TAUFIQ YANG PALING AGUNG

Kita sering mendengar kata Taufiq. Apa itu Taufiq…?? Taufiq ada banyak macamnya. Tidak hanya di akhirat tapi juga di dunia. Di saat tidur, kita butuh Taufiq, agar hati dan lisan ini mau berdoa, memohon penjagaan kepada Allah.

Di saat bangun, kita butuh Taufiq agar hati dan lisan ini tidak mengingat yang lain terlebih dahulu sebelum mengingat nikmat Allah dan menyebut nama-Nya. Kita butuh Taufiq dari Allah agar kaki ini bisa ringan melangkah memenuhi panggilan adzan. Di saat makan, kita butuh Taufiq dari Allah. Ketika melangkah ke tempat kerja kita butuh Taufiq, agar pekerjaan hari itu menghasilkan rizki yang halal, berkah, dan mencukupi, sekalipun sedikit.

Anak-anak dan remaja, butuh Taufiq Allah agar tidak salah memilih teman, tidak salah memilih sekolah, tidak keliru memilih jurusan. Pria dan wanita dewasa butuh Taufiq agar tepat memilih pasangan hidup. Seorang petani butuh Taufiq, kapan waktu yang tepat untuk menyemai benih. Bahkan seorang nelayan, butuh Taufiq kapan dan di mana harus melepas jaring atau umpannya. Kita semua butuh Taufiq dari Allah. Di setiap waktu dan tempat, di setiap keadaan.

Apa itu Taufiq ?

Ibnul Qayyim berkata:

أجمع العارفون بالله أنَّ التوفيق هو أن لا يَكِلَكَ الله إلى نفسك، وأن الخذلان هو أن يُخْلِيَ بينك وبين نفسك

“Orang-orang yang mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah bersepakat bahwasanya Taufiq adalah; manakala Allah tidak menyerahkan dirimu kepada dirimu sendiri. Sementara lawan dari Taufiq, yaitu al-Khudzlaan, adalah manakala Allah meninggalkanmu bergantung pada dirimu sendiri.” [Madaarij as-Saalikiin: 1/445]

Taufiq yang paling agung

Anas bin Malik radhiallaahu’anhu mengisahkan:

“كان غلام يهودي يخدم النبي صلى الله عليه وسلم فمرض، فأتاه النبي صلى الله عليه وسلم يعوده، فقعد عند رأسه”، فقال له: ((أَسْلِمْ))، فنظر إلى أبيه وهو عنده، فقال له: “أَطِعْ أبا القاسم صلى الله عليه وسلم”، فأسلمَ. وخرج النبي صلى الله عليه وسلم وهو يقول: ((الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ بِي مِنَ النَّارِ)) وفي رواية: “فلما مات”، قال: ((صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ))

Suatu hari, seorang anak Yahudi yang pernah membantu Nabi, ditimpa sakit. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam datang membesuk. Duduk di samping kepala si anak, Nabi lantas bersabda: ‘masuklah ke dalam Islam’, anak tersebut kemudian memandang wajah ayahnya yang juga ada di situ. Lantas ayahnya berkata; ‘taatilah Abul Qosim, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam’. Anak tersebut kemudian mengikrarkan keislamannya, (lalu wafat). Kemudian Nabi keluar, seraya bersabda: ‘segala puji bagi Allah’ (yang telah memberi Taufik kepada anak ini) sehingga dia selamat dari api neraka, masuk Islam melalui diriku’. Dalam riwayat yang lain disebutkan ketika anak ini wafat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada para sahabat: ‘sholatillah sahabat kalian ini’. [al-Bukhari: 1356]

Inilah bentuk Taufiq terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Yaitu keselamatan di akhirat. Inilah jenis Taufiq yang paling kita butuhkan; iman, tauhid, dan amal shalih. Semua Taufiq yang kita butuhkan di dunia, bermuara pada keridhoan Allah dan keselamatan di akhirat kelak. Tidur, makan dan minum, bekerja mencari nafkah, dan memilih pasangan hidup, semua hal tersebut pada akhirnya harus bermuara pada keridhoan Allah dan keselamatan di akhirat kelak. Dan itu hanya bisa terwujud dengan iman atau Aqidah yang benar, dengan tauhid atau peribadatan yang murni untuk Allah semata, dan amal shalih sesuai Sunnah Rasulullah ﷺ.

Ada dua orang, yang satu begitu berat bangun subuh. Mengangkat kelopak matanya saja begitu berat. Padahal tubuhnya kekar dan sehat. Namun yang satu lagi, hati begitu lapang dan bahagia ketika bangun subuh, tangannya begitu ringan mengambil air wudhu, kakinya begitu ringan melangkah ke masjid. Padahal ia tengah sakit. Yang membedakan keduanya adalah Taufiq, kecintaan pada iman, melihat iman sebagai sesuatu yang sangat indah untuk diluputkan gara-gara melanjutkan tidur.

Mendapatkan Taufiq berupa keimanan dan amal shalih, adalah jenis Taufiq yang agung.

[…وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ. [الحجرات: 7

“…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”. [QS. al-Hujuraat: 7]

Ibnul Qayyim rahimahullaah menafsirkan ayat di atas:

“يخاطب اللهُ جل وعلا عباده المُؤْمِنِين، فيقول: لولا توفيقي لَكُمْ لما أَذْعَنَتْ نُفُوسُكمْ لِلإيمان، فلم يكن الإيمان بمشورتكم وتوفيق أنفسكم، ولكني حببته إليكم وزينته في قلوبكم، وكرَّهت إليكم ضده الكفر والفسوق

“Allah mengungkapkan kepada para hamba-Nya yang mukmin; kalau bukan karena Taufiq-Ku untuk kalian, niscaya jiwa kalian tidak akan tunduk untuk beriman. Sehingga, iman belum menjadi penasehat (hidup) kalian. Hanya saja Akulah yang telah menjadikan iman itu sesuatu yang indah, sesuatu yang kalian cintai di hati kalian. Dan Aku yang menjadikan hati kalian benci pada kekufuran dan kefasikan.” [Madaarij as-Saalikiin: 1/447]

Taufiq hanya ada di tangan Allah

Allah berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [QS. al-Qashas: 56]

Syu’aib ‘alaihisaalam berkata sebagaimana diabadikan dalam al-Quran:

…وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“…Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.” [QS. Hud: 88]

Karena Taufiq berada di tangan Allah, maka wajib memintanya kepada Allah semata. Itulah sebabnya Rasulullah ﷺ mengajarkan kita do’a untuk meminta Taufiq. Beliau bersabda:

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Doa ketika genting; yaa Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan, maka janganlah Engkau menyandarkan diriku pada diriku sendiri, jangan, walau sekejap mata. Perbaikilah keadaanku seluruhnya, tidak ada Ilaah yang berhak diibadahi dengan Haq kecuali hanya Engkau.” [Shahiih al-Jaami’ ash-Shagiir: 3388]

 

Wallahu’alam.

 

***

Abu Ziyân Johan Saputra Halim
(Pimpinan redaksi Buletin Al Hujjah)

Leave a Comment