INDAHNYA AKHLAK MULIA

INDAHNYA AKHLAK MULIA

Akhlaqul Karimah adalah bentuk imtitsaal atau ketaatan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Akhlaqul Karimah adalah wujud konkrit menjadikan Nabi sebagai qudwah (teladan). Seseorang yang berakhlak mulia setiap saat senantiasa dalam keadaan beribadah kepada Allah. Sebagaimana kita bertaqarrub kepada Allah dengan ibadah shalat, puasa, dan lain-lain, maka kita juga termasuk bertaqarrub kepada Allah dengan Akhlaqul Karimah. Akhlak yang mulia butuh waktu yang panjang, sehingga waktu atau kesempatan untuk bertaqarrub dengan Akhlaqul Karimah juga sangatlah panjang, pahalanya pun tentu sangat besar.

Ketika Rasul ﷺ ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan ke dalam surga, beliau ﷺ menjawab:

تَقْوَى الله َوحُسْنُ الْخُلُقِ

Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”

Orang yang paling dekat majlisnya dengan Nabi ﷺ kelak di akhirat adalah:

أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

yang paling baik akhlaknya di antara kalian.”

Akhlak yang mulia menjadikan pelakunya dicintai semua orang, bahkan oleh musuh. Orang yang jauh akan dekat dengannya dan menyukainya, apalagi orang yang dekat.

Bagi seorang da’i, akhlak yang mulia akan menjadikan orang-orang mendekat kepadanya, mempercayai ucapannya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” [QS. Ali Imran: 159].

Dengan akhlak yang mulia, seseorang bisa berbuat kebaikan kepada orang lain dengan kebaikan yang belum tentu bisa diwujudkan semata dengan harta.

Akhlak yang mulia sejatinya adalah kelapangan, sementara harta belum tentu bisa memberi kelapangan. Sering kali seseorang menolak harta pemberian orang, sekalipun dia sedang butuh, gara-gara si pemberi berakhlak buruk.

Syaikh Abdurrahman as-Si’di, penulis risalah tentang Akhlaqul Karimah ini adalah sosok yang sangat mulia akhlaknya. Jadi beliau tidak hanya berteori. Beliau mengatakan; dengan Akhlak yang mulia, seseorang akan mudah meraih ilmu. Di antara akhlak yang penting bagi seorang penuntut ilmu adalah; kesabaran. Kesabaran adalah akhlak yang agung. Betapa banyak penuntut ilmu yang putus di tengah jalan gara-gara tidak bersabar.

Beliau juga berkata; dengan akhlak yang mulia, seseorang–dalam diskusi–bisa memberikan argumentasi dengan tenang, demikian sebaliknya, dia bisa mendengar hujjah lawan diskusinya dengan tenang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يُعْطِيْ عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِيْ عَلَى الْعُنْفِ

Sesungguhnya Allah akan memberi karena akhlak yang lemah lembut apa yang tidak Allah berikan karena akhlak yang kasar.”

Seseorang yang berakhlak buruk, bisa berbuat zalim dengan tangannya, karena dia tidak mampu menyampaikan argumentasi dengan lisannya dikarenakan kemarahannya.

Akhlak yang buruk akan berujung pada penyesalan. Karena mendorong seseorang untuk berbuat sembrono, tergesa-gesa. Sehingga mudarat akan menimpa dirinya akibat kesembronoannya.

Beliau menjelaskan, dengan akhlak yang mulia, seseorang bisa menunaikan kewajibannya dan hak-hak orang lain (baik hak yang wajib maupun hak yang bersifat mustahab). Kewajiban atas hak orang tuanya, istrinya, anak-anaknya. Penunaian hak-hak tersebut tidak mungkin bisa diwujudkan oleh orang-orang yang berakhlak buruk.

Beliau mengatakan, akhlak yang mulia akan membuahkan sifat inshaf (adil), objektif, tidak fanatik, jauh dari sifat “ingin selalu menang”, tidak peduli dia salah atau benar, yang penting dia menang. Seseorang yang berakhlak mulia akan menjadikan kebenaran sebagai tujuannya, kendatipun kebenaran tersebut keluar dari lisan lawan diskusinya.

Akhlak yang mulia adalah kelezatan, kenikmatan dalam hidup di dunia. Seseorang akan merasakan ketenangan. Sebaliknya, akhlak yang buruk adalah derita dan sengsara. Dia akan bertikai dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ini tentu akan menyusahkan hidupnya, membuat kacau perjalanan hidupnya. Dia akan menemui lawan dari keutamaan akhlak yang mulia. Jika dengan akhlak mulia seseorang mendapatkan teman, maka dengan akhlak yang buruk, yang dia dapati hanyalah musuh.

Dengan akhlak mulia, seseorang bisa mencapai derajat ahli puasa dan ahli shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sungguh, mukmin yang berakhlak mulia, dengan akhlaknya dia benar-benar akan mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan rajin shalat (Shahih, Abu Dawud: 4798)

Jalan Meraih Akhlak yang Mulia

1. mengetahui manisnya buah yang dihasilkan dari akhlak yang mulia. Senantiasalah memikirkan dampak-dampak positif yang lahir dari akhlak yang baik. Perbanyaklah membaca faidah-faidah akhlak yang mulia.

2. Perkuat tekadmu untuk meraih akhlak yang mulia. Ini bisa diperoleh dengan mengetahui keutamaan keutamaan berakhlak mulia.

3. Camkan selalu, bahwa akhlak yang buruk selalu berujung pada keburukan dan petaka, baik di dunia maupun di akhirat.

4. Akhlak mulia bisa diraih dengan melatih diri. Harus bisa mengekang diri untuk berakhlak mulia. Sebagaimana seseorang yang lemah fisiknya, bisa menjadi kuat dengan latihan.

5. Berusahalah agar engkau dicintai Allah. Sebagian salaf mengatakan; akhlak yang mulia adalah anugerah dari Allah, jika Allah mencintaimu maka Allah akan menganugerahimu akhlak yang mulia.

6. Senantiasalah berdoa pada Allah, meminta akhlak yang mulia. Rasulullah senantiasa meminta kepada Allah akhlak yang mulia (padahal beliau adalah manusia yang paling berakhlak mulia, Allah bahkan telah memberikan persaksian akan keagungan akhlak beliau). Di antara doa Rasul ketika meminta akhlak yang mulia:

اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي

Ya Allah, Engkau telah menjadikan baik penciptaan fisikku, maka jadikanlah baik akhlakku.

 

***

(DIRINGKAS DARI KAJIAN SYAIKH ABDURRAZZAQ BIN ABDUL MUHSIN AL ABBAD

OLEH UST ABU ZIYAN HALIM)

Leave a Comment