SUKU BUNGA YANG RENDAH TETAP SAJA RIBA

Riba & Inflasi (merosotnya daya beli mata uang)

Kenapa mata uang semakin hari semakin tidak ada nilainya dan semakin merosot daya belinya?? Pakar-pakar ekonomi dunia, dari yang Muslim sampai yang Jewish (Yahudi), semuanya ijma’/ sepakat sehaluan; menunjuk sistem ekonomi ribawi akar permasalahannya.

Logikanya sederhana; Bank Ribawi memberikan pinjaman ke produsen untuk modal usaha. Bank tidak mau tahu, uang pinjaman 1 Milyar harus balik utuh ditambah 25% bunganya, sekitar 1.25 Milyar. Kira-kira bunga yang 250 juta itu, secara “pasti” bagaimana cara mendapatkannya. Padahal kita tahu sendiri bahwa, tidak ada yang pasti dalam urusan laba/rugi dunia usaha. Produsen akan menambahkan 250 juta itu ke biaya produksi. Lanjut, produsen akan menambahkan 250 ampe 500 juta lagi ke biaya produksi tersebut untuk memperkecil resiko. Buat jaga-jaga menurut mereka.

Bayangkan jika kasus tersebut terjadi pada ribuan produsen barang-barang kebutuhan pokok yang vital bagi masyarakat, dari sembako hingga obat-obatan dan alat-alat bantu kesehatan. Hasil akhirnya bisa kita tebak bersama, harga barang–di berbagai sektor–yang bertambah mahal dan mencekik. Tsunami Inflasi pun tak terelakkan.

Sebagian orang yang menukar posisi otak mereka dengan dengkul berkata; “kalau suku bunga kecil, bunga halal”. Suku bunga yang rendah tetap saja riba. Justru ketika diturunin, suku bunga ibarat perempuan jalang yang seksi. Mudah didapat, menggiurkan dan membangkitkan gairah syaithaniyyah para pemuja uang. Mereka berbondong-bondong akan mengajukan pinjaman ke Bank Ribawi. Ibarat artis dangdut sedang naik daun, Bank kebanjiran orderan. Akhirnya bank tergiur pula untuk memberikan kredit dengan nilai yang lebih besar dari jumlah uang yang mereka miliki secara fisik. Ini mendorong penerbitan mata uang tambahan yang tidak diimbangi peredaran barang hasil produksi. Lagi-lagi hasil akhirnya bisa kita tebak bersama. Sebanyak apapun uang yang beredar, tetap tiak ada nilainya, dikarenakan barang yang ingin dibeli tidak meningkat di pasaran. Inflasi juga ujung-ujungnya.

Alhasil, suku bunga (baca: riba), baik besar ataupun kecil, tetap saja mendorong laju inflasi.

Ditambah lagi, semua orang ingin enaknya saja, bergerak di sektor permodalan, pembiayaan dan finance, namun ingin menjauh dari resiko usaha. Memberikan pinjaman, kemudian berharap untung lewat bunga, tanpa harus bekerja, untung mengalir terus, dengan nilai resiko nol. Sangat menggiurkan bukan..?? Ya, sekaligus lahan subur tumbuhnya mental-mental pemalas. Akhirnya sektor riil menjadi mati. Barang tidak nampak diproduksi, namun uang beredar banyak. Apalah arti nilai uang jika keadaan sudah seperti itu…??

Benar isyarat Allah dalam Al-Quran; harta riba akan lenyap perlahan-lahan (yamhaqu – mahaqo) dengan kehilangan daya belinya.

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” [Al-Baqarah: 276]

Rakyat tambah sengsara. Bank berpikir hanya memberi pinjaman berbunga pada orang-orang kaya. Padahal, orang-orang kaya (produsen) justru membebankan bunga tersebut pada rakyat jelata, dengan menaikkan harga barang produksi. Inilah kezaliman sistematis yang menghancurkan ekonomi global.

Fallaahul musta’aan wa-‘alaihi at-tuklaan

 

***
✍ Johan Saputra Halim, M.H.I.
(Pimpinan Redaksi Buletin Al-Hujjah)

Leave a Comment