SYAFAAT DALAM ISLAM

Di antara bagian dari ketaqwaan yang paling penting adalah mengesakan Allah dan tidak menduakan-Nya dengan apapun.

Banyak kaum muslimin tidak sadar menyekutukan Allah karena ingin mendapatkan syafaat. Sebabnya mereka berusaha mendekatkan diri pada orang atau makhluk atau benda yang mereka yakini dapat mendatangkan syafaat.

Syafaat adalah pertolongan pihak ketiga kepada pihak yang membutuhkannya dalam rangka memberikan suatu manfaat atau menolak suatu mudharat.

Contohnya:

Syafaat Nabi ﷺ kepada calon penghuni surga agar dapat segera masuk surga.

Atau syafaat orang-orang shalih kepada calon penghuni neraka agar tidak masuk ke dalam api neraka.

Ketika seseorang yang kurang mengerti cara mendapat syafaat Rasulullah ﷺ, maka akhirnya ia akan mendekatkan diri kepada Rasulullah ﷺ dengan pujian yang sangat berlebihan yang menggambarkan seolah-olah Rasulullah ﷺ memiliki sifat ketuhanan, atau bahkan secara langsung mendatangi kuburan Rasulullah ﷺ dan berdoa kepada Rasulullah ﷺ agar diberikan syafaat.

Begitu pula, ketika orang musyrik zaman dahulu kurang mengerti cara mendapat syafaat orang-orang shalih, akhirnya mereka mendatangi kuburan orang shalih, membawa kurban bahkan sesajen, dan memohon kepada orang shalih tersebut secara langsung agar diberikan syafaat.

Mereka menyangka syafaat itu milik orang sholeh tersebut, dengan sikap dan keyakinan tersebut Allah memvonis mereka telah menyekutukan-Nya.

Allah berfirman:

أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ

“Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?” [QS. Az Zumar: 43]

قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَّهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” [QS. Az Zumar: 33-34].

Sangat jelas Allah menyebutkan bahwa orang-orang musyrik dahulu, jatuh dalam kesyirikan karena mengharap, meminta dan beribadah kepada orang atau benda atau makhluk yang mereka anggap dapat memberi syafaat.

Kemudian di ayat ke 44, Allah meluruskan keyakinan mereka dan orang-orang semisal mereka, bahwa seluruh syafaat adalah milik Allah. Walaupun dinamakan syafaatnya orang-orang shalih atau syafaatnya Rasulullah ﷺ, namun pada hakekatnya syafaat-syafaat tersebut adalah milik Allah.

Oleh karena itu di dalam ayat kursi, yang dihafal oleh hampir setiap muslim, namun masih banyak diantara kaum muslimin yang tidak memahami maknanya, Allah menegaskan:

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?” [QS. al-Baqarah: 255].

Di akhirat kelak, tidak ada pemberi syafaat yang dapat langsung begitu saja memberi syafaat, tanpa mendapat ijin terlebih dahulu dari Allah.

Allah berfirman:

وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

“Dan berapa banyaknya Malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya.” [an-Najm: 26].

Allah juga berfirman:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (Malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” [al-Anbiya’: 28].

Ayat ini menjelaskan bahwa, di akhirat nanti tidak ada seorang pemberi syafaat pun, yang dapat langsung memberi syafaat, walaupun sudah mendapat ijin, kecuali orang yang akan diberi syafaat itu adalah orang yang diridhai dan dikehendaki oleh Allah untuk mendapat syafaat.

Jika kita ingin mendapat syafaat dari Nabi ﷺ dan kita tahu dalam Al-Quran disebutkan bahwa semua syafaat itu milik Allah, dan Nabi ﷺ tidak bisa memberi kita syafaat kecuali dengan seijin Allah, dan beliau juga tidak bisa memberi syafaat kepada kita kecuali kita termasuk orang yang diridhai dan dikehendaki oleh Allah untuk mendapat syafaat, maka merupakan kebodohan yang teramat sangat jika kita meminta langsung syafaat tersebut kepada Nabi ﷺ.

Karena semuanya tergantung kepada Allah, maka mestinya kita meminta syafaat Rasulullah ﷺ bukan dengan berdoa dan memohon kepad Rasulullah ﷺ tapi dengan berdoa dan memohon kepada Allah agar mengizinkan Rasulullah ﷺ memberi kita syafaat dan meridhai kita sebagai salah seorang penerima syafaat tersebut.

Di antara syafaat yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ:

Syafaat Rasulullah kepada para pendosa dari Ummat Islam.

شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي

“Syafaatku kelak bagi pelaku dosa besar dari kalangan umatku.” (HR Abu Dawud (4739), at Tirmidzi (2435)).

Namun dengan satu syarat mutlak, yaitu ikhlas dari dalam hati di dunia ini mengucapkan dan meyakini kalimat لا إله إلا الله dan tidak mengotori keikhlasan ucapan hati dan lisan kita dengan perbuatan kesyirikan sekecil apapun .

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” [HR. al-Bukhari].

Syafaat sesama kaum muslimin.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ  َرجُلٍ لَيْسَ بِنَبِيِّ

“Sungguh benar-benar akan masuk surga seseorang karena syafaat orang lain yang bukan Nabi.” [HR. Ahmad].

Syafaat para jamaah Shalat jenazah bagi sang mayyit.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim wafat, lalu empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun ikut menshalatkan jenazahnya, kecuali akan berlaku syafaat mereka terhadapnya.” [HR. Muslim].

Syafaat Al-Quran dan Puasa

Rasulullah ﷺ bersabda (artinya):

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaatnya kepada seorang hamba pada hari kiamat….” [HR.  Ahmad].

 

***

Wallahu A’lam

OLEH: UST. FAKHRUDDIN ABDURRAHMAN, LC., M.PD

(PIMPINAN PONDOK PESANTREN ABU HURAIRAH MATARAM)

Leave a Comment