KALIMAT TAUHID DIBAKAR, ADA APA…?

Apapun alasannya, sulit rasanya membayangkan ada mukmin yang bakal tega secara sadar menghinakan dan membakar Kalimat Tauhid. Jika alasannya untuk membela Nusantara, maka tak ada alasan yang lebih kontradiktif dari alasan tersebut. Betapa tidak, Nusantara ini tidak akan lahir tanpa Rahmat Allah melalui darah-darah mujahidin yang memekikkan Kalimat Tauhid dan Takbir.

كل إناء بما فيه ينضح

“Kullu inaa-in bimaa fiihi yandhohu”

Demikian petuah bijak Arab menyebutkan. Maknanya; “bejana, hanya akan menumpahkan apa yang ditampungnya”. Jika comberan yang ditampung, maka comberan pula yang akan tumpah. Jika kesturi, maka kesturi. Mustahil bejana berisi comberan akan menumpahkan kesturi. Mustahil juga sebaliknya.

Jika hati penuh dengan comberan, maka aksi comberan pula yang akan tampil. Jika hati terbakar kebencian terhadap Kalimat Tauhid, jangan heran jika tangan-tangan nista bakal tega membakar Kalimat Tauhid.

Mereka tak kuasa menyembunyikan kebusukan isi hati mereka. Akhirnya Allah singkap juga. Mulut mereka telah menyanyikan senandung kebencian. Itu belum seberapa, yang mereka simpan di dalam dada, lebih dahsyat lagi kebusukannya:

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ

“…Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat lagi…” [al-Imran: 118]

Kalimat Tauhid adalah pemersatu. Kenapa kalian bakar…?? Tidakkah kalian takut Allah bakal membakar kalian…?? Dulu, kepada Ahlul Kitab saja, Nabi ﷺ mengajak mereka bersatu dengan kalimat Tauhid. Lantas kenapa di hadapan 200an juta umat muslim Nusantara–dan dunia–kalian justru membakar kalimat pemersatu tersebut…?? Yang kalian lakukan justru bakal mengoyak-ngoyak Nusantara. Inikah representasi “Islam Nusantara” yang kalian bangga-banggakan itu…??

Kalian selalu membangga-banggakan “Islam Nusantara” yang menurut kalian santun-berbudaya serta jauh dari radikalisme itu. Lantas, apakah membakar Kalimat yang paling sakral di hati umat Islam adalah aksi yang santun berbudaya menurut kalian..?? Bahkan akal sepandir-pandir orang, tak akan menganggapnya santun-berbudaya. Jika aksi tersebut bukan radikalisme menurut kalian, maka sungguh kita sudah tak mampu lagi mendefinisikan apa itu radikalisme. Sebab, tak ada aksi yang lebih radikal dan ekstrim dari aksi kalian membakar Kalimat Tauhid.

Wajar orang-orang mukmin marah. Kemarahan itu justru tanda simpul iman yang kuat. Rasulullah ﷺ bersabda:

أوثق عرى الإيمان: الحب في الله والبغض في الله

“Simpul ikatan iman yang paling kuat adalah; cinta karena Allah, dan marah karena Allah” [HR. Ahmad dan al-Hakim]

Ya, marah karena syiar Allah yang teragung dihinakan dengan dibakar. Jika marah karena Kalimat Tauhid dibakar adalah simpul iman yang kuat, lantas bersuka cita membakar Kalimat Tauhid itu apa namanya..??

Pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar ajaran Allah adalah tanda ketakwaan hati:.

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati. [Al-Hajj: 32]

Syiar Allah yang terbesar adalah Kalimat Tauhid. Jika mengagungkan Kalimat Tauhid adalah tanda ketakwaan, lantas menghinakan Kalimat tersebut kita sebut apa….?? Apa namanya kalau bukan kedurhakaan pada Allah Penguasa Semesta Alam…??

Orang-orang kafir di negeri ini tak ada yang berani bicara miring perihal Kalimat Tauhid. Kalian justru suka cita membakarnya dan mengekspos dengan video.

Dulu, orang-orang munafik sembunyi dalam kekafiran mereka. Hari ini, al-munaafiquun terang-terangan mengkampanyekan ingkar pada syariat Allah dan Rasul-Nya. Kemunculan mereka ini, dikarenakan kaum muslimin sudah mulai sadar dan mau kembali kepada syari’at Allah. Mereka tak ridho. Segala upaya mereka kerahkan untuk menjauhkan manusia dari Islam yang hakiki. Dicetuskanlah model “Islam Nusantara” sebagai alternatif “Islam” yang pada hakikatnya ini adalah Liberalisme dan Pluralisme yang berganti baju. Ini adalah model Liberalisme dan Pluralisme radikal bin ekstrim, karena sudah bukan wacana lagi, tapi sudah berani melancarkan aksi “radikal” dan “intoleran” terhadap penganut agama mayoritas di Nusantara ini.

Bagi yang masih merasa beriman, janganlah diam melihat kemungkaran ini. Sampaikan nasehat. Berikan peringatan. Perkuat dakwah Tauhid dan Sunnah. Ajak keluarga dan kerabat untuk kembali kepada Allah. Kembali meramaikan masjid untuk mempelajari agama Allah yang agung ini. Tak perlu membalas aksi radikal mereka dengan aksi kekerasan dan main hakim sendiri. Biar pihak berwenang yang turun menangani mereka. Jika manusia berbondong-bondong kembali pada Islam yang agung ini, justru inilah yang bakal membuat mati kutu para pembenci syariat itu. Api amarah yang membara di dalam dada mereka, akan membakar diri mereka sendiri.

قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Katakan!, “Matilah kamu karena kemarahanmu itu!” Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” [al-Imran: 119]

Semoga Allah mengembalikan para pembakar Kalimat Tauhid itu kepada hidayah. Dan semoga dengan tulisan ini, kita punya alasan di hadapan Allah kelak, ketika ditanya; “apa sikapmu ketika melihat kalimat syahadat-mu dihinakan dan dibakar…??” Sebab jika kita diam, kita pula yang bakal kena getahnya. Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) di hadapan Tuhanmu, dan agar mereka (kembali) bertakwa.”

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang orang berbuat jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” [Al-A’raf: 164-165]

 

 

***

✍ Johan Saputra Halim

(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah)

Leave a Comment