MENYUCIKAN JIWA DENGAN TAUHID, ITTIBA’ DAN DO’A

Allah Ta’ala bersumpah dengan matahari, dengan sinarnya yang terang benderang di waktu Dhuha. Allah juga bersumpah demi bulan. Allah bersumpah demi waktu siang yang menerangi bumi. Allah bersumpah demi malam yang menyelimuti bumi dengan kegelapan. Allah bersumpah demi langit dan penciptaannya yang begitu menakjubkan. Allah bersumpah demi bumi dan bagaimana dia dibentangkan. Allah juga bersumpah demi jiwa dan proses penyempurnaan penciptaannya, di jiwa tersebut kemudian Allah Ta’ala mengilhamkan jalan kebaikan dan jalan keburukan.

Allah bersumpah dengan 11 ciptaan-Nya yang agung tersebut untuk menegaskan satu hal:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.  وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),  dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” [Qs. asy-Syams: 9-10].

Demikian Allah menunjukkan betapa pentingnya menyucikan jiwa.

Lantas, bagaimana kita bisa menyucikan jiwa ini…??

Pertama; Penyucian jiwa mutlak harus dengan tauhid.

Allah berfirman tentang orang musyrikin yang celaka dalam azab:

وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِيْنَ. الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

Celakalah orang-orang musyrik itu. (yaitu) orang-orang yang tidak menyucikan hati mereka dengan tauhid dan keimanan yang benar, dan mereka ingkar terhadap kehidupan akhirat.” [Qs. Fushilat: 7].

Ibnu Taimiyyah berkata:

“(Tauhid) ini adalah ajaran pokok yang dengannya jiwa-jiwa menjadi suci.” [Majmuu’ al-Fataawa (10/97)].

Maka dengan demikian, mustahil jiwa akan suci jika jiwa atau hati tidak bertauhid, masih memendam keyakinan syirik. Mustahil jiwa akan suci, jika jiwa itu masih bergantung kepada selain Allah, kepada batu, kepada kuburan yang dianggap keramat, kepada keris yang dianggap bertuah, kepada orang Sholeh yang telah mati, kepada jimat yang dianggap mampu menolak bala, kepada arwah leluhur dan nenek moyang, bahkan kepada Nabi dan Malaikat sekalipun. Jiwa yang suci, hanya bergantung kepada Allah. Jiwa yang suci justru membenci segala bentuk peribadatan dan penghambaan yang ditujukan kepada selain Allah. Hati yang suci akan membenci sesajen dan tumbal yang dilarungkan ke laut.

Jiwa yang suci, mustahil mencintai makhluk sama dengan kecintaannya kepada Allah, apalagi lebih mencintai makhluk daripada Allah, ini mustahil ada pada jiwa yang suci.

Jangankan bisa menyucikan, syirik bahkan mematikan jiwa dan menghapus segenap amalan yang bisa menghidupkan dan membersihkan jiwa dari noda dan dosa. Allah mengancam, bahkan kepada Nabi-Nya yang terkasih:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu. Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” [Qs. az-Zumar: 65].

Maka kesucian jiwa mutlak harus diawali dengan tauhid. Memurnikan ibadah dan penghambaan hanya kepada Allah semata.

Kedua; Menyucikan jiwa dengan al-Quran dan as-Sunnah.

Allah, Dialah pencipta segenap jiwa, Dialah yang paling tahu tentang seluk beluk jiwa. Maka hanya Dia yang paling tahu bagaimana menyucikan jiwa, dan apa saja yang bisa mengotorinya. Maka dalam menyucikan jiwa, kita harus kembali pada Wahyu yang Allah turunkan kepada Rasulullah ﷺ. Wahyu tersebut adalah al-Quran dan as-Sunnah. Allah berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [Qs. Ali Imran: 164].

Tentang Al-Quran, Allah telah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” [Qs.  Yunus: 57].

Adapun tentang as-Sunnah, Allah telah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” [Qs. Al-Ahzab: 21].

Berdasarkan ayat ini, maka penyucian jiwa harus dilakukan dengan metode yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Tidak boleh menyimpang dari jalan beliau ﷺ.

Maka segala metode penyucian jiwa yang bersumber dari selain al-Quran dan as-Sunnah, seperti meditasi, yoga, menyendiri di gua dan hutan, atau dengan musik, mengamalkan zikir-zikir khusus lagi rahasia kaum sufi, atau penyucian jiwa yang berkiblat pada teori-teori kafir tentang psikologi jiwa dari kaum liberal sekuler, ini semua tidak akan pernah menyucikan jiwa selama-lamanya, justru itu akan mengotori jiwa dan lambat laun mematikannya.

Ketiga; Menyucikan jiwa dengan doa.

Rasulullah ﷺ pernah berdoa:

اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah berikanlah jiwaku ini ketakwaannya, sucikanlah ia, karena Engkau adalah sebaik-baik yang menyucikan jiwa. Engkau adalah pelindungnya dan pemiliknya.” [HR. Muslim: 2722].

Kesucian jiwa diminta dari Allah semata. Karena Dialah pemilik sekaligus penguasa jiwa tersebut. Dialah pemilik hidayah yang Dia berikan kepada jiwa mana saja yang Dia kehendaki.

 ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

….. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [Qs.  An-Nur: 21].

 

***

Wallahu A’lam

OLEH: UST. JOHAN SAPUTRA HALIM, M.H.I

(PIMPINAN REDAKSI AL-HUJJAH)

 

 

Leave a Comment