KISAH SEPUTAR DAUROH-19, BATU-MALANG (bag.3)

(Bag.3) Kisah Di Pesawat: Dari LIA – Juanda

Saya duduk di sheet 6B (seharusnya 6A), tapi karena Ust. Sapar rupa-rupanya ingin duduk dekat dengan akses keluar, saya pun duduk di tengah. Lagi pula asyik bisa foto-foto view di luar.

Duduk di samping kiri saya, Ust. Dafit. Beliau ini ni’mal jaliss, selalu membawa tawa dan keceriaan selama di perjalanan.

Ok, back to the view out there. Wow… Awesome. Pilotnya seakan mengerti jiwa Abhur Tracker. Kami di bawa terbang dengan manja di atas 3 Gili terkenal Lombok. Lanjut setelah itu, kami terbang di sebelah utara Rinjani. Seumur-umur baru kali ini saya ngeliat Danau Segara Anak. Ga tanggung-tanggung, pertama ngliat, langsung dapet view yang waaww, serasa view ketika kamu menunggangi drone di atas Rinjani.

              

Terbang di atas utara Rinjani membuat saya teringat sebuah perjalan seru pasca lebaran kemarin. Bersama seorang sahabat sejati (jazaahumullaahu khoiron). Dibonceng touring dia (akh Deni) dari Selong belok ke Sembalun lalu ke Bayan, serasa menaiki pesawat yang saat ini sedang kami naiki. Aman dan nyaman di belakang tubuh kekarnya, yang menghalau angin buat saya di belakang 🙂. Sekilas saya berpikir di atas Bayan, rumahnya Pak Rosidi yang mana ya…?? Sambil melihat titik-titik putih atap rumah perkampungan di Bayan. Tanpa sadar lirih doa terucap untuknya (Pak Rosidi) jazaahullaah khoiron atas jamuannya ketika itu. Tidak lupa juga doa buat si empu kambing (akh Deni) yang kami santap ketika itu. Baarakallaahufiikum jamii’an yaa ikhwah.

Sekalian ahh…!! berdoa buat keluarga dan rekan-rekan Tim alhujjah.com. Kan doa musafir itu mustajab.

Sayang, di luar agak berkabut. Hasil jepretan saya kurang waww.

____
Juanda, 02072018
Muhibbukum fillaah
✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Leave a Comment