PERJALANAN ILMU DARI KAMPUNG KE KAMPUNG

Kisah Tadi Malam di Kampung Tenige

Nama kampung ini, Tenige. Salah satu desa di Lombok Utara yang terdampak gempa sangat parah. Berada di atas perbukitan. Menjelang Maghrib, angin kencang adalah sapaan setiap senja di kampung ini. Dan itu berlangsung sampai fajar mulai menghangati bebukitan.

Sepanjang jalan, terlihat reruntuhan rumah masih menumpuk, seakan masih ingin bercerita betapa mencekamnya malam itu, Ahad 5 Agustus 2018

Alhamdulillah, ditemani Pak Ahmad Jauhari yang cekatan menyibak jalan-jalan meliuk dan menanjak dengan mobil Posko Ponpes Abu Hurairah Peduli, tadi malam saya akhirnya bisa bersilaturahmi dengan kurang lebih 150 orang jama’ah Masjid Babussalam Tenige. Berangkat selepas Shalat Ashar dari Mataram, kami sampai ketika adzan Maghrib tengah dikumandangkan. Masjid Babussalam ternyata sudah rata dengan tanah. Saya bahkan tidak mengenali di lokasi tersebut pernah ada rumah Allah yang berdiri. Namun masyarakat segera membangun kembali Masjid Baabussalam di lokasi berdekatan dengan material baja ringan dan spandek bantuan para Muhsinin. Yang penting ada Masjid tempat warga berjama’ah.

Selepas Shalat Maghrib berjama’ah, kegiatan dilanjutkan dengan kajian. Inti materi yang saya sampaikan adalah:

  • Allah itu Maha Terpuji di setiap keadaan, termasuk di saat Dia menguji kita dengan musibah.
  • Jika dibandingkan dengan anugerah keimanan dan Islam yang masih ada di dada kita, kerugian akibat bencana ini tidak ada apa-apanya.
  • Hanya Islam agama yang diridhoi Allah. Bayangkan jika hidayah Islam tidak menghampiri kita, padahal itu sangat mungkin terjadi, mengingat kita terpisah jarak dan waktu yang sangat jauh dengan Rasulullah ﷺ.
  • Maka kita wajib bersyukur di setiap keadaan baik di saat duka apalagi suka. Salah satu cara bersyukur yang terbesar adalah mendalami ilmu tentang Islam.
  • Para Malaikat merendahkan sayap-sayap mereka di hadapan para penuntut ilmu agama Allah. Makhluk di langit dan di bumi, bahkan ikan di lautan, semuanya memintakan ampun buat orang yang mendalam pengetahuannya tentang agama Allah. Bahkan untuk urusan tiket utama kita ke surga, yaitu kalimat “Laa-ilaaha illallaah”, Allah memerintahkan kita untuk mengilmuinya terlebih dahulu, sebagaimana disebutkan dalam Qu’an surat Muhammad ayat 19.
  • Ilmu tentang Islam yang paling agung adalah mengenal Allah dan hak Allah.
  • Hak Allah yang terbesar adalah tauhid, agar hanya Dia saja yang diibadahi dan disembah, tidak selain-Nya. Semua ibadah, baik ibadah hati maupun ibadah lahiriah, wajib ditujukan untuk Allah dan dilakukan karena-Nya.
  • Mempersembahkan sebagian ibadah (apalagi seluruhnya) kepada selain Allah adalah sebab terbesar turunnya bencana, sebagai hukuman dan teguran dari Allah. Contoh nyata yang kita saksikan, bagaimana orang-orang yang berkurban untuk selain Allah (walaupun atas nama tradisi dan adat), Allah kirimkan untuk mereka gempa, dilanjutkan dengan tsunami dan ditelan bumi.
  • Itu dikarenakan banyak di antara kita yang tidak paham hakikat “Laa-ilaaha illallaah”. Sehingga tidak jarang kita justru bergelut dengan pembatal-pembatal Laa-ilaaha illallaah.
  • Laa-ilaaha illallaah punya dua rukun; an-Nafyu dan al-Itsbaat. Keduanya harus ada pada diri kita, barulah kita bisa disebut muslim. Dalil kedua rukun ini banyak di dalam Al-Quran. Di antaranya adalah firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 256.
  • an-Nafyu sama dengan menafikan adanya ilaah yang berhak disembah, dan al-Itsbaat sama dengan menetapkan hanya Allah saja yang berhak disembah dan diibadahi dengan Haq. Jika hanya an-Nafyu saja, kita sama dengan atheis. Jika hanya itsbaat saja namun tidak mengingkari tuhan-tuhan yang diibadahi selain Allah, maka kita sama dengan orang musyrik di zaman Nabi, mereka mengakui Allah, namun menduakan-Nya dalam ibadah.
  • Jika bisa memahami Laa-ilaaha illallaah dengan benar, dan sering mengucapkannya ditambah dengan mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya, maka InsyaAllah kita akan diberi Taufiq untuk bisa mengucapkan kalimat Laa-ilaaha illallaah di akhir hayat kita.

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة

“Siapa yang menjadikan Laa-ilaaha illallaah sebagai ucapan terakhirnya sebelum mati, maka dia akan masuk surga.”

Selepas kajian dan Sholat ‘Isya, waktunya bagi-bagi hadiah. Ada banyak doorprize buat jama’ah yang hadir dan bisa menjawab pertanyaan. Salah satunya yang menarik perhatian adalah seorang bocah cilik yang mampu membaca Surat adh-Dhuha dari hafalannya dengan cukup baik. Anak-anak kampung Tenige begitu antusias menghafal Al-Quran. Semoga Allah menjadikan mereka pemimpin-pemimpin mukminin dan muttaqiin di masa depan. Aamiin Yaa Rabb.

Sekian cerita dari Tenige-KLU

 

***
✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

(Pimpinan Redaksi Buletin Alhujjah)

Leave a Comment