KISAH PENYESALAN KEHILANGAN BERGUNUNG-GUNUNG PAHALA

Ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang sosok Abdullah Ibnu Umar radhiallahu anhuma. Dikisahkan di dalam Shahih Al Bukhari dan Muslim bahwasanya Ibnu Umar manakala ada salat jenazah beliau hanya salat saja, setelah salat beliau langsung pulang ke rumah, tidak mengantar jenazah ke pekuburan, disebutkan bahwa beliau menyangka inilah yang sunnah, beliau belum tahu tentang keutamaan mengantar jenazah.

Suatu hari Amir bin Saad bin Abi Waqqash, tengah duduk di samping Abdullah bin Umar. Ketika itu Abdullah bin Umar baru selesai menyolatkan jenazah. Namun beliau tidak ikut mengantar jenazah ke kuburan. Tiba-tiba datang Khabbab, dia berkata kepada Abdullah bin Umar,

يا عبد الله بن عمر ألا تسمع ما يقوله أبو هريرة

“Wahai Ibnu Umar Tidakkah engkau mendengar riwayat yang diucapkan oleh Abu Hurairah…??”

Abu Hurairah pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

منخرج مع جنازة من بيتها وصلى عليها ثم تبعها حتى تدفن . كان له قيراطان من الأجر كل قيراط مثل أحد ومن صلى عليها ثم رجع كان له من الأجر مثل أحد

“Barangsiapa keluar bersama janazah dari rumahnya, kemudian dia menyolatkan jenazah tersebut, kemudian dia mengantar jenazah tersebut sampai jenazah tersebut dimakamkan, maka dia mendapatkan pahala sebesar dua qirath. Setiap satu qirath itu setara dengan gunung Uhud. Siapa yang hanya salat jenazah saja kemudian dia kembali ke rumahnya tidak ikut mengantarkan jenazah ke pekuburan, maka dia hanya mendapatkan pahala sebesar gunung Uhud saja (satu qirath)”.

Tentu saja Ibnu Umar, yang terkenal sangat antusias dan semangat dalam mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, amat terkejut mendengarkan ilmu yang baru ini. Beliau baru mendengarkan tentang keutamaan mengantarkan jenazah. Beliau ingin melakukan klarifikasi, ingin mendapatkan kejelasan, beliau ingin memastikan kebenaran hadits dari Abu Hurairah tersebut.

Ibnu Umar lantas mengutus Khabbab pergi menuju rumah Aisyah Radiallahu ta’ala anha, untuk menanyakan kepada beliau, apakah benar apa yang diungkapkan oleh Abu Hurairah tersebut.

Sembari menunggu kabar dari Khabbab, Ibnu Umar tampak gelisah memainkan batu-batuan kerikil di tangannya, ketika itulah Khabbab datang dan mengabarkan apa yang menjadi jawaban ibunda Aisyah Radiallahu ta’ala anha, beliau mengatakan;

صدق أبو هريرة

“Benar apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah itu.”

Dengan penuh kesal dan begitu menyalahkan dirinya, Ibnu Umar kemudian melempar batu kerikil yang ada di tangannya ke tanah, sambil mengatakan;

لقد فرطنا قراريط كثيرة

“Sungguh selama ini kita sudah kehilangan berqirath-qirath pahala yang sangat banyak”,

Imam an-Nawawi mengatakan ketika mengomentari kisah ini; “lihat bagaimana sahabat begitu menyesal sekali, kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala yang begitu besar, padahal dia tidak tahu. (Orang yang tidak mengamalkan suatu amalan karena tidak tahu itu wajar, tidak tercela apalagi ini bukanlah amalan yang wajib). Namun kendati demikian, lihat betapa sahabat merasa menyesal dan rugi sekali”.

Demikianlah kisah yang singkat ini, tergambar bagi kita betapa para sahabat sangat mencintai sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan itu sekaligus gambaran betapa mereka sangat mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ini adalah kesempurnaan mutaba’ah, kesempurnaan dalam berbakti kepada Allah tabaraka wa ta’ala, sebab amalan-amalan yang sunnah itu akan menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada amalan-amalan yang wajib. Terbiasa mengamalkan Sunnah juga akan meringankan seseorang untuk melakukan amalan-amalan yang wajib. Karena jika yang Sunnah saja dijaga, maka apalagi yang wajib.

Manakala seseorang konsisten dan terus-menerus mengamalkan sunnah tidak ada waktu bagi dia untuk mengamalkan apa yang bukan menjadi sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dengan demikian, maka kebid’ahan atau segala sesuatu yang bukan menjadi amalan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam agama ini, akan mati, kebid’ahan akan mati manakala setiap kita mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

____
✍ Johan Saputra Halim, M.H.I

Leave a Comment