KISAH SEPUTAR DAUROH-19, BATU-MALANG (Bag.1)

(Bag.1) Dari Lombok ke Batu: Perjalanan Menuju LIA

Jam di HP menunjukkan angka, 07.07, akh Shalihin yang bertugas mengantar kami ke LIA (Lombok International Airport) belum juga muncul di Pondok. Telpon saya akhirnya diangkat juga. “Lagi di jalan tadz…” katanya. Kami udah gelisah menunggu. Anggota kloter pertama udah komplit. Ada Ust. Jamal, Ust. Sapar, Ust. Jabir, Ust. Dafit, Ust. Sofi, Ust. Hamdan, Ust. Ilham, Ust. Jun, dan saya sendiri (Abu Ziyan). Akhirnya, akh Shalihin muncul juga. Matanya tampak sayu. Sudah begadang rupanya semalam. Jam di HP sudah menunjukkan pukul 07.25. Sementara pesawat akan take off pukul 08.40 di jadwal keberangkatan.

Alhamdulillaah sampai juga di LIA pukul 07.50. Jarak 32.4 km Mataram-LIA ditempuh Shalihin dalam tempo 25 menit di tengah kemacetan Senin pagi.

Sesaat sebelum memasuki Pesawat, guru kami Ustadz Mukti Ali Abdulkarim tiba di Bandara. Alhamdulillah sempat salaman dan cipika-cipiki dengan beliau sebelum kami memasuki pesawat. Beliau di pesawat kloter kedua bersama Mudir Ponpes Abu Hurairah, Ust. Fakhruddin Abdurrahman, dan rombongan ustadz lainnya.

Di antara Asatidz Lombok yang berada di kloter kedua adalah; Ust. Sufyan Bafin Zeen, Ust. Masyhuri, Ust. Zahid, Ust. Deni Abu Ammar, dan Ust. Abdullah Husni.

Ust. Mizan sedianya ikut juga di kloter kedua ini, tapi qaddarallah putra beliau yang ke-3 masuk Rumah Sakit. Semoga Allah memudahkan urusan beliau dan menyembuhkan putra beliau. Akhirnya kursi beliau digantikan oleh Ust. Helmi Husni, tetangga saya di Gunungsari Lombok Barat.

Sekian dulu ceritanya. Kami mau take off. Bismillah, semoga Allah jadikan ini safar yang penuh berkah.

___
✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim (Pimpinan Redaksi)

Leave a Comment