BAHAYA LATEN LALAI

BAHAYA LATEN LALAI

Tatkala gemerlap dunia kian indah dan menghanyutkan, manusia semakin lupa akan hari kematian apalagi memperbanyak bekal untuk hari kebangkitan. Mall dan tempat hiburan jadi pilihan, masjid-masjid dan majelis ta’lim ditinggalkan. Hp dan berita jadi konsumsi harian sementara membaca al Qur’an hanya musiman. Ya…kita hidup di zaman yang sangat melalaikan sehingga mati menjadi suatu kebencian dan akhirat makin dilalaikan.

Ibnu ‘Umar pernah menjual seekor unta yang bagus, lalu dikatakan kepadanya: “Kenapa tidak engkau tahan saja?” Beliau menjawab: “Ia memang sangat cocok buatku namun ia telah mengambil sebagian hatiku dan aku tidak ingin hatiku sibuk dengannya…”[Sifatus Sofwah 1/273]. Lalu bagaimana jika hati kita telah terserak dengan pernak-pernik dunia ini…??Bukankah akan semakin sibuk dan lalai…??.

Makna Lalai

Al Jurjani berkata: “Lalai adalah memperturutkan diri dalam sesuatu yang disenanginya” [at-Ta’rifat 2019].

Al Ashfahaniy berkata: “Lalai yaitu lupa pada diri manusia yang disebabkan tidak ada penjagaan dan perhatian.” [al Mufrodat 2/156].

Lalai juga bisa bermakna hilangnya kesadaran pada sesuatu yang seharusnya harus disadari. [Faidhul Qodhir 1/262].

Bahaya Laten Lalai

Lalai termasuk penyakit hati yang ganas. Allah Ta’ala mencela sifat lalai dan memperingatkan Nabi-Nya dan hamba-hamba-Nya untuk tidak menjadi orang-orang yang lalai dan berteman dengan orang yang lalai karena akan membuat rugi di akhirat nanti . Allah Ta’ala berfirman (artinya):

Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [Qs. Al Kahfi].

Rasulullah bersabda: “Tidaklah sekelompok orang yang bangun dari suatu majelis yang tidak disebut nama Allah di dalamnya kecuali mereka bangun seperti bangkai keledai dan mereka akan mengalami kerugian.” [HR. Abu Dawud 4855, shahih]

Jenis-jenis Lalai

Lalai ada dua macam:

  1. Lalai yang terpuji yaitu lalai dari berbuat maksiat dan segala sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala. Allah berfirman (artinya):

    Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah (berbuat zina) lagi beriman, mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” [Qs. an-Nuur: 23].

  2. Lalai yang tercela yaitu lalai dari mentaati Allah, mengingat-Nya, dari hari kiamat, hisab dan pembalasan amal.

Lalai yang tercela terbagi beberapa macam:

  1. Lalai yang datangya sewaktu-waktu.

    Lalai jenis ini sering menimpa orang-orang shalih- semoga Allah menjadikan kita termasuk orang- orang sholih – pada saat-saat tertentu namun mereka segera sadar kembali. Allah berfirman (artinya):

    Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” [QS. al-Araaf: 201].

  2. Lalai yang terus menerus. Penyebab dari lalai ini adalah:

    1. Ambisi dengan dunia.

    2. Tidak merasa berdosa dengan kelalaian tesebut.

    3. Mengikuti Hawa Nafsu.

    4. Terlalu sibuk dengan mencari nafkah.

    5. Sibuk dengan permainan dan olahraga.

    6. Bergaul dengan orang-orang yang lalai.

    7. Terlena dengan kelezatan hidup instan dan mewah.

Nabi bersabda: “Barangsiapa yang memburu buruan maka ia akan lalai” [HR. Abu Dawud 2859]. al Hafidz berkata: “Hadits ini dimaksudkan kepada orang yang rutin melakukannya sehingga ia melupakan maslahat agama yang lain.” [Fathul Baary 9/662].

Fenomena Lalai Masa Kini

  1. Lalai dari mempelajari Agama

  2. Lalai dari mempelajari kitabulloh, membacanya dan mengajarkannya.

  3. Lalai dari dzikrulloh

  4. Lalai dari mengikhlaskan niat

  5. Lalai dari amalan-amalan sunnah

    (Al-Ghoflah, Syaikh Sholih al Munajjid; 24-36).

Tanda-tanda Orang Yang lalai

  1. Malas melakukan keta’atan

  2. Meremehkan dosa-dosa

  3. Senang dengan kemaksiatan

  4. Menyia-nyiakan waktu tanpa faedah.

    (Al-Ghaflah, Syaikh Ibnu ‘Ali al Qohthoniy; 20-26).

Solusi dari Kelalaian

  1. Rutin membaca al Qur’an dan menghadiri majelis ilmu

    Allah berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Qs. Thaha: 124].

  2. Menjaga Dzikir di setiap keadaan baik dzikir muthlaq (bebas) atau muqoyyad (terbatas).

    Allah berfirman:“Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” [Qs. al-Araf: 205].

  3. Menjaga Sholat lima waktu dengan berjama’ah

    Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menjaga sholat yang lima waktu ini maka ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai.” [HR. Ibnu Khuzaimah 2/280, as Shohihah 643].

  4. Bersemangat mengerjakan Qiyamaul lail

    Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang sholat malam membaca 10 ayat maka ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai.” (HR. Abu Dawud 1/387, Shahih].

  5. Menjaga sholat-sholat sunnah seperti sholat rowatib, dhuha, dan witir.

    Rasulullah menyebutkan tentang shalat dhuha: “Shalat awwabin adalah tatkala anak unta mulai kepanasan.” [HR. Muslim].

    Awwabin artinya orang-orang yang ta’at, orang-orang yang kembali kepada Alloh. Dinamakan demikian karena di waktu itu manusia sangat sibuk dengan dunianya sehingga lalai dan sedikit yang melakukannya.

  6. Zuhud dengan dunia

    Bakr al Muzani berkata: “Setiap kali dunia ini terbuka sedikit maka jiwa pun akan semakin terbuka dengannya.” [Mausu’ah Ibnu abi dunya 4/119].

    Berkata Abi Utsman al Hairy: “Kegembiraanmu dengan dunia akan menghilangkan kegembiraanmu dengan Alloh dari dalam hatimu” [Tahdzib as Siyar].

***

Wallahu A’lam

OLEH: UST ALI SULIS

Leave a Comment