan tentang Ishaq bin Ibrahim: “Aku tidak pernah melihat dan mendengar ada seseorang yang lebih bersungguh-sungguh dalam kesibukan daripadanya. Ia terus sibuk siang dan malam. Aku pernah menjadi tetangganya di Kairo selama 12 tahun. Tidaklah aku bangun di malam hari kecuali selalu kulihat nyala lampu rumahnya. Ia sibuk dengan ilmu sampai-sampai ketika makan kitab-kitabnya berada di tangannya.” [Al Waqtu ‘Ammar au dammar  1/51-52].

Abu Utsman, salah seorang guru Imam Al-Bukhari berkata: “Tidaklah ada seseorang yang memintaku dengan suatu keperluan kecuali aku kerjakan sendiri. Jika tidak mampu aku menggunakan hartaku. Jika tidak mampu aku meminta bantuan saudara yang lain dan jika tetap tidak bisa aku meminta bantuan penguasa.” [Al Waqtu 1/32].

Dan masih banyak kisah lainnya yang membuat kita seperti berada di dasar sumur sedangkan mereka di atas gunung tinggi menjulang tidak terukur.

Menghilangkan panjang angan-angan atau menunda-nunda amalan yang bisa dikerjakan hari ini.

Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلاَحُ أَوَّلِ هَذِهِ الأُمَّةِ بِالزُّهْدِ ، وَالْيَقِيْنِ ، وَيُهْلِكُ آخِرُهَا بِالْبُخْلِ وَالأَمَلِ

“Baiknya generasi pertama ummat ini adalah dengan zuhud dan yakin dan yang menghancurkan generasi akhir ummat ini adalah kikir dan panjang angan-angan.” [HR. Ahmad dalam Az Zuhd hal. 16 dan dihasan oleh Syaikh Albani dalam As Shohihah 3427].

‘Ali bin Abi Thalib  berkata:

“Dunia beranjak pergi dan akhirat kian mendekat. Di antara keduanya ada pengikut maka jadilah pengikut akhirat dan jangan menjadi pengikut dunia. Hari ini adalah amal, tidak ada hisab, sedangkan besok yang ada hanya hisab tidak ada amal.” [Dikeluarkan oleh Al Bukhari 11/239 secara mu’allaq].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Tahun itu ibarat pohon, bulan-bulan adalah cabangnya, hari-hari adalah rantingnya, jam adalah daunnya dan nafas adalah buahnya. Jika nafasnya dalam ketaatan maka buah pohon tersebut bagus dan barangsiapa nafasnya dalam kemaksiatan maka buahnya pahit. Panen itu adalah pada hari yang dijanjikan (akhirat) maka akan jelaslah di sana mana buah yang manis dan yang pahit.” [Ar Rosail An Nafi’ah, Abdul hadi ibnu Hasan Wahbi hal. 266].

Mengukur kemampuan diri sendiri.

Janganlah seseorang terjun ke dalam sesuatu yang bukan bidang dan keahliannya atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas buat dirinya karena akan berakibat kerusakan dan membuang waktu percuma. Termasuk kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.

Ketika sampai kabar kepada ‘Umar bin Abdul ‘Aziz bahwa anaknya membeli cincin seharga 1000 dirham maka Umar menulis surat kepadanya: “Jika sampai kepadamu tulisan ini maka juallah cincin itu dan kenyangkanlah 1000 perut dan buatlah cincin dari dua dirham dan buatlah mata cincinnya dari besi cina dan tulislah di atasnya:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً عَرَفَ قَدْرَ نَفْسِهِ

“Semoga Allah merahmati seseorang yang tahu diri.” [Ar Risalah Al Qusyairiyyah, Al Qusyairy 1/70].

 

***

OLEH: USTADZ MUHAMMAD ALI SULIS

Leave a Comment