INTISARI KHUTBAH ‘IEDUL ADHA 1439 H

Beberapa Intisari Khutbah ‘Iedul Adha 1439 oleh Ust. Mukti Ali Abdulkarim, di Mataram – Lombok

Sebesar apapun musibah yang menimpa kita, tidak sebesar musibah dicabutnya iman dan aqidah yang Haq dari dada-dada kita.

وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

“Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu (wahai Muhammad ﷺ), niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka (orang-orang kafir itu)” (QS. Al-Isra’: 74)

Ayat diatas menggambarkan betapa musibah yang terjadi pada Aqidah, adalah musibah yang besar, sampai-sampai Rasulullah ﷺ saja Allah sebut akan condong kepada orang kafir jika bukan karena Allah yang meneguhkan Aqidah beliau di dalam hati.

Musibah yang menimpa kaum muslimin saat ini, adalah musibah yang besar. Namun musibah yang terbesar adalah musibah yang menimpa agama.

Hanya Allah yang mampu mengangkat musibah ini. Maka kita harus kembali kepada-Nya. Kembali kepada Allah dengan tauhid, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya. Bukan kembali pada kuburan dan tempat-tempat yang dikeramatkan. Rasulullah ﷺ bersabda,

اللهم لا تجعل قبري وثنا لعن الله قوما اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

”Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (yang disembah). Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai temnpat ibadah”. (HR. Ahmad no. 7358. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Tahdziirus Saajid, hal. 25).

Jangan karena musibah ini kita lupa dengan shalat. Tegakkan shalat berjama’ah di posko-posko pengungsian. Karena dengan shalat, kita sejatinya tengah menyongsong bantuan dari Allah. Demikianlah cara orang-orang beriman mencari dan meminta pertolongan Dzat Yang Maha Kuat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ {45} الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya.” (QS. al Baqarah: 45-46)

Jangan karena musibah, kita yang memiliki kemampuan justru enggan membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Justru dengan membantu, kita akan dibantu oleh Allah. Karena Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah ta’ala menolong seorang hamba selagi hamba tersebut menolong sesamanya.” Beliau juga bersabda: “Barang siapa menolong saudaranya yang membutuhkan maka Allah ta’ala akan menolongnya.” (HR. Muslim)

Kasihilah orang-orang beriman, anak-anak yatim, dan orang-orang lemah. Karena dengan demikian, kita akan disayangi oleh Allah. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Jika Allah mengasihi dan menyayangi hamba-Nya, mustahil Dia akan menurunkan adzab-Nya.

Musibah ini adalah bentuk kasih sayang Allah pada orang-orang beriman yang bertauhid dan mengikuti Rasulullah ﷺ.

Untuk itu, jangan karena musibah ini, kita justru lari dari ketaatan, menjauhi majelis ilmu. Justru sekarang lah saatnya, muslimin di puncak kebutuhannya terhadap ilmu syar’i, bimbingan agama yang lurus, taushiyyah yang menggugah untuk kembali kepada Allah. Sampaikanlah pesan-pesan ketaatan pada Allah untuk segenap kaum muslimin, keluarga kita, tetangga kita, dan masyarakat kita.

Berikan nasehat, agar wanita-wanita muslimah menjaga aurat mereka, mengenakan pakaian syar’i mereka. Jauhi kemaksiatan yang mengundang murka Allah.

Semoga dengan ini, Allah sudi mengangkat musibah ini.

 

***

Sebagian Intisari Khutbah Idul Adha 1439, Ust. Mukti Ali Abdulkarim hafizhahullaah,

Lapangan Atletik Mataram – Lombok. Penyelenggara: Yayasan al-Hunafa’ Mataram.

 

Disadur secara bebas tanpa merubah makna oleh:

✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Leave a Comment