TENTANG MAKHLUK ALLAH BERNAMA GEMPA

Duhai “Gempa #26”

Malam itu, Ahad (5/8/2018, di waktu ‘Isya) santriwati sebuah Pondok Tahfizhul Qur’an tengah berkumpul di sebuah ruang asrama. Tiba-tiba bumi mengamuk dahsyat. Memuntahkan energi setara 7.0 magnitudo. Tembok-tembok asrama mulai retak menjalar. Tak ada waktu lagi membuka satu-satunya pintu yang tengah tertutup rapat. Maut di depan mata. Anak-anak perempuan penghafal Al-Qur’an itu akan terkubur hidup-hidup reruntuhan bangunan. Tiba-tiba salah satu sisi tembok, ambruk. Ambruk sebagian. Membentuk lubang menganga di tengah. Seluruh santriwati keluar melalui lubang tembok tersebut. Sesaat kemudian, bangunan asrama ambruk berkalang tanah. Mereka semua selamat.

Empat hari berselang….

Siang hari, Kamis (9/8/2018, 13.25 Wita), seorang karyawan berada dalam sebuah gedung tempat ia bekerja. Bersama kawan-kawannya. Tiba-tiba bumi berguncang hebat. Menggelegarkan magnitudo 6.2. Dia lari menyelamatkan diri. Kawan-kawannya tertinggal di dalam. Sesampai di luar, sebagian atap bangunan rubuh menimpa kepalanya. Bukan lari dari maut, ternyata dia lari menjemputnya. Kawan-kawan yang masih di dalam, justru selamat.

Dua kisah nyata yang berbeda. Di satu pulau yang sama. Lombok. Mengisahkan satu kesimpulan yang sama pula. Bahwa kematian, saat dia datang, tak ada celah untuk mengelak. Manakala belum waktunya ia menghampiri seseorang, sepasti apapun “matematika kematian”, takkan mampu merenggut kehidupan.

Hei gempa…!! kau itu makhluk Allah. Kami juga. Kita sama-sama berada di bawah langit kerajaan-Nya yang Maha Luas. Kau itu hamba, kami juga hamba. Kau tunduk di bawah titah-Nya, kami juga menyerah pasrah di hadapan kedigdayaan-Nya. Kau tidak datang semaumu, kau datang atas perintah-Nya. Kau tidak datang karena kemarahan “Penunggu Rinjani”. Kau tidak datang karena Rinjani akan “disucikan” oleh para “tetua” nggak jelas itu. Kau datang sekehendak Rabbmu yang juga Rabb kami. Allah… Allah… Jalla jalaaluh.

Jangankan Lombok yang kecil dan mungil ini. Semesta langit dan bumi pun, akan hancur sirna jika Allah tidak menahannya:

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Sungguh, Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap; dan jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain Allah. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. [QS. Fathir: 41]

Kau, duhai gempa, juga tidak datang demi mengiyakan ramalan si dajjal tukang ramal. Kau tidak datang karena prediksi ini dan itu yang tak berdasar. Kau tidak datang demi membenarkan omong kosong tukang cocokologi (yang mencocok-cocokkan kejadian gempa dengan tanggal 26). Kau datang karena perintah Rabbmu. Maka tak ada tempat berlari dari siksa-Nya, kecuali berlari kembali kepada-Nya.

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

Maka berlarilah kalian (segera) menuju Allah. [QS. adz-Dzaariyaat: 50]

Kedatanganmu wahai gempa, tak sedikitpun mempercepat ajal kami. Tanpa kehadiranmu, ajal kami pun tak bisa ditangguhkan barang sesaat. Yang ditakdirkan terluka, ya terluka. Yang ditakdirkan selamat, ya selamat. Yang ditakdirkan mati, ya mati. Bahkan di posko yang aman pun tiba-tiba seseorang bisa menjadi mayit. Si mayit justru bukanlah korban gempa yang dibantu, tapi relawan yang membantu.

Jika saatnya tiba, kematian tak pandang bulu, tak dibatasi tempat dan waktu. Jika belum saatnya, seribu hentakan lempeng Flores sekalipun, takkan mampu merenggut jiwa kami, bahkan takkan mampu melukai kami sedikitpun jika itu tidak ditetapkan oleh Rabb kami.

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad ﷺ), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” [QS. at-Taubah: 51]

 

Wallahu’alam

***

✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim
(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah)

Leave a Comment