DOSA-DOSA BESAR PENYEBAB BENCANA

Allah telah menegaskan bahwa apapun musibah yang menimpa kita, itu pasti disebabkan oleh dosa yang pernah kita lakukan, baik dosa besar maupun kecil.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [asy-Syûra/42:30].

Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يُصِيْبُ رَجُلاً خَدْشُ عُوْدٍ وَلاَ عَثْرَةُ قَدَمٍ وَلاَ اِخْتِلاَجُ عِرْقٍ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَمَا يَعْفُو اللهُ أَكْثَرُ

“Tidaklah sepotong kayu melukai seseorang, telapak kaki tergelincir, dan urat terkilir, melainkan itu disebabkan karena dosa. Dan apa yang Allâh maafkan lebih banyak lagi.” [HR. Ibnu Jarir. Lihat Shahîh al-Jâmi’ush-Shaghîr, no. 5624, 5639, 5694, 7608, 7609]

Intinya, dosa adalah pengundang malapetaka. Untuk itu, agar malapetaka tak lagi datang menimpa, hindarilah dosa-dosa membinasakan berikut ini:

Pertama: Berbuat Syirik

Allah berfirman kepada kaum Nabi Nuh ‘alaihissalaam yang tidak mau meninggalkan peribadatan pada orang-orang shalih mereka yang telah wafat:

“Disebabkan dosa-dosa (syirik) mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.” [QS. Nuh: 25]

Ini adalah azab di dunia sebelum azab di akhirat yang lebih dahsyat lagi. Itu gara-gara mereka tidak mau meninggalkan peribadatan pada Suwaa, Yaghuuts, Ya’uuq, dan Nasr. Mereka adalah orang-orang shalih yang telah wafat lalu diagungkan melampaui batas dan dipertuhankan.

Kedua: Pilih-pilih dalam mengimani syariat Allah

Al-Quran berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) * Mereka itulah orang-orang kafir yang sesungguhnya. Kami telah menyiapkan bagi orang-orang yang kafir siksa yang pedih.” [Surat An-Nisa (4) ayat 150-151]

Ketiga: Menyalahi perintah Rasulullah

Allah berfirman;

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah (Rasulullah) takut akan ditimpa musibah atau ditimpa adzab yang pedih.” [An Nur:63].

Orang yang mengamalkan bid’ah dalam agama, tergolong orang yang menyalahi perintah Rasulullah. Contoh bid’ah dalam agama adalah; menyusupkan ritual adat ke dalam ritual ibadah. Ini terlarang dan tercela di mata syariat.

Keempat: Maraknya penyanyi, alat musik, dan khamr (miras)

Jika gemerlap kemaksiatan sudah merajalela dan sudah dianggap biasa, maka Allah akan menurunkan adzab-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:

في هذه الأمة خسف ومسخ وقذف. فقال رجل من المسلمين: يا رسول الله ومتى ذلك؟ قال: إذا ظهرت القيان والمعازف, وشربت الخمور

“Di tengah umat ini akan ada adzab berupa pembenaman (ke dalam bumi), perubahan wajah, dan hujan batu. Seseorang dari kalangan muslimin bertanya; ‘wahai Rasulullah, kapan itu akan terjadi?’ Rasul menjawab: ‘jika telah bermunculan penyanyi wanita, alat-alat musik, dan miras yang diminum.” [at-Tirmidzi: 2212, di-hasan-kan oleh asy-Syaukaany (Nailul Authaar: 8/262)]

Kelima: Mengingkari takdir Allah dan menebar keraguan tentang Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

إنه سيكون في أمتي مسخ وقذف، وهو في الزندقية والقدرية

“Akan terjadi adzab berupa perubahan bentuk wajah dan hujan batu pada umatku ini, yang akan menimpa orang-orang yang menebarkan keraguan tentang Islam dan menentangnya, serta pada mereka yang menolak takdir Allah.” [Ahmad: 6208, di-shahihkan oleh as-Suyuuthi (al-Khashaa-ish al-Kubraa: 2/148) dan Ahmad Syaakir (9/74)]

Keenam: Homoseksual (Liwaath)

Allah telah memerintahkan Jibril ‘alaihissalam untuk mengangkat perkampungan kaum Nabi Luth dengan satu sayapnya. Kampung itu dikeruk oleh Jibril lalu diangkat terbang ke langit, sampai-sampai penduduk langit mendengar lolongan anjing kampung tersebut. Kemudian Jibril menjungkirbalikkan kampung tersebut, lalu menghempaskannya ke bumi. Kemudian kampung tersebut dihujani dengan batu. Inilah hukuman bagi kaum Luth (Sodom) yang melakukan penyimpangan seksual dengan sesama jenis (Homo).

Allah berfirman:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” [Surat Hud (11) ayat 82]

Ketujuh: Kemaksiatan yang merebak dan sudah dianggap biasa

Jika aurat dan lekuk tubuh sudah lazim dipamerkan, perzinaan perilaku homo dan lesbi sudah biasa, pornografi jadi koleksi di HP, kezaliman gampang ditutupi dengan sogokan, korupsi mentradisi, kehalalan tidak dihiraukan, miras sudah bebas diperjualbelikan, hura-hura dan begadang sudah lumrah sekalipun shalat subuh ditinggalkan, riba merebak bahkan dihalalkan, judi bola jadi seru-seruan; maka di saat itulah akan turun siksaan yang berlaku merata. Tidak hanya menimpa orang-orang yang bermaksiat saja, tapi juga orang-orang yang shalih dan anak-anak tak berdosa akan kena imbasnya.

Istri Rasulullah, Zainab binti Jahsy pernah bertanya kepada Nabi tentang adzab Allah yang menimpa sementara di sekeliling kita masih ada orang-orang shalih. Rasulullah menjawab:

نعم إذا كثر الخبث

“Ya (adzab itu tetap akan menimpa), manakala kemaksiatan sudah marak.” [al-Bukhari: 3168, Muslim: 2880]

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمِ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara jika kalian mengalami lima perkara ini—dan aku mohon perlindungan kepada Allâh agar kalian tidak mengalaminya–: (1) Tidaklah perbuatan keji (seperti perzinaan, minum khamr, perjudian, dan lainnya) dilakukan dengan terang-terangan pada suatu masyarakat, kecuali akan mewabah penyakit thâ’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak pernah menimpa orang-orang dahulu yang telah berlalu. (2) Tidaklah mereka berbuat culas (dalam transaksi) dengan mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan menyusahkan, dan kezaliman penguasa. (3) Tidaklah mereka menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Andaikata bukan karena—kasih sayang Allah pada—binatang-binatang melata, niscaya manusia tidak akan diberi hujan. (4) Tidaklah mereka membatalkan perjanjian Allâh dan perjanjian Rasul-Nya (yaitu dengan menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya), melainkan Allah akan menjadikan musuh dari luar mereka (yaitu orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian hak mereka. (5) Dan selama pemimpin-pemimpin (suatu negeri atau masyarakat) tidak berhukum dengan kitab Allah, dan justru memilah-milih hukum yang Allâh turunkan, kecuali Allah akan menjadikan permusuhan terjadi di antara sesama mereka.” [Ibnu Majah: 4019, as-Silsilah ash-Shahihah: 106]

Kedelapan: Sombong dan ingkar pada aqidah yang dibawa oleh Rasul

Orang-orang sombong dari kaum Nabi Shaleh mengatakan (artinya): “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu” [QS. al-A’raaf: 76].

Maka Allah berfirman tentang adzab yang menimpa mereka:

“Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”. [QS. al-A’raaf: 78]

Kesembilan: bertindak zalim, memutus silaturahmi, khianat, dan dusta

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِثْلُ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada suatu dosa yang lebih layak untuk disegerakan hukumannya oleh Allah bagi pelakunya di dunia daripada dosa kezaliman dan memutus silaturahmi, ditambah lagi akan ada hukuman di akhirat yang Allah simpan untuknya.” [Abu Dawud: 4902, dishahihkan al-Albani]

Dalam riwayat ath-Thabrani (as-Silsilah as-Shahihah no. 10642) yang semakna dengan hadits ini, terdapat tambahan jenis dosa; dusta dan khianat.

Kesepuluh: durhaka pada orang tua

Rasulullah ﷺ bersabda:

اثنان يعجلهما الله في الدنيا: البغي وعقوق الوالدين

“Ada dua dosa yang akan disegerakan hukumannya oleh Allah di dunia; kezaliman dan durhaka pada orang tua.” [lihat as-Silsilah as-Shahihah no. 1120]

 

 

***

✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim, M.H.I.
(Pimpinan Redaksi Buletin Al-Hujjah)

Leave a Comment