INDAHNYA TAUBAT

(Sebuah Renungan…)

Inilah kisah nyata yang seakan terlupakan. Kisah yang hanya diungkap oleh al-Quran. Pena-pena pendongeng dan novelis tak pernah menuliskannya. Inilah kisah antara para hamba dan Pencipta mereka. Kisah antara kita dan Allah, Sang Pencipta. Kisah tentang welas asih ar-Rahman, Yang Maha Penyayang, terhadap para hamba yang zalim lagi durhaka.

Allah Sang Pencipta, menuturkan perihal diri-Nya:

 إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” [QS. al-Hajj: 65]

Lalu menuturkan tentang kita, hamba ciptaan-Nya:

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Sungguh, manusia benar-benar zalim lagi durhaka.” [QS. Ibrahim 34].

Inilah kisah tentang Allah Sang Pencipta, yang tak pernah lelah menanti hamba-hamba-Nya untuk kembali. Kembali kepada-Nya memelas maaf dan ampunan. Setiap malam di sepertiga yang terakhir, Dia bahkan turun ke langit dunia, lalu berfirman:

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Siapakah yang berdoa kepada-Ku, untuk Kukabulkan? Siapakah yang meminta kepada-Ku, untuk Kuberikan? Siapakah yang meminta ampunan pada-Ku, untuk Kuampuni?” [al-Bukhari: 1145, Muslim: 1261]

Allah bahkan gembira menyambut taubat hamba-Nya. Padahal hamba tersebut, baru saja atau selalu mengkhianati-Nya, dengan dosa dan pelanggaran titah-Nya, menerjang larangan-Nya.

Baginda Rasul bertutur dalam sabdanya yang mulia (artinya):

“Sungguh Allah itu lebih gembira dengan taubat hamba-Nya manakala ia bertaubat, dibanding kegembiraan salah seorang di antara kalian yang tengah berada di padang (yang luas lagi tandus), menaiki kendaraan tunggangannya. Kendaraan tunggangan tersebut hilang entah kemana, membawa semua perbekalan makan dan minum di atasnya. Ia putus asa (dalam pencarian). Ia pun singgah di sebuah pohon, bersandar dan bernaung di bawah bayangan pohon tersebut (menanti maut). Dalam keadaan demikian, tiba-tiba tunggangannya telah berada di hadapannya. Lekas ia ambil tali kekangnya, lalu dengan kegirangan yang membuncah ia pun berucap: “Ya Allah, engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu”. Saking girangnya dia, sampai-sampai salah ucap.” [Shahih Muslim: 2747].

Lihat betapa dahsyatnya taubat seorang hamba yang kembali kepada-Nya. Menjadikan Allah gembira, melebihi kegembiraan seseorang yang selamat dari maut yang disangkanya sejenak lagi pasti akan menjemput. Tentu saja kegembiraan Allah al-Khāliq, tak sama dengan kegembiraan makhluk. Kegembiraan-Nya tak terlukiskan, tak sedikitpun dihinggapi ketidaksempurnaan. Kegembiraan-Nya atas taubat hamba-Nya, bukanlah gambaran kebutuhan Sang Khalik terhadap makhluk, melainkan kegembiraan yang mengandung Ihsan dan kasih sayang terhadap hamba atau makhluk itu sendiri.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah sampai-sampai memberikan catatan atas hadits di atas. Beliau mengatakan:

“Kegembiraan Allah akan taubat hamba-Nya -padahal si hamba belum pula datang dengan ketaatan yang setara dengan taubat tersebut- menunjukkan betapa agungnya kedudukan dan keutamaan taubat di sisi Allah. Juga menunjukkan bahwa peribadatan kepada Allah dengan taubat, termasuk peribadatan yang paling mulia.” [Thariiq al-Hijratain: 1/244].

Begitu dahsyatnya taubat. Hingga Allah menyematkan cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sungguh, Allah mencintai orang yang bertaubat dan mencintai orang yang menyucikan diri.” [QS. al-Baqarah: 222]

Betapa hebatnya taubat. Hingga keberuntungan bagi orang-orang yang beriman, bergantung padanya:

 ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“…Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” [QS. an-Nur: 31]

Betapa agungnya taubat. Hingga mampu merubah keburukan yang kita lakukan berganti menjadi kebaikan:

إِلَّا مَنْ تَابَ  وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“(Mereka para pendosa itu akan digandakan siksaannya) kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [QS. al-Furqan: 70]

Betapa dahsyatnya taubat. Hingga keberkahan langit pun akan turun dengan izin Allah kepada mereka yang bertaubat, di samping juga menambah kekuatan mereka:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“Dan (Hud berkata), “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.” [QS. Hud: 52]

Maka tak heran jika Baginda Rasul tak pernah lalai mengucap kalimat taubat dan istighfar. Dalam sehari beliau bertaubat dan beristighfar sampai lebih dari 70 kali (Shahih al-Bukhari: 6307). Demikian keadaan kekasih Allah yang telah mendapatkan jaminan ampunan atas dosa yang telah lalu dan yang akan datang, beliau banyak bertaubat kepada Allah, lantas apa yang masih menjadikan kita selalu menunda-nunda taubat…?? Di saat tak ada jaminan maghfirah atas dosa demi dosa, kita justru berkata “nanti” untuk bertaubat..?? Di saat kita meyakini tak ada yang lebih pasti dari datangnya kematian, dan kapan datangnya adalah ketidakpastian, kita justru menanti masa tua untuk bertaubat…??

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka)…??” [QS. al-Hadid: 16]

Sungguh kita ini makhluk yang amat zalim terhadap Allah yang Maha Adil. Coba renungkan sikap kita selama ini terhadap Allah rabbul’alamin, lalu bandingkan kelembutan welas asih-Nya terhadap kita. Di setiap hembusan nafas, di setiap denyutan nadi, kita tenggelam dalam nikmat demi nikmat pemberian-Nya. Lantas kita membalasnya dengan dosa dan maksiat. Semestinya kita malu. Namun jika sedikit saja rasa malu itu masih mendekam di hati, semestinya itu sudah cukup membuat kita bungkuk sujud dalam tangisan taubat di hadapan-Nya. Namun apa..?? Allah terus berinfaq, kita terus bertingkah laku fussaq.

Allah al-Haliim masih menunda azab-Nya, senantiasa menanti pintu taubat diketuk hamba-Nya, tak pernah tidur memelihara mereka dan alam semesta, selalu saja memberi anugerah, padahal sedikitpun tak butuh sesuatu dari hamba.

 

***

OLEH: UST. ABU ZIYAN HALIM, ST., M.H.I

(PIMPINAN REDAKSI)

Leave a Comment