BERPEGANG TEGUH PADA AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Allah ﷻ Berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” [QS. Ali Imaran : 103].

Ayat ini adalah salah satu perintah Allah ﷻ yang punya kemaslahatan besar untuk pribadi dan masyarakat. Karena berbicara tentang persatuan dengan Al-Quran sebagai pemersatu.

Ibnu Katsir dalam tafsir beliau membawakan riwayat dari Al-Khalifah Ar-Rasyid ‘Ali bin Abi Thalib secara marfu’ tentang Al-Qur’an :

هُوَ حَبْلُ اللهِ الْمتِينُ، وَصِرَاطُهُ الْمُسْتَقِيمُ

“(Al-Qur’an) adalah tali agama Allah ﷻang kokoh, dan jalan-Nya yang lurus”

Sangat jelas Allah ﷻ menginginkan kita semua berpegang teguh pada Al-Qur’an dan melarang kita berpecahan belah. Karena perpecahan adalah kebiasaan orang-orang yang menyekutukan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ، مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah ﷻ. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Q.S. Ar-Rum; 31-32].

Oleh Karena itu Rasulullah ﷺ mewasiatkan kepada kita, langkah yang harus kita tempuh, agar kita tidak terpecah belah. Rasulullah ﷺ bersabda dalam wasiat perpisahan beliau:

«أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ،  وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ،  وَإنْ تَأَمَّر عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اختِلافًا كَثيرًا، فَعَليْكُمْ بسُنَّتِي وسُنَّةِ الخُلَفاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِيِّنَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بالنَّواجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ؛ فإنَّ كلَّ بِدعَةٍ ضَلاَلَة».

“Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari negeri habasyah (Ethiopia). Dan barang siapa yang hidup lebih lama diantara kalian, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Al-Khalifah Ar-Rasyid yang diberi petunjuk oleh Allah. Gigitlah Sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dari perkara yang baru (dalam agama). Karena setiap perkara baru dalam agama sesat.” [HR. An-Nasai dan At-Tirmidzi].

Siapa saja yang mau merenungi Hadits ini, akan dapat menyimpulkan dengan mudah bahwa:

  1. Akan terjadi perselisihan yang banyak sepeninggal Rasulullah ﷺ.
  2. Cara menghindari perpecahan adalah dengan mengikuti sunnah dan menjauhkan diri dari bid’ah (perkara baru dalam agama.
  3. Sebab perpecahan adalah tidak bertakwa pada Allah ﷻ, tidak taat pada penguasa (pada hal yang ma’ruf) dan mengerjakan bid’ah.

Selain Al-Quran kita juga diperintahkan bersatu di atas sunnah.

Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّ بِعْدَهُمَا كِتِابُ اللهِ وَسُنَّتِيْ ،

“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat setelah (kalian bepergian teguh pada) keduanya, Kitabullah dan Sunnahku.” [HR. At-Thabrani].

Di sisi lain, kita sebagai umat Islam punya prinsip yang mempersatukan kita yaitu, kita semua yakin bahwa Tuhan kita satu dengan firman-Nya yang ada di tengah-tengah kita, dan kita yakin Nabi dan panutan kita satu. Maka sangat pantas kiranya, jika kita berselisih pada satu permasalahan, maka kita kembalikan pada apa yang kita sepakati, yang menjadi pemersatu kita. Allah berfirman:

 فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. An-Nisa; 59].

Imam At-Thabari dalam tafsir beliau membawakan riwayat dari Ibnu Al-Mubarak, dari Sufyan, dari Laits dari Mujahid, beliau berkata tentang tafsir Firman Allah “maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul” :

“(Maksudnya, kembalikan kepada) Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.”

Tentu saja, siapa saja yang tidak mau memakai prinsip yang kita sepakati sebagai penengah dalam setiap permasalahan, maka sangat pantas dikatakan sebagai orang yang tidak beriman, sebagaimana firman Allah:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [QS. An-Nisa; 65].

Prinsip mengedepankan AL-Quran dan Hadits Rasulullah ﷺ, inilah prinsip mendasar yang tertanam dalam benak para sahabat yang telah mendapat keridhaan Allah ﷻ. Sehingga ketika ada sebagian orang membantah sabda Rasulullah ﷺ dengan perkataan pemuka agama, sahabat Ibnu Abbas berkata:

“Saya melihat mereka akan celaka, saya membawakan sabda Nabi ﷺ, mereka membantah dengan perkataan Abu Bakar dan Umar.” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad].

Prinsip ini juga dipegang oleh Imam empat madzhab yang menjadi panutan kaum muslimin:

  1. Imam Abu Hanifah, beliau berkata:

“Jika saya mengutarakan satu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah ﷺ, maka tinggalkan perkataanku.” [Diriwayatkan oleh Al-Filani dalam kitab Al-Iiqazh, hal. 50].

  1. Imam Malik berkata:

“Saya hanya manusia biasa, bisa salah dan bisa benar, maka telitilah pendapatku. Setiap pemdapatku yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka ambillah pendapat tersebut, dan setiap pendapatku yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka tinggalkanlah pendapat tersebut.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abdi Al-Barr dalam kitab Jami’ Al-‘Ilmi Wa Fadhlihi II/32].

  1. Imam Syafi’I, beliau berkata:

“Jika kalian menemukan dalam kitabku pendapat yang menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ, maka berpendapat lah kalian dengan sunnah Rasulullah ﷺ, tinggalkan pendapatku.” Dalam riwayat lain beliau berkata: “ikutilah sunnah ﷺ, dan jangan berpaling pada pendapat siapapun.” (Diriwayatkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ I/63).

  1. Imam Ahmad berkata:

“Siapa yang menolak Hadits Rasulullah ﷺ maka ia berada pada jurang kehancuran.” [Diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 182].

***

Wallahu A’lam

OLEH: UST. FAKHRUDDIN ABDURRAHMAN, LC., M.Pd.

(PIMPINAN PONPES ABU HURAIRAH MATARAM)

 

Leave a Comment