RAMADHAN & SHALAT FARDHU BERJAMA’AH

RAMADHAN & SHALAT FARDHU BERJAMA’AH

Dalam banyak ayat Al-Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyeru para hamba untuk bertaqwa. Tujuannya agar kita meraih derajat mulia di sisi Allah dengan takwa. Sebab, itulah derajat paling mulia di sisi Allah:

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.”

Untuk itu, marilah menjadikan taqwa ini perhiasan dalam setiap detik kehidupan kita. Taqwa yang dimaksud, adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Thalq bin Habib:

أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله، وأن تترك المعصية على نور من الله تخاف عقاب الله

“Taqwa adalah; saat engkau mengerjakan ketaatan di atas cahaya ilmu dari Allah (yaitu pengetahuan tentang syariat-Nya) karena mengharap anugerah dari-Nya semata. Dan saat engkau meninggalkan kemaksiatan atas dasar cahaya ilmu dari Allah, karena takut akan siksa-Nya.”

Inilah hakikat taqwa. Taat pada Allah atas dasar ilmu dan keikhlasan. Hanya karena Allah dan untuk Allah.

Ketaqwaan inilah yang hendak diwujudkan melalui puasa Ramadhan. Inilah tujuan inti Madrasah Ramadhan. Sebagaimana Allah telah menegaskannya dalam al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183)

Taman ketakwaan itu diharapkan tetap subur dan bersemi selepas Ramadhan. Ditandai dengan ketaatan yang bertambah dan konsisten, juga rasa takut untuk kembali pada kemaksiatan dan kemunkaran. Dari sini, kita bisa melihat tali kokoh yang menyatukan antara ibadah puasa dan shalat. Puasa adalah jembatan menuju takwa. Sementara shalat, adalah benteng yang menjaga hamba dari perbuatan keji dan munkar. Takwa, mustahil diraih jika perbuatan keji dan munkar masih dilakukan. Dengan demikian, antara puasa dan shalat, keduanya tidak bisa dipisahkan. Sehingga tidak heran jika banyak ulama memfatwakan tidak sah atau tidak diterimanya ibadah puasa orang yang tidak shalat (Majmuu’ Fataawa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah: 15/177-178, Syaikh Bin Baaz).

Hubungan erat keduanya juga terlihat dari ibadah istimewa di bulan Ramadhan yang kita kenal dengan nama “Shalat Tarawih”. Tentu bukan tanpa alasan dan hikmah, shalat malam berjamaah di masjid setiap malam ini, hanya ada di bulan puasa. Sekali lagi, karena puasa dan shalat adalah dua ibadah yang terkait erat satu sama lain, khususnya sebagai penopang utama dalam mewujudkan takwa.

Shalat Tarawih sendiri punya fadhilah yang luar biasa. Rasulullah bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”

“Siapa yang melakukan shalat malam di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan harapan pahala dari Allah semata, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [al-Bukhari: 37, Muslim: 759]
Dalam hadits yang lain, diriwayatkan:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang melakukan shalat di malam qadr, atas dasar keimanan dan harapan pahala dari Allah semata, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [al-Bukhari: 1901, Muslim: 760]

Untuk itu, jangan sampai kita luput dari shalat tarawih berjamaah di masjid. Namun yang lebih penting dari itu adalah; shalat 5 waktu berjamaah di masjid. Banyak di antara kita salah kaprah dalam menerapkan Sunnah. Shalat tarawih begitu ramai di masjid, namun masjid justru sepi ketika shalat fardhu. Jika masjid ramai saat tarawih, maka shalat fardhu berjamaah di masjid lebih utama lagi untuk kita ramaikan.

Bahkan tidak sedikit ulama yang mewajibkan laki-laki yang tidak memiliki uzur untuk shalat fardhu di masjid secara berjamaah jika dia mendengar panggilan azan. Dan inilah pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. Karena Rasulullah bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Siapa yang mendengar azan namun dia tidak mendatangi panggilan azan tersebut, maka tidak ada shalat baginya kecuali jika ada uzur.” Artinya, dia tidak boleh shalat sendiri di rumah, jika dia mendengar azan di masjid dekat rumahnya.

Abdullah Ibnu Ummi Maktum, salah seorang sahabat yang ditimpa kebutaan, pernah berkata kepada Rasulullah:

يا رسول الله ، ليس لي قائد يلائمني إلى المسجد ، فهل لي رخصة أن أصلي في بيتي؟ فقال له نبينا عليه الصلاة والسلام : (هل تسمع النداء بالصلاة) قال : نعم ، قال : (فأجب) فأمره أن يجيب النداء ، وفي لفظ : قال له : (لا أجد لك رخصة) .

Wahai Rasulullah, saya tidak punya pembantu yang bisa menuntun saya ke masjid. Apa saya boleh shalat (fardhu) di rumah? Nabi bertanya: ‘apa engkau mendengar azan di masjid’. Ibnu ummi Maktum menjawab: ‘ya saya mendengar’. Rasul menjawab: ‘sambutlah panggilan azan tersebut (datangi masjid)’. Dalam riwayat lain: ‘saya tidak mendapati ada dispensasi untukmu’. Artinya: engkau tetap harus shalat fardhu di masjid.

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, shalat fardhu secara berjama’ah di masjid adalah perkara yang sifatnya wajib, bagi laki-laki yang tidak memiliki uzur (seperti sakit) dan dia mendengar panggilan azan. Jika kita bisa bersemangat menunaikan shalat tarawih berjama’ah di masjid padahal itu hukumnya sunnah, maka shalat fardhu–yang hukumnya wajib–tentu lebih utama lagi untuk kita kerjakan secara berjama’ah di masjid.

Dengan demikian, semoga momentum Ramadhan ini benar-benar mampu memberikan perubahan perubahan melalui puasa dan shalat berjama’ah yang kita kerjakan. Dan itu akan terlihat selepas Ramadhan. Masihkah kita rutin mengunjungi rumah Allah untuk berjama’ah…?? Jawaban dari pertanyaan ini, adalah barometer kesuksesan kita dalam menggapai tujuan madrasah Ramadhan ini.

 

Oleh: Ustadz Johan Saputra Halim, MH.I.

Leave a Comment