HAKIKAT IKHLAS

HAKIKAT IKHLAS

 Definisi Ikhlas

Al Harawy berkata: “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari semua campuran.”

Ibnul Qayyim berkata: “Maksudnya adalah jangan sampai amalannya tercampur dengan campuran tendensi diri, baik itu menghias-hias diri pada hati makhluk, meminta pujian dan lari dari celaan mereka, atau mencari penghormatan dan harta mereka, atau agar mendapat bantuan, simpati dan dipenuhi segala kebutuhannya dan lainnya dari penyakit serta campuran yang ujungnya adalah menghendaki selain Allah dari amalannya siapapun dia.” [Madarijus Salikin 2/92].

Ciri-ciri Orang yang Ikhlas

  • Berusaha menyembunyikan amal Sholih yang tidak harus dinampakkan.

Al Fudhail Ibnu Iyyadh berkata: “Sebaik-baik ilmu dan amal adalah yang tersembunyi dari manusia” [Tanbihul Mughtarrin hal. 30].

Sufyan ats-Tsaury berkata: “Semua yang aku nampakkan dari amalanku tidak pernah aku anggap ia (diterima) karena lemahnya kita ini dari keikhlasan apabila dilihat orang lain” [Tanbihul Mughtarrin hal. 26-27].

As Syafi’i berkata: “Hendaknya orang ‘alim memiliki amalan shalih yang tersembunyi antara dia dengan Allah karena semua yang dinampakkan kepada orang baik itu ilmu dan amal akan sedikit manfaatnya di akhirat.” [Tanbihul Mughtarrin hal. 34].

  • Takut terkenal.

Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: “Jadilah mata air ilmu, pelita petunjuk, tikar rumah (betah di rumah), pelita malam, pembaharu hati (banyak taubat dan istighfar), pakaian lusuh, dikenal penduduk langit dan tidak dikenal penduduk bumi.” [al Uzlah wal Infirod 38].Berkata Sufyan ats Tsaury: “Sedikit sekali orang alim yang halaqah majelisnya ramai kecuali akan ujub dengan dirinya” [Tanbihul Mughtarrin hal. 78].

  • Menjauhi jabatan dan kepemimpinan.

Al Anthaqy berkata: “Jabatan adalah kepala dari cinta riya’, ia sangat digemari jiwa dan penyejuk mata syaithon.” [Tahdzib al Hilyah 3/219].

Ibrahim Ibnu Adham berkata: “Jadilah kalian ekor jangan menjadi kepala karena ekor akan selamat dan kepala akan hancur.” [Tahdzib al Hilyah 3.219].

Al Fudhail Ibnu Iyadh berkata: “Tidaklah seseorang suka jabatan melainkan akan suka membicarakan orang dengan kekurangan dan aib agar dialah yang merasa lebih baik. Ia pun kurang suka apabila orang-orang menyebut seseorang di dekatnya dengan suatu kebaikan. Barangsiapa yang gandrung dengan jabatan maka ia telah mengucapkan salam perpisahan dengan kebaikannya.” [al Awaiq 88].

  • Selalu merasa kurang dalam keikhlasan dan amal ibadah dan senantiasa merendahkan diri sendiri.

Rabi’ Ibnu Khutsaim menangis sampai jenggotnya basah seraya berkata: “Sungguh kami mendapati suatu kaum (para sahabat), kami di sisi mereka seolah perampok.” [al Hilyah 2/108-109].

Rabi adalah ulama tabi’in, Imam, ahli ibadah, wara’ dan ahli zuhud, dia merasa dirinya seperti penjahat disamping para sahabat lalu bagaimana dengan kita…???!!

Al Fudhail Ibnu ‘Iyadh berkata: “Barangsiapa yang mau melihat orang riya’maka lihatlah kepadaku.” [Tanbihul Mughtarrin hal. 30].

Abu Ya ‘qub as Susy berkata: “Kapan saja mereka mempersaksikan diri mereka ikhlas maka keihklasan mereka butuh lebih ikhlas lagi” [al Ihya’ 4\381].

  • Sama baginya antara dipuji dan dicela.

Yahya Ibnu Mu’adz pernah ditanya: “Kapan seorang hamba itu dikatakan orang yang ikhlas?”. Beliau menjawab: “Jika akhklaknya seperti bayi yang tidak peduli siapa yang memuji atau mencelanya” [Tanbihul Mughtarrin hal. 24].

Al Fudhail Ibnu ‘Iyyadh berkata: “Tanda orang zuhud terhadap dunia dan manusia yaitu tidak menyukai pujian orang kepadanya dan tidak juga peduli dengan celaan mereka. Jika engkau bisa tidak dikenal maka lakukanlah. Tidaklah mengapa engkau tidak dikenal dan disanjung dan tidak mengapa engkau dicela manusia asalkan dipuji di sisi Allah.” [Hilyatul Auliya’ 8/90].

‘Ali Ibnu Abi Thalib berkata: “Orang yang riya’ memiliki tiga ciri: Malas apabila sendirian, semangat apabila bersama orang banyak, menambah amalan apabila dipuji dan menguranginya jika dikritik.” [Tanbihul Mughtarrin hal. 26].

Bagaikan Air dan Api….

Ibnul Qayyim berkata: “Tidak akan berkumpul antara ikhlas dalam hati dengan senang pujian, sanjungan serta ambisi meraih apa yang orang miliki kecuali seperti berkumpulnya air dengan api, dhab (hewan padang pasir) dengan ikan paus. Apabila engkau sudah istiqamah menyembelih ambisi (ketamakan) dan zuhud (tidak butuh) dengan pujian dan sanjungan barulah ikhlas itu akan mudah engkau gapai” [al Fawaid hal. 149].

Ikhlas Sekedar Perantara…???

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dikisahkan bahwa telah sampai kepada Abu Hamid al Ghazali bahwasanya barangsiapa yang meikhlaskan niatnya lillah selama empat puluh hari akan terpancar mata air hikmah dari hati ke lisannya“. Al Ghozali berkata: “Maka aku mengikhlaskan niat selama 40 hari namun tidak terpancar apapun“. Aku menceritakan hal tersebut kepada orang-orang alim. Mereka berkata: “engkau ikhlas hanya karena hikmah bukan karena Allah Taala“.

Lanjut Syaikhul islam: “Karena seseorang itu terkadang tujuannya adalah mencari ilmu dan hikmah, atau ilham dan pengaruh atau penghormatan dan pujian orang lain kepadanya atau tendensi lainnya. Telah diketahui bahwa hal tersebut dapat tercapai dengan ikhlas lillah Taala dan hanya mengharap wajahNya. Apabila itu dicari dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya maka ini akan bertentangan (kontradiksi) karena siapa saja yang mencari sesuatu dengan yang lainnya maka tujuan kedua inilah tujuan sebenarnya sementara yang pertama sekedar washilah (perantara). Siapa saja yang ikhlas agar menjadi orang alim, arif, punya hikmah atau pemilik ilham dan selainnya maka di sini ia tidak lillah tetapi menjadikan Alloh sebagai perantara untuk tujuan yang lebih hina dan rendah…” [Dar Taarudil Manqul 6/66,67].

Ibnul Jauzy berkata: “Termasuk yang paling urgen pada keikhlasan adalah tidak menginginkan perhatian (simpati hati-hati orang lain) kepadanya. Simpati itu akan ia peroleh bukan karena kemauannya justru dengan ketidaksukaannya” [Shaidul Khatir hal. 558].

 

***

Wallahu A’lam

OLEH: UST. ALI SULIS

(PENGAJAR MA’HAD ABU HURAIRAH MATARAM)

Leave a Comment