MANHAJ PENDIDIKAN PENCETAK GENERASI RABBANI

MANHAJ PENDIDIKAN PENCETAK GENERASI RABBANI

Ummat ini sangat butuh kepada ulama Rabbani, pendidik umat sejati yang membina ruh (jiwa) manusia. Ruh itu ada dua yaitu:

Ruh yang pertama; hanya menghidupkan jasad. Ruh yang kedua, yaitu ilmu, inilah yang memberikan kehidupan abadi yang sesungguhnya. Dari sini, kita bisa memahami betapa butuhnya umat kepada seorang guru yang alim dan murabbi di jalan Allah.

Allah menyebut orang-orang yang tidak berilmu sebagai orang yang mati. Maka bagaimana mungkin orang mati bisa membangunkan umat…?? Umat ini–sekali lagi–amatlah butuh kepada ulama.

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.” [Qs. Al-An’am: 122].

Dalam sebuah syair disebutkan;

وَفِي الْجَهْلِ قَبْلَ الْمَوْتِ مَوْتٌ لِأَهْلِهِ

Kebodohan (tentang agama) itu, kematian bagi si bodoh sebelum kematian yang sesungguhnya datang”

فَأَجْسَامُهُمْ قَبْلَ الْقُبُورِ قُبُورُ

Jasad-jasad mereka sudah lebih dulu terkubur sebelum dikubur”

وَإِنْ امْرَأً لَمْ يَحْيَ بِالْعِلْمِ مَيِّتٌ

Sungguh, seseorang yang tidak hidup dengan ilmu (agama), sejatinya adalah mayat”

فَلَيْسَ لَهُ حَتَّى النُّشُورِ نُشُورُ.

Tak ada kebangkitan untuk mereka sampai datang hari kebangkitan yang sesungguhnya.”

Setiap pendapat dalam agama ini, harus dibimbing dan didasari oleh Wahyu. Di sinilah letak urgensi kebutuhan ummat terhadap ulama yang mampu mendidik.

Seorang pendidik harus kuat untuk memberikan peringatan. (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali)

Sabda Nabi dalam hadits Jibril:

هذا جبريل أتاكم يعلمكم دينكم

Ini Jibril, dia datang untuk mengajarkan agama kalian.”

Dari ungkapan tersebut, terdapat isyarat figur seorang pendidik sejati; dia harus alim, beradab (lahir-batin), bisa menjadi qudwah. Dengan ketulusannya, dia rela datang–bahkan turun–demi mengajarkan ilmu sebagaimana Jibril turun dari langit ke bumi, demi menyampaikan ilmu.

Setiap guru, punya peluang untuk menanamkan adab sekalipun tidak sedang mengajarkan ilmu atau teori adab. Jadi, pelajaran adab yang sesungguhnya bisa ada berkesinambungan setiap waktu, bahkan tanpa harus ada jam di kelas.

Seorang guru shorof bisa memberikan pelajaran adab melalui tashrif berikut ini:

نصرضربفتحعلمحسنحسبدخرج

Dengan membawanya kepada makna berikut:

Ditolong oleh guru terlebih dahulu – lalu dipukul untuk dididik – barulah pikirannya terbuka – dia akan jadi orang berilmu – menjadi orang baik – lalu diperhitungkan – tapi hati-hati, nanti bisa tergelincir.”

Dulu di bangku IAIN, saya (Ust. Abu Izzi) mumet, pelajarannya tidak sesuai bayangan saya. Saya tanya ke dosen psikologi; Bu, dulu Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad nggak pernah belajar observasi, pedagogik, dll. Kenapa kok murid-murid mereka bisa jadi orang besar. Kita sekarang belajar al-Quran hadits sebagaimana mereka mempelajarinya, kita tambah lagi dengan ilmu observasi, pedagogik, psikologi anak didik, dll. Tapi kenapa kok, murid-murid kita bandel semuanya. Kata Dosen: mereka adalah guru-guru yang ikhlas. Ustadz: ya udah, kenapa kita repot-repot, kita belajar ikhlas aja kalo gitu…??!!

Kisah ini menggambarkan betapa pentinnya keikhlasan bagi pendidik. Ini sangat menentukan kesuksesan anak didiknya.

Muhammad ‘Ied al-Abbasy (penulis: at-Ta’liim fii ‘Ahdis Salaf) mengatakan: Kapan kondisi umat akan berubah? Tatkala ada orang alim yang mentarbiyah ummat.

Baqiyyatus Salaf (yang tersisa dari kalangan Salaf) di zaman ini (itupun mereka telah tiada); Ibnu Baaz, al-Albani, Ibnul’Utsaimin. Dari mereka lahir orang-orang besar. Melalui mereka, umat ini terjaga. Melalui mereka, Allah menjaga Islam ini. Dengan keberadaan mereka, umat tidak bingung, tidak tenggelam dalam perpecahan.

Ungkapan seorang Guru pada muridnya; kamu itu akan jadi pembela agama Allah, jangan mikir makan apa, Allah yang ngasi kamu makan. Ini contoh penanaman aqidah yang luar biasa pada anak didik.

Kunci kesuksesan pendidikan Tempo Dulu:

1. Dulu walaupun ilmu yang kita pelajari sulit, tapi kita lebih dulu tanamkan kecintaan pada ilmu. Sehingga belajar itu tidak capek.

2. Dulu, hiburan itu sangat jauh (TV, Internet belum ada), maka sebisa mungkin yang demikian ini dijaukan dari anak didik.

3. Aqidah yang benar dan pengokohan keimanan (Tarsiikhul Iimaan), dialah yang akan menjaga dan membentengi lalu menguatkan. Guru harus banyak mengajarkan muridnya untuk mengenal Allah. Dan itu bisa dilakukan oleh setiap guru sekalipun bukan guru aqidah.

Seorang guru Nahwu juga bisa menanamkan iman dan aqidah melalui bait Alfiyah berikut ini:

ويُرفع الفاعل فعل أضمرا

Dalam ilmu Nahwu, bait tersebut bermakna;

Faa’il itu bisa di-rofa’ dengan fi’il yang tersembunyi.” (Alfiyah Ibn. Malik)

Namun seorang guru Nahwu yang paham urgensi tauhid dan aqidah, dia bisa menyisipkan pelajaran aqidah melalui bait tersebut, dengan menggiringnya kepada makna:

ويَرفع الفاعل فعل أضمرا

Allah akan mengangkat amal yang tersembunyi”

Jadi setiap saat, nasehat-nasehat keimanan bisa ditanamkan kepada murid, sekalipun sedang membahas ilmu yang tidak ada sangkut pautnya dengan aqidah atau iman.

Demikianlah, melalui guru yang baik, akan lahir murid-murid yang luar biasa.

***

Wallahu A’lam

(Diringkas Oleh: Ust. Abu Ziyan Johan Saputra, M.H.I dari kajian Ust. Abu Izzi)

Leave a Comment