KAPAN WAKTU WAJIB ZAKAT FITRAH?

Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar ini;

أمر بزكاة الفطر قبل خروج الناس إلى الصلاة

Rasulullah ﷺ memerintahkan agar zakat fitrah ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk melakukan shalat ‘id. [al-Bukhari, Muslim]

Malikiyyah (pada salah satu pendapatnya) dan Hanafiyah, menyatakan bahwa waktu wajibnya penunaian zakat fitrah adalah saat terbitnya matahari di hari ‘id. Ini pendapat pertama.

Sementara jumhur ulama (pendapat rajih di kalangan Syafi’iyyah, salah satu pendapat Malikiyyah, dan Hanabilah) menyatakan; waktu wajibnya adalah saat matahari terbenam di hari terakhir Ramadhan. Demikian hasil interpretasi mereka terkait hadits Ibnu’Umar di atas, jika digabungkan dengan riwayat-riwayat lain. Ini pendapat yang kedua. [al-Majmuu’: 6/126-127, an-Nawawi]

Kosensekuensi hukum yang berbeda akibat perbedaan pendapat di atas, akan terlihat jelas pada kasus;

✍ Orang yang meninggal, baru masuk Islam, atau baru lahir setelah matahari terbenam di hari terakhir Ramadhan, sebelum terbitnya fajar di hari ‘id.

Menurut pendapat kedua; orang yang meninggal setelah matahari terbenam, sebelum terbitnya fajar di hari ‘id, maka tetap wajib ditunaikan zakatnya. Karena dia masih ada saat waktu wajib telah tiba. Sementara tidak demikian menurut pendapat pertama, karena dia sudah tidak ada sebelum waktu wajib tiba (yaitu saat terbitnya fajar di hari ‘id).

Pada kasus bayi yang baru lahir atau orang yang baru masuk Islam setelah matahari terbenam, maka berlaku kondisi sebaliknya. Zakatnya wajib ditunaikan menurut pendapat pertama, karena dia sudah ada saat waktu wajib telah tiba. Sementara menurut pendapat kedua, dia tidak wajib zakat, sebab dia belum ada atau belum menjadi muslim saat waktu wajib telah tiba.

Pemaparan selengkapnya bisa ditelaah di al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah (jilid 23, hlm. 340).

Wallahu a’lam, pendapat yang lebih kuat (raajih) adalah pendapat yang kedua, yaitu pendapat jumhur ulama. Waktu wajib zakat fitrah adalah saat matahari terbenam di hari terakhir Ramadhan. Dari sisi ihtiyaath (kehati-hatian), pendapat ini lebih pas.

_______
Sumber bacaan:
Majallah al-Buhuuts al-Islaamiyyah: 62/328, yang diterbitkan oleh Majelis Ulama di al-Lajnah ad-Daaimah, KSA.

 

***

✍ Johan Saputra Halim

 

Leave a Comment