FIQIH TARBIYYAH DARI KALIMAT TA’AWWUZ

Sebelum membaca al-Qur’an kita membaca:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

“Makna أعوذ بالله من الشيطان الرجيم adalah: aku berlindung kepada Allah dari Syaithan yang terkutuk yang akan memudharatanku baik dalam urusan agamaku ataupun urusan duniaku atau mencegahku dari berbuat kebajikan atau mendorongku untuk berbuat apa yang dilarang Allah.” [Tafsir Ibnu Katsir: 1/175]

Syaithan itu ada yang dari kalangan jin, manusia dan hewan.

Allah berfirman (artinya):

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” [QS. Al-An’am: 112].

Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya):

“Shalat akan terputus (batal) jika dilalui oleh wanita (yang sudah mencapai masa haid), keledai dan anjing hitam. Akupun bertanya: Wahai Rasulullah apa bedanya anjing hitam dengan anjing merah dan kuning ? Beliau menjawab: anjing hitam adalah syaithan.” [HR. Muslim]

Allah berfirman (artinya):

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” [QS. Al-A’raf: 27].

Oleh karena itu untuk menghadapi syaithan dari kalangan manusia kita diperintahkan untuk amar ma’ruf nahi mungkar, membalas dengan kebaikan dan mengucapkan hal-hal yang baik. Tapi untuk menghadapi syaithan dari bangsa jin kita diperintahkan untuk memohon perlindungan.

Allah berfirman (artinya):

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.” [QS. Al-A’raf 199-200].

Fiqh pendidikan yang harus kita tanamkan dalam diri dan keluarga kita:

Pertama, Selayaknya upaya pendidikan didahului dengan upaya penyucian/penyaringan dari segala macam yang mengganggu tertanamnya ilmu dengan baik.

Prinsip ini dalam ilmu dakwah dikenal dengan التصفية والتربية yang artinya penyucian/penyaringan dan pembinaan. Segala hal buruk yang merusak pendidikan seperti tontonan-tontonan, baik acara televisi, maupun internet dan lain-lain disingkirkan. Jika anak harus nonton sesuatu, dipilihkan yang baik, dibatasi waktunya dan diawasi sehingga tidak merusak fitrahnya sebagai anak. Bahkan yang berbau agama pun harus disaring, karena banyak orang mengajarkan keburukan dibalut dengan agama dan ceramah, padahal isinya adalah kesesatan, kerancuan pemikiran dan kesalahan dalam menafsirkan agama yang lurus ini.

Ingat Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya):

“Tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan di atas fitrahnya, orang tuanya lah yang membuat ia Nashrani, Yahudi atau Majusi.” [HR. Muslim]

Orang tua yang dipersalahkan baik secara langsung mengajarkan keburukan atau secara tidak langsung membiarkan keburukan masuk dalam rumah tangganya.

Kedua, Salah satu prinsip dasar pendidikan adalah menanamkan dalam diri kita bahwa satu-satunya pelindung dan penolong kita dalam segala urusan kita adalah Allah.

Kita harus terapkan keyakinan tersebut, dengan membaca doa-doa, dzikir pagi petang, doa masuk WC dan lain-lain. Kita harus mewanti-wanti diri kita dan keluarga kita agar jangan sampai kita bersikap seperti sebagian orang yang membaca isti’adzah tapi tetap juga meminta perlindungan kepada jin penunggu tempat-tempat tertentu sepeti lautan, tanah kosong, pepohonan rindang dan lain-lain, baik dengan menggunakan sesajen atau kepala sapi atau bintang tertentu. Bahkan ada juga sebagian orang yang menggunakan mantra-mantra warisan nenek moyang dan melupakan kalimat isti’adzah sebagai bacaan yang diajarkan Allah dalam al-Qur’an.

Ketiga, Sedini mungkin setelah memperkenalkan Allah kepada keluarga kita, memperkenalkan Nabinya dan agamanya.

Kita perkenalkan musuh besarnya yaitu syaithan. Sampaikan pada keluarga kita tentang kedengkian dan sumpah mereka untuk menyesatkan manusia. Sampaikan bahwa syaithan bisa membisikkan kejahatan dalam hati kita kapan pun, mereka tidak terlihat, mereka mengalir dalam darah manusia. Jadi tidak heran jika bisikan jahat dari dalam hati kita itu asalnya dari syaithan. Cara menghindarinya adalah dengan membaca isti’adzah.

Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

“sesunggunya syaithan dalam diri manusia mengalir pada aliran darah.” [HR. Al-Bukhari].

Keempat, Selalu (artinya bukan sekali, Allah mengulangnya 3 kali dalam Al-Quran) berikan pesan pada anak dan keluarga kita, jika ada masalah dengan teman atau tetangga, sikap pertama adalah memberi maaf, sikap kedua ajak pada yang baik, atau balas dengan kebaikan. Jika ia tetap ngeyel, tinggalkan jangan lanjutkan perdebatan, percekcokan ataupun perkelahian.

Jika kita menemukan rasa marah dalam hati ketahuilah itu dari syaithan, kalau kita sadar itu dari syaithan maka baca isti’adzah.

Kelima, Pesankan pada anak dan keluarga kita agar jangan pernah mengucapkan kata-kata syaithan kepada orang lain, apalagi melaknat orang lain.

Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya),

“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain)

Keenam, Jika anak kita salah, nasehati mereka dengan baik, jika diperlukan beri hukuman dan jangan mengeluarkan sumpah serapah atau doa laknat. Kita semua adalah panutan mereka. Doakan sebagaimana para ulama mendoakan mereka yang sulit diatur dengan doa:

اللهُ يَهْدِيْكَ ، الله يَحْفَظُكَ

“Semoga Allah membimbingku, semoga Allah menjagamu.”

Wallahu’alam

***

OLEH: UST. FAKHRUDDIN ABDURRAHMAN, LC., M.Pd.

(PIMPINAN PONPES ABU HURAIRAH MATARAM)

Leave a Comment